Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴘᴇɴɢᴇɴᴀʟᴀɴ


__ADS_3

Tiga belas tahun kemudian


Pagi yang cerah, sinar matahari mulai menampakan diri. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, mulai bekerja dari pagi hingga malam untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.


Hari masuk sekolah telah tiba. Seorang laki-laki tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dengan kaos seragam yang dikeluarkan begitu saja, dasi yang di pakai asal serta topi yang dipakai terbalik.


Menuruni satu persatu anak tangga, Al tersenyum kecil sambil berjalan menghampiri Bunda dan Papa yang sudah berada di meja makan.


"Pagi Bun, pagi Pa." Alvaro Aldebaran, kini bocah itu sudah tumbuh dewasa. Menyapa kedua orang tuanya.


"Pagi Al, kamu mau sarapan apa?" tanya Rika selaku sang Bunda sambil menyiapkan sarapan. Wanita yang kini akan menginjak usia kepala empat itu masih terlihat muda.


"Roti aja Bunda," jawab Al.


Rika mengangguk dan tersenyum manis, mengambil dua helai roti tawar dan mengoleskan selai coklat, menaruhnya ke atas piring dan memberikan nya pada Al.


"Makasih Bunda," kata Al sambil memakan sarapan. Selesai dengan sarapan Al pamit dan tak lupa menyalami tangan Rika dan Ardit.


"Bun, Pa. Al pamit ke sekolah dulu," pamitnya pada Rika dan Ardit.


"Bajunya masukin dulu," tegur Ardit, memperingati Al.


Al menyengir, dengan cepat memasukkan seragamnya ke celana kain abu-abu. "Al berangkat! Assalamu'alaikum,"


"Eh mau kemana?" cegah Rika. "Tunggu dulu. Jemput Lea dulu baru berangkat," suruh Rika.


Al memutar bola matanya jengah. Selalu saja begini, kalau tak Lea ya Lea. Al sampai mikir dari dulu. Ini sebenarnya yang anaknya Rika itu siapa, Al atau Lea? Sampai-sampai dirinya mengira sebagai anak pungut.


"Al buru-buru Bunda, hari ini gak bisa jemput Lea. Lagian tuh bocah punya supir juga. Ngapain harus Al yang jemput," protes Al.


Rika mengangguk dua kali. "Oke kalau gitu, jangan harap Bunda buat ijin kamu balapan!" ancam Rika.


Alvaro Aldebaran tak ada bedanya dengan sang Bunda, Arika Winata. Sama-sama suka balapan dan tawuran. Hobi banget sama yang beginian. Jadi jangan salah, kalau sifat Al sedikit sama dengan Rika.


Ardit saja sampai bingung, mengapa anaknya tak seperti dirinya? Padahal yang buat mereka berdua.


Ardit hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah laku mereka berdua. "I-iya Bun, Al jemput Lea." Al memilih mengalah saja. "Al pamit dulu, assalamu'alaikum!" pamit Al kembali menyalami kedua punggung tangan Rika dan Ardit.


...

__ADS_1


Lima belas menit sudah, Al duduk di atas motor ninja hitam kesayangan nya. Rasanya pantatnya sudah panas akibat terlalu lama duduk. Umpatan demi umpatan Al layangkan.


Katanya hanya lima menit, tapi ini? Oh atau mungkin lima menit untuk ganti, lima menit untuk makan, lima menit untuk bersiap-siap.


Tin.. Tin..


Kembali menyalakan Klakson motor. Al berdecak kesal. Bayangkan saja dirinya harus duduk di atas motor selama 15 menit tanpa kepastian. "Apa semua cewek begini semua? Lama banget jadi orang." gerutu Al dengan kesal.


"Kalau bukan karena Bunda yang suruh. Udah gue tinggi nih anak," sambung Al kembali.


Hingga akhirnya pintu gerbang terbuka, suara langkah kaki menghampiri Al, membuat Al reflek menoleh ke samping.


Dengan senyum, Lea menghampiri Al. "Pagi Al," dengan wajah santainya Lea menyapa Al.


"Lama!" cibir Al.


Lea meringis pelan. "Hehe, sorry buku gue tadi ilang jadi harus cari dulu."


"Alasan!" sungut Al. "Kemarin tempat pensil, sekarang buku. Besok apa lagi?" ujar Al. "Jangan sampai, besok-besok tubuh lo yang ilang!" tambah nya.


Lea melayangkan satu pukulan pada lengan Al. Membuat lelaki itu meringis. Gini-gini, tenaga Lea lumayan juga. "Kalau ngomong tuh filter dikit! Jadi orang tuh harus sabaran dikit, buru-buru terus jadi orang."


"Udah buruan naik, gue tinggal nih!" sambung Al.


Lea mecoba memahami cowok di depannya. Naik ke atas motor dengan bantuan tangan Al, dan mengambil alih helm. Dalam hati Lea tak berhenti memberikan sumpah serapah nya pada Al.


"Anak cantik gak boleh marah-marah," batin Lea dalam hati.


Dalam perjalanan menuju sekolah, Al dan Lea kembali ribut. Hanya karena masalah sepele, yaitu Lea yang ketinggalan buku tulis, yang mau tak mau membuat Al harus mencari toko buku terdekat untuk membelinya.


Padahal bisa saja membeli di koperasi sekolah. Memang, Lea terlalu rajin jadi orang.


"Makanya, kalau mau berangkat tuh cek dulu. Gini kan jadinya," Al tak berhenti berceloteh. Rasanya ingin menurunkan Lea di tengah jalan saja kalau begini.


"Iya, iya maaf. Gue juga baru ngeh kalau ada yang kurang," sesal Lea. Dalam hati lain Lea bersorak gembira. Sebenarnya dia bisa saja beli di koperasi, hanya saja Lea ingin menetes seberapa besar sabarnya lelaki itu.


"Mampus gue kerjain, jadi cowok pelit amat!" batin Lea bersorak.


Memasuki pekarangan sekolah, banyak pasang mata yang membicarakan mereka.

__ADS_1


Al makin ganteng aja sih!


Fix, Al jodoh gue


Mereka cocok banget tau, kenapa gak jadian aja?


MasyaAllah Al ganteng banget


Dan masih banyak lagi yang membicarakan mereka. Lea memilih turun dan pergi ke kelas Malas sekali pagi-pagi harus membalas komentar para netijen.


Dan masih banyak lagi, Lea langsung turun dan pergi malas mengomentari omongan mereka. "Duluan," pamit Lea pada Al.


Hanya mengangkat bahu acuh. Al melangkah ke kelas, namun belum sampai tiga langkah. Pundaknya ditepuk seseorang.


Mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"


"Lo mau bolos apa masuk kelas?" tanya cowok berwajah imut. Sebut saja namanya Jonathan atau kerap dipanggil Jojo.


"Gak, gue mau jadi anak alim." Meninggalkan yang lainnya.


Jojo, dan yang lain mengejar Al yang jalan duluan. Banyak sekali pasang mata yang memuji ketampanan mereka.


Oke oke, gimana kalau kita perkenalan dulu sama ke-empat babang tampan. Sebut saja most wanted Trisatya.


Paling depan ada Alvaro Aldebaran, pasti kalian udah tau siapa dia. Lalu di samping kanan Al terdapat Revan Bakker, sifatnya yang dingin dan cuek semakin membuat Revan disukai banyak orang.


Irit bicara dan tak ingin basa-basi menjadi ciri dari Revan, tapi jangan salah. Dia paling dewasa dan paling berpikir dewasa.


Di samping kiri Al ada Jonathan Abraham, cowok playboy tingkat akut, wajahnya yang gemesin itu membuatnya disukai banyak orang, Jojo lumayan receh lah jadi cowok.


Lalu dibelakang sendiri ada Anthony Pramudya. Sifatnya sangat berbeda jauh dari Al dan Revan. Ya hampir 11 12 lah sama Jojo, tapi Thony suka banget sama binatang di rumah nya banyak sekali binatang.


Banyak sekali yang menatap mereka dengan tatapan berbeda-beda. Apalagi kepada Alvaro Aldebaran.


Siapa yang tak kenal mereka kurasa orangnya kudet abiss. Alvaro Aldebaran, sosok ketua geng yang tegas. Geng 6ang cukup terkenal di kota ini. Alvarebos, nama geng yang diketuai oleh Al.


Dengan prinsip, maju terus pantang mampus.


...

__ADS_1


Gimana episode perdananya? Semoga suka 😆


__ADS_2