
Sudah pukul delapan malam, Ghea dan Lea masih memutari tempat yang sama, tak ada jalan keluar, tak ada jalan pulang. Sudah hampir lima jam mereka menyusuri tempat ini. Tapi apa? Mereka tak menemukan jalan pulang.
Atau mereka tak akan pernah bisa pulang?
"Lea, istirahat dulu ya. Kayaknya maag gue kambuh deh" Ghea dari tadi sudah memegangi perutnya, belum makan? Kebiasaan!
"Maag lo kambuh?" Ghea mengangguk. "Kita istirahat bentar aja, kaki gue juga kram karena jalan terus," Ucap Lea yang duduk di samping Ghea.
"Le, gimana kalau kita gak bisa keluar dari sini?" Ucap Ghea, pesimis.
Lea menghela nafas pelan, jangan bilang kalau Lea menyerah. Ya dia menyerah, tapi itu tak sebanding dengan rasa untuk percaya bahwa dirinya bisa keluar dari sini.
Pikiran kotor tersebut Lea buang jauh-jauh, Lea. Bisa dibilang dirinya cepat pesimis. Tapi karena ajaran dari Al yang mengatakan bahwa.
"Kalau lo sering pesimis gimana lo mau maju, liat ke depan. Seberapa banyak perjuangan lo? Dan sekarang! Lo mundur gitu aja? Jangan karena satu masalah lo jadi kayak gini. Lo bukan Lea yang gue kenal!" Ucap Al.
"Kita pasti bisa buat. keluar dari sini percaya deh. Yang kita perlu hanya berdoa dan berusaha,"
"Lea!"
"Kenapa?"
"Lo pernah gak, ngerasa kayak gak berhak buat hidup, gak pantas buat ada di dunia ini?" Ucap Ghea dengan parau.
Menatap lekat sahabatnya tersebut. "Pernah,"
"L-lo pernah gitu juga?" Tanya Ghea dengan kaget.
"Iya, gue juga normal kali Ghe, gue juga pernah mikir gitu. Tapi itu semua gak sebanding sama usaha gue selama ini, gue buang jauh-jauh kata itu. Ya.. Walaupun, kadang selalu mikir gitu. Tapi satu hal yang harus lo ingat! "
"Lo udah berjuang sampai titik ini, banyak banget yang lo keluarin. Jadi jangan pernah bilang kalau semuanya sia-sia" Jelas Lea kembali.
"Hem, tapi kadang gue merasa gue gak ada yang peduli di dunia ini. Gue ngerasa mereka semua sibuk sama urusan mereka" Cicit Ghea menatap lurus ke depan.
"Terus gue sama yang lain lo anggap apa?" Canda Lea.
"Bukannya gitu, maksud gue-"
"Becanda kali Ghe"
Hening..
Terjadi keheningan diantara mereka, mereka sama-sama terhanyut dengan pikiran mereka sendiri-sendiri.
...…...
Di tempat camping, semuanya tambah memanas apalagi keributan yang dibuat oleh Lidya dan Acha. Acha yang menuduh Lidya dibalik ini semua. Tapi dengan cepat Lidya membantah hal tersebut.
"Bukan gue, sumpah demi apapun gue gak ngelakuin yang lo omong!" Bantah Lidya dengan keras.
"Kalau emang bukan lo terus siapa?" Tanya Acha.
"Mana gue tau, gue gak pernah ngelakuin hal buat celaka sahabat gue sendiri!"
"Telan ludah sendiri dong! Omongan Lo emang bisa dijaga tapi gerak-gerik lo gak bisa di jaga. Ngerti Lidya,"
"Sandra lo kan yang ngelakuin ini?" Tanya Jojo.
Sandra yang dituduh tak terima. "Paan sih! Seburuk nya gue gue gak akan pernah bunuh orang kali!"
"Halah lambe mu ae ngomonge ngono! Tapi ati mu bedo!" Ucap Thony dengan medok jawanya.
Al tak bisa diam, dia sudah menghubungi kedua orang tuanya, serta mertuanya. Arko dan Ardit sudah mengirim seseorang tim SAR untuk pencarian lebih lanjut.
Al bangkit, mengambil senter. Meninggalkan yang lainnya. Dirinya tak akan diam dengan ini semua.
"Al lo mau kemana?"
"Cari Lea" Al meninggalkan yang lain.
Marah? Jangan bilang. Dirinya merasa bodoh sekarang! Dirinya saja tak bisa menjaga Lea, dan liat yang lainnya malah diam, padahal suasananya lagi genting.
Revan, Jojo dan Thony mengikuti. Mereka tak ingin hal apa-apa terjadi pada Al.
"Lea kamu dimana?" Teriak Al yang menggema di setiap sudut.
"Lea lo dimana?"
__ADS_1
"Lea Ghea! Lo dimana?"
"Lea!"
"Ghea"
"Lo dimana?"
Teriakan demi teriakan mereka terdengar jelas. Menyusuri tempat yang berisi tanda panah. Sebelumnya Al bertanya kepada Kevin dimana keberadaan terakhir bersama Lea dan Ghea sebelum berpisah.
Susah, semua pohon sama.
"Le, kamu dimana jangan buat aku khawatir gini" Batin Al.
Tak berapa lama, tim SAR dari Arko dan Ardit datang. Mereka juga masuk ke dalam hutan. Membagi beberapa kelompok agar mudah mencari nantinya.
Lea dan Ghea melanjutkan kembali jalan mereka, walaupun perut Ghea semakin lama semakin perih. Dirinya tak mau egois untuk kali ini tapi perutnya makin lama, makin membuatnya sulit berjalan.
"Udah Ghe! Kita istirahat aja ya? Keadaan lo gak baik sekarang"
"Gak Le, kalau gak gini kita mau ke kurung sampai kapan di dalam hutan? Gue gak mau hidup selamanya di dalam sini" Ucap Ghea yang tetap berusaha untuk melanjutkan jalan.
Mau tak mau, mereka melanjutkan kembali jalan mereka. Berusaha membuka handphone untuk menghubungi Al atau yang lain. Tapi naas, handphone Lea tertinggal di tenda. Untuk Ghea, dari tadi tak ada sinyal yang masuk.
"Kita kemana?"
"Kearah timur"
Ditempat Acha berada, Danish sudah nangis sesenggukan melihat Lea dan Ghea hilang. Sudah dari tadi Acha berusaha menenangkan Ghea matanya tak henti menatap Lidya dan juga Sandra.
Tak jauh dari tempat Acha berada, seseorang tersenyum puas. Puas melihat rencananya yang berhasil dengan mudah. Dirinya tak menyangka bahwa semuanya akan terjadi seperti ini.
"Bagus, gak nyangka kalau bakal terjadi lebih dari ini" Gumannya.
"Ikuti terus mereka jangan sampai lolos, ganti setiap orang untuk penjagaan. Lakukan penculikan ketika mereka berdua terpisah, jangan sampai kalian sekap mereka bersamaan, mengerti!" Ucap orang itu dengan senyum liciknya.
Pasti kalian ngira kalau banyak banget yang bikin celaka Lea bahkan ingin membuat hubungan mereka renggang? Emang guys, kalian tau sendiri lah ya. Gimana gantengnya Alvaro Aldebaran.
Apalagi kalian tau sendiri, Al adalah pewaris pertama dari Aldebaran serta Winata. Ditambah lagi dengan kehadiran Louis dan Wijaya. Berapa milyar tuh kekayaannya.
Al banyak sekali incaran kaum hawa, contohnya... Tau lah siapa sampai celaka kan Lea, suka boleh tapi jangan sampai obsesi guys gak baik. Nanti malah bisa ganggu mental.
Dan tambahan lagi, Al ketua dari Alvarebos. Banyak sekali musuh yang ingin membuatnya tunduk. Oh jangan salah sebelum Alvarebos tunduk mereka lah yang tunduk duluan.
Bahkan Al bisa saja membubarkan geng tersebut jika memang tak pantas.
Al dan yang lain masih berusaha mencari keberadaan Lea, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hati Al tak berhenti dari kata, Lea celaka.
"Lea kamu dimana Le? Jangan bikin aku khawatir" Guman Al.
Revan menatap Al kasihan, Al yang dulu bukan Al yang sekarang. Lihat lah keadaan Al, rambut acak-acakan baju yang kotor tapi itu tak menghilangkan kadar ketampanannya sebagai ketua Alvarebos.
"Kita istirahat dulu, lanjut lagi" Saran Thony yang langsung dapat tatapan tajam dari Al.
"Lo enak-enakan duduk sedangkan Ghea sama Lea berusaha buat keluar dari dalam hutan. Bagus? Bagus banget" Ucap Al yang membuat Thony senyum kikuk.
Tapi kan capek Al, gak ada kata capek sebelum ketemu. Kalau niat yok gas kalau gak niat, ngapain ikut! Kehadiran lo cuma buat buang-buang waktu gue. Gitu katanya.
Ya namanya juga Al, bukan Al namanya kalau nyari gak ketemu. Lelah sudah pasti! sudah satu jam dirinya dan yang lain memutari hutan belantara yang sialan ini. Eh..
...…...
Lea dan Ghea sudah mulai menyerah, tapi mereka saling menguatkan satu sama lain. Haus, lapar letih, tak usah ditanya. Perut Ghea semakin perih tapi dengan usaha dan tekad yang bulat untuk menahannya.
Tanpa terasa mereka di pinggir jurang, karena masih fokus untuk mencari jalan keluar. Mereka berdua tak tersadar hingga sama-sama terpeleset.
Dengan kedalaman 10 meter lebih.
"Akhhh"
Tubuh mereka berdua terguling ke bawah, Kepala Lea yang sudah ke-bentur batu membuat pengelihatannya buram dan menjadi hitam.
Ghea? Perutnya membuat dirinya tak bisa menahan kedua matanya untuk terbuka. Sama-sama terjatuh kedalam jurang. Entah nyawa mereka terselamatkan atau tidak.
Al dan yang lain tak bisa lagi menahan rasa pegal badan, terutama di kaki. Bayangin mencari Lea dan Ghea hingga dini hari sekarang jam sudah menunjukan pukul dua dini hari. Berapa jam dirinya dan yang lain mencari keberadaan Lea dan Ghea?
__ADS_1
Enam jam tanpa istirahat!
"Al mending kita balik, kita istirahat di tenda," Saran Revan.
Al tak menghiraukan ucapan Revan memilih menyandarkan diri pada pohon yang menjulang tinggi dengan ketinggian lima meter lebih.
Revan menghampiri Al. "Gue tau lo khawatir sama Lea tapi gak gini juga. Lo juga harus jaga diri lo. Kita udah enak jam keliling tanpa istirahat. Lo liat Thony sama Jojo" Tunjuk Revan pada Thony dan jojo yang tertidur dengan pelukan.
Thony, jojo gay?
Astagfirullah kalian berdosa banget, gak guys mereka normal. Yang kurang normal itu Thony pelihara buaya.
Eh ngomong-ngomong soal buaya Thony kemarin, sebelum berangkat camping. Dirinya ingin membawa anak kesayangannya tersebut? Entah santet apa yang terkena hingga sang buaya nurut sama orang kayak Thony.
"Tapi lo harus ingat juga sama badan lo Al, lo perlu istirahat" Ucap Revan kembali.
"Gimana gue mau istirahat Van, sedangkan Lea dan Ghea berusaha untuk cari jalan keluar" Ucap Al parau dengan menunduk.
"Gue yakin mereka selamat, sekarang kita istirahat aja dulu. Udah jam dua lebih juga"
Al mengangguk, dirinya juga kelas untuk hari ini. "Selamat malam Babe" Batin Al.
...…...
Sinar matahari menerpa wajah Ghea dan Lea, membuat mereka harus membuka matanya. Pusing itulah yang Lea rasakan, meraba dahi dan menatap telapak tangannya.
Bercak darah?
Mencoba untuk menaruh kembali nyawanya, mencoba bangkit tapi kaki Lea terasa begitu berat. Sangat sakit untuk digerakkan.
"Aww.." Ringisnya sambil menahan kakinya yang begitu sakit.
"Ghea"
"Ghea!"
Mencoba membangunkan Ghea, mengguncangkan tubuh Ghea agar sahabatnya terbangun, tak lama kemudian Ghea terbangun.
"Lea?"
"Iya gue, tolong lo angkat baloknya kaki gue sakit banget" Ucap Rika mengigit bibir bawahnya menahan kakinya yang semakin mati rasa.
Mata Ghea membulat, mencoba bangkit dan mengangkat balok yang mengenai kaki Lea, meringis merasakan balok tersebut terangkat.
"Bentar lagi" Ghea berusaha mengangkat balok tersebut dan membuangnya ke sembarang arah.
Lea menghela nafas lega, ketika balok tersebut sudah terangkat dari kakinya.
"Lea sakit gak? Aduh gimana dong" Ghea panik sendiri.
"Gue gapapa"
"T-terus gimana? Masa iya sih lo ngesot kan gak mungkin juga" Ucap Ghea, ngaco.
"Kita jalan aja" Ghea membulatkan mata sempurna, y-yakin nih?
"Gak usah becanda Le, kaki lo merah tuh bengkak lagi" Ghea melirik sedikit kearah kaki Lea.
"Gapapa, bantu gue buat berdiri" Lea merentangkan tangannya, Ghea membantu menggenggam erat tangan Lea dan memapahnya untuk berjalan.
Menyusuri kembali, tempat untuk mereka pulang. Lea menahan mati-matian kakinya untuk bertahan. Walaupun bisa digerakkan tapi rasanya sangat sakit.
Al dan yang lain melanjutkan kembali pencarian Ghea dan Lea, sekarang tak hanya mereka berempat melainkan ada tim SAR juga. Memudahkan mereka mencari keberadaan Lea dan Ghea.
"Lea kamu dimana?"
"Ghea lo dimana?"
"Lea! Ghea kalian dimana?"
Lea dan Ghea makin lama makin jauh, dan malah masuk lebih dalam ke dalam hutan. Bukannya menjauh mereka malah masuk kedalam hutan yang makin menyeramkan.
Seremnya karena mereka hanya berdua, dan lagi. Mereka berjaga-jaga takut kalau dimakan hewan buat. Tau sendiri banyak sekali hewan buas di dalam sini.
...…...
Maafkan Nana yang baru up ya guys. Lagi sibuk tugas. Dan ya Nana juga harus cari inspirasi biar gak gitu-gitu amat ceritanya.
__ADS_1
Memasuki bulan Ramadhan ini, maafkan Nana yang buat hati para readers marah atau kecewa. Gak bermaksud kok guys buat kalian marah 🙏
Jangan lupa jejaknya guys. See you next episode.