
"Rika, woi jangan diem bae lo, lo gak ngurung diri kan? Lo gak bunuh diri kan?" tanya Amel, ngelantur.
"Mata mu! Ya kali gue bunuh diri" sarkas Rika.
"Maybe sih, mungkin aja lo bosen hidup terus lo mutusin bunuh diri gitu. Kan gue gak tau, tapi jangan deh kasian gue lo kan jomblo. Ntar lo gak bisa ngerasain gimana sih rasanya berhubungan apalagi ehem-ehem"
Rika mendegus mendengarkan ucapan Amel. "Sesat setan!"
"Udah setan sesat lagi ye gak?" tanya Amel yang membuat Rika kesal.
"Apa sih. Gak jelas lo ah, ngapain telpon gue hah! Gue sibuk"
"Sok sibuk Anda, lo dimana?"
"Kolong jembatan" Rika mencoba sabar untuk tak mengeluarkan kata-kata motivasinya dari mulut manisnya ini.
"Heh ngapain lo ke sana, ngamen lo?" tanya Amel diakhiri kekehan.
"Oasu! Lo jangan bikin gue emosi ye, sumpah ketemu gue timpuk pala lu" kesal Rika.
"Hehe, selow-selow jangan marah-marah. Tambah tua lo nanti, tujuan gue mau ajak lo keluar mau gak? Ntar malem tapi woi, gue sekarang sibuk ngurus berkas"
"Curhat lo"
"Ck menyebalkan"
"Hm"
"Udah mau gak nih?" tanya Amel sekali lagi.
"Nanti dah, males gue. Mood gue hancur, bye" ucap Rika memutuskan panggilan sepihak.
__ADS_1
Rika mendesah pelan, kepalanya sekarang pusing, pusing memikirkan kenapa beban hidupnya banyak sekali. Melangkah kan kaki ke atas, Rika berjalan menuju kamarnya.
Sebelum itu Bi Ina memanggil Rika, menyuruhnya duduk. Tak lama Bi Ina datang dengan sekotak obat.
"Maaf Non, biar Bibi aja yang obati takut infeksi nantinya" Bi Ina membuka obat merah dan menuangkannya pada kapas.
Kening Rika berkerut, memegang sebentar luka yang berada di pipinya. Dirinya baru sadar bahwa pipinya terluka akibat tamparan dari Papa nya tadi.
"Maaf ya Non, kalau sakit bilang aja" Rika tersenyum, mendapatkan perlakuan dari Bi Ina.
"Iya Bi"
Rika sedikit meringis ketika obat itu menempel pada lukanya. Perih. Dengan telaten Bi Ina mengobati luka itu.
"Kalau luka begini jangan sering di diemin Non, takut infeksi nantinya. Maaf Non Bibi tadi gak sengaja denger pertengkaran kalian. Menurut Bibi lebih baik Non Rika jelasin semuanya kepada Pak Rusdy" ucap Bi Ina masih dengan mengobati luka Rika.
Hati Rika meringis mendengarkan penuturan Bi Ina, dirinya cukup kaget tapi- ah sudahlah bahkan luka pada bibirnya tak sebanding dengan luka di hatinya.
"Kenapa Bi Ina sih yang perhatian sama gue, kenapa bukan Mama. Padahal Mama yang ngelihat kejadian ini, tapi Mama malah memilih Papa," batin Rika meringis.
"Udah selesai Non" ucap Bi Ina memasukan kembali obat-obatan kedalam kota P3K.
Rika tersenyum tulus. "Makasih Bi"
"Sama-sama Non, kalau begitu saya pamit ya kebelakang ada yang belum saya beresin" pamit Bi Ina.
Rika menatap kepergian Bi Ina, tanpa permisi air matanya menetes. Dengan cepat Rika mengelap kasar. Dirinya langsung naik keatas.
Bruk
Tubuh Rika merosot kebawah. Air matanya tumpah seketika. Ucapan Bi Ina terngiang-ngiang didalam pikirannya. Sebegitu perhatiannya kah Bi Ina pada dirinya?
__ADS_1
"Gini banget hidup gue, kenapa gue terlahir dengan keadaan kayak gini? kenapa Bi Ina perhatian banget sama gue, padahal kan gue bukan anaknya. Kedua orang tua gue aja gak peduli sama gue"
"Capek banget gue, masalah selalu muncul. Kenapa Tuhan gak kasih gue waktu buat bahagia? Dan ketika gue mau bahagia masalah itu muncul darimana aja. Gue capek hiks" Tatapan Rika kosong ke depan.
Rika merasa Tuhan tak adil padanya, setiap dirinya ingin bahagia Tuhan selalu memberikan cobaan padanya.
Disaat Rika sudah berhasil melewati semuanya, masalah baru datang kembali yang membuat Rika jatuh kembali.
...…...
Amel berkacak pinggang, menghadap map-map yang bertumpu kan di mejanya. Amelia Wijaya, dirinya harus membagi waktunya antara kuliah, bermain dan bekerja.
Di usia Amel yang menginjak 22 tahun ini, dirinya harus menghadapi yang namanya mengurus perusahaan.
"Papi kalau ngasih kerjaan gak main-main, ck gimana gue harus ngerjain semua ini dalam waktu tiga hari coba? Ini banyak banget" Mengacak rambutnya kesal.
Kedatangan seseorang membuat Amel terlonjak kaget, menatap orang itu dengan kesal. Arlan Wijaya, ayah dari Amelia Wijaya.
"Papi kalau dateng itu ketuk kek salam kek atau apa gitu" kesal Amel.
"Biar Amel gak kaget gitu, untung Amel gak punya penyakit jantung, kalau punya gimana?" tanya Amel.
"Mati dong" Arlan menjawab dengan santai, membuat Amel menghentakkan kaki kesal.
"Gimana udah selesai?" tanya Arlan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Belom dong, baru juga mau kerjain. Lagian Papi hukumnya gak main-main. Ayolah Pi ringanin dikit aja" menakup kedua tangannya didepan dada, mohon Amel.
"Ya sudah kerjain, papi tunggu tiga lusa kalau gak selesai motor kamu jadi jaminan" Arlan meninggalkan Amel yang membuat Amel menatap jengah berkas-berkas itu.
"Udah gak di kasih bayaran, disuruh ngerjain ginian, motor jadi jaminan. Apes banget hidup lo Mel Mel" gerutu Amel, memulai kerjaannya.
__ADS_1
"Papi denger" celetuk Arlan yang dari tadi mendengarkan celotehan sang putri.
"Eh Papi, kok masih disitu ada yang ketinggalan?" ucap Amel, kikuk.