
Semuanya menikmati minuman mereka masing-masing, mereka sudah berada di kedai kopi langganan Al. Semuanya hadir seperti biasa tinggal menunggu Ghea yang belum datang-datang sampai sekarang, kecuali Lidya dia tak ikut malam ini katanya sih ada acara tapi tak tau acara apa.
Langkah kaki mendekat kearah mereka, semuanya menoleh Ghea langsung duduk di samping Jojo. Bajunya sedikit basah karena keadaan luar yang gerimis.
"Tumben lo lama banget?" Tanya Danish menyeruput minumannya.
"Macet" Ucap Ghea sambil tersenyum. "Eh Lidya mana kok gak ada, dia gak ikut?" Tanya Ghea yang tak mendapatkan keberadaan Lidya.
"Gak katanya ada urusan" Ucap Lea.
Ghea mengangguk mengangkat tangan untuk memanggil pelayan, sambil menunggu pesannya Ghea dan yang lain cerita.
"Ghe, Ghe, Ghe" panggil Jojo.
"Paan"
"Gue punya pertanyaan buat lo"
Ghea mengangkat satu alisnya menatap kearah Jojo. Perasaan gue gak enak nih, Jojo membenarkan duduknya menjadi tegak.
"Apa bedanya kamu sama garuda?" Tanya Jojo.
"Apa?"
"Garuda di dadaku, kalau kamu di hatiku"
Semuanya yang mendengarkan lontaran dari Jojo bertepuk tangan, bau-bau balikan nih. Ghea yang mendengarkan ucapan Jojo tersenyum kecut, walaupun begitu hatinya senang.
"Bau-bau balikan nih" Ucap Acha.
"Cie.. Ghea yang mau balikan cie" Goda Danish.
Ghea hanya menggelengkan kepalanya pelan. Jojo kembali berulah mengucapkan kata-kata gombalan nya untuk Ghea. Ghea hanya bisa menjawab dengan senyuman hambar.
"Ada lagi, ada lagi"
"Tinta apa yang tidak bisa luntur?" Tanya Jojo.
"Apaan?"
"Tintaku padamu"
Kayaknya Jojo gamon (ga move on) deh, liat aja dari tadi gak berhenti-berhentinya buat gombal Ghea terus. Kalau boleh bilang Ghea seneng dapat gombalan dari Jojo tapi..
"Lanjutkan kang ghosting" Ledek Thony.
Wah bener-bener Thony, gak ada gitu sehari nyemangatin temennya yang mau balikan? Bukannya semangatin malah diledekin.
"Diem lo!"
"Udah balikan-balikan" Ucap Revan.
Semuanya mengangguk setuju, kalau emang iya mereka balikan bisa dipastikan sekolah bakal booming lagi, mereka termasuk pasangan yang cukup terkenal di sekolah jadi tak banyak orang yang menyayangkan kandasnya hubungan mereka.
Melanjutkan kembali obrolan mereka hingga jam begitu cepat berlalu, mereka semua pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Ghe lo naik apa?" Tanya Jojo.
"Naik taksi"
"Bareng gue aja, uangnya lo simpan buat besok" Jak Jojo.
"Gak usah, gapapa kok gue balik naik taksi aja. Lagian rumah lo ama gue jauh, daripada nanti muter balik" Tolak Ghea.
"Udah Ghe, terima aja gapapa. Lagian ini udah jam sembilan lho, lo yakin mau pulang sendiri?" Tanya Acha.
Ghea mengecek jam pada handphonenya, benar saja sudah jam sembilan malam. Dengan terpaksa Ghea menerima tawaran Jojo untuk pulang bareng.
"Ya udah, ketemu lagi di sekolah. Bye gue sama Al duluan. Assalamu'alaikum" Pamit Lea.
"Waalaikumsalam"
"Gue duluan bye" Ucap Thony.
"Gue balik ya guys, bokap udah nyampe" Pamit Danish.
Tinggal Acha, Revan, Jojo dan Ghea. Acha dan Revan pamit terlebih dahulu meninggalkan Ghea dan Jojo yang sedikit canggung.
Mengambil helm pemberian Jojo, memakai nya dan naik keatas motor. Menembus jalanan jakarta, mengingatkan mereka tentang kejadian dimana dulu mereka sering pulang malem berduaan.
Walaupun begitu Jojo akan menjaga Ghea, Ghea memegang pundak Jojo canggung. Andai kalau boleh Ghea ingin seperti dulu, memeluk Jojo, bergandengan tangan, pulang malem dengan alasan kerja kelompok padahal pacaran.
__ADS_1
...…...
Menghentikan motor di depan sebuah rumah berlantai dua dengan cat hitam putih, Ghea turun dan melepaskan helm, memberikan kembali pada Jojo.
"Makasih udah dianterin"
"Sama-sama, titip salam ya sama nyokap"
Degh
"I-iya nanti gue kasih tau ke nyokap" Ucap Ghea dengan canggung.
Entah kenapa dengan Ghea sekarang, padahal kalau di sekolah adu bacot tiap hari, kenapa pas berduaan jadi malu-malu kucing gini.
"Ya udah lo masuk deh, gue pamit Assalamu'alaikum" Pamit Jojo.
"Waalaikumsalam"
Ghea masuk ketika motor Jojo yang tak terlihat kembali. Dengan pelan Ghea membuka pintu utama, melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada.
"Dari mana kamu?!" Pertanyaan tersebut terdengar nyaring di telinga Ghea.
Ghea menghiraukan ucapan tersebut, melanjutkan jalannya menuju ke atas.
"Jangan kurang ajar kamu!"
Ghea menghentikan langkahnya, memutar balik badannya menatap ke depan. Dimana sang mama yang membesarkan nya dari kecil hingga sekarang, sedang berdiri menatap tajam kearah Ghea.
"Dari luar"
"Bagus, udah berani langgar ucapan mama" Ucap Tina -Mama Ghea.
"Ghea capek ma, Ghea gak mau berantem dulu. Ghea naik mau istirahat, Mama jangan lupa istirahat" Ucap Ghea.
Ghea melangkahkan kakinya kembali, langkahnya seketika terhenti ketika mendengarkan suara gebrakan pintu. Ghea kembalikan kembali badannya menatap kearah pintu.
Seorang pria paru baya, dengan langkah gontai nya masuk kedalam.
"Pa"
Mama Ghea menghampiri sang suami, membantunya duduk di sofa. Ghea menatap kearah sang Papa, pakaiannya lusuh berantakan, dengan dua kancing atas yang di buka, dasi yang entah kemana, dan rambut yang berantakan. Sudah di pastikan sang papa habis pergi dari bar.
Ghea yang ingin menghampiri sang papa terhenti, ketika sang mama membuka suara dengan lantang.
Dengan setengah sadar, papa Ghea tertawa keras, menatap muka sang istri.
"Iya kenapa, kamu gak terima?" Tanya papa Ghea dengan tertawa.
"Pa! Papa kenapa selalu gini?"
"Shuttt! Diam kamu! Saya bosan dengan kamu mengerti" Ucap Papa Ghea meninggalkan mama Ghea.
Mama Ghea berlari menghampiri sang suami, memegang lengannya. Tapi belum juga menggapainya papa Ghea langsung menampar pipi mama Ghea dengan kencang.
Plak!
Ghea menutup mulutnya, menatap keributan kedua orang tuanya.
"Jangan sentuh saya!" Ucap Agus -Papa Ghea dengan keras.
"Pa, papa kenapa gak hargai mama sebagai istri?!" Tanya Mama Ghea dengan keras.
Sebelum Ghea mendengarkan lebih jauh lagi keributan orang tuanya, dengan cepat Ghea berlari menuju ke kamarnya.
Bruk
Menutup pintu kamar dengan keras, tubuh Ghea merosot. Matanya memanas, perlahan air mata Ghea mengalir deras. Kenapa cobaan ini belum berakhir? Kapan keluarga Ghea akan akur?.
"Kenapa saya harus hargai kamu sebagai istri, kalau kamu gak pernah menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri!" Ucap papa Ghea dengan lantang.
Ghea menutup kedua telinganya agar tak mendengarkan keributan dari kedua orang tuanya. Air mata Ghea tak berhenti menangis.
"Apa papa bilang? Setiap hari mama selalu turuti ucapan papa tapi apa! Papa malah main dengan cewek lain di bar"
"Kalau kamu mau jadi istri yang nurut. Sekarang juga kamu undur dari dari pekerjaan kamu"
"Gak mama gak bisa!" Tolak mama Ghea dengan mentah-mentah.
"Gak bisa kan? Kalau begitu saya juga gak akan berhenti dengan apa yang saya lakukan" Ucap Papa Ghea.
...…...
__ADS_1
Lea terbangun dari tidurnya, menghadap ke samping dimana Al yang tertidur nyenyak. Tangan Lea bergerak untuk menyentuh muka Al. Mengelus muka Al mulai dari mata, hidung dan berakhir pada bibir Al.
Al yang merasa terusik membuka matanya perlahan, melihat Al yang bergerak membuat Lea menarik tangannya kembali, tak ingin tertangkap basah Lea langsung bangkit.
Belum juga menginjakkan kakinya pada lantai kamar. Tangan Lea di tarik oleh Al membuat Lea kembali jatuh ke kasur. Lea membuka mata perlahan, mendapatkan Al berada di atasnya.
"Selamat pagi istri"
"P-pagi Al"
Al mengecup kening Lea, menatap kedua mata Lea dengan intens, Lea yang mendapatkan tatapan dari Al dibuat salting sendiri.
"Udah nafas aja, gue gak mau lo mati muda"
Sial, Al mah bikin mood pagi buruk. Baru juga beberapa menit manis. Gak tau apa jantung Lea udah mau lompat dari tempat.
"Sumpah lo bikin pagi gue jelek"
"HAHAHA, kan bener kalau lo mati muda nanti gue duda. Terus nanti ibu buat anak-anak gue gimana hm?"
"Masih lama Al, udah lah gak usah ngaco! Minggir gue mau mandi dan mau masak. Minggir!" Ucap Lea berusaha untuk berdiri.
Al menarik Lea kedalam pelukannya. membuat Lea kembali terjatuh dalam pelukan Al. Memeluk Lea dengan erat membuat Lea tak bisa melakukan pergerakan apapun.
"Udah Al nanti kita telat"
"Masih setengah enam Le, masih lama. Nanti aja" Ucap Al mengelus rambut panjang Lea.
Lea mengangguk menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Al yang beraroma mint. Al mengelus punggung Lea, sesekali mengecup pucuk Lea.
...…...
"Alvaro! Buruan turun sarapan udah siap" Teriak Lea dari bawah.
Al turun dengan cepat menghampiri Lea yang menunggunya di bawah. Mendudukkan bokongnya pada kursi berwarna putih. Lea menyiapkan nasi goreng buatannya pada piring Al serta tak lupa menambahkan telur mata sapi.
...…...
Lea turun dari motor, di sana sudah ada yang lainnya. Memeluk kedua sahabatnya, pagi ini kayaknya Ghea belum sampai soalnya Lea tak melihat batang hidung Ghea dari tadi.
"Lidya mana? Kok tumben gak sama kalian berdua?" Tanya Lea.
Danish dan Acha menggeleng bersamaan, mereka juga tak tau padahal biasanya dia juga ikut nunggu dan Lidya lah yang paling semangat.
"Pagi" Ucap Ghea yang baru datang.
"Pagi sayang ku"
"Jijik Bangsat!" Ucap Thony.
"Diem lo jomblo"
"Heh! Lo juga jomblo ya" Ucap Thony yang tak terima.
Enak aja dibilang jomblo, padahal Jojo sendiri juga jomblo.
"Udah-udah yuk ke kelas" Ucap Revan.
Semuanya mengangguk, Ghea hanya diam tak ikut nimbrung. Sampai di kelas, mereka duduk ke tempat masing-masing, Acha duduk dengan Ghea sedangkan Danish duduk dengan Lea.
...…...
"Eh rek, gue mau kasih info kemarin kelupaan. Bentar aja gak sampe 10 menit aja" Instruksi Dimas (Ketua kelas IPS XII 3).
"Apaan Dim" Ucap Fatih.
"Iya, buruan gue laper"
"Sabar, jadi ada info kan minggu depan ada lomba nih. Itu tanggal 14 Agustus hari Rabu jadi bertepatan dengan hari Pramuka, kita berangkatnya pakai seragam pramuka lengkap!"
"Lha terus buat lombanya gimana?" Tanya Lidya.
"Oke, buat lombanya kita pakai celana training sekolah kaosnya kos atau gak sweater putih atau gak abu-abu" Ucap Dimas menjelaskan.
"Oh iya lupa, jum'at nya kita ada bazar. Untuk info selanjutnya Miss Desi yang akan jelasin"
"Yowes, itu tok yang tak kasih tau. Ndang istirahat" Ucap Dimas meninggalkan kelas.
...…...
__ADS_1
Jangan lupa buat Komen sebanyak-banyaknya dan juga vote nya. Sayang kalian banyak-banyak ❤