
"Kantin kuy, kantin" Ucap Danish.
"Yuk gue juga laper" Ucap Acha.
Ghea hanya diam, dia mengangguk. Acha yang paham dengan gelagat Ghea merangkul pundak Ghea. "Gue gak tau lo ada masalah apa gak, kalau emang lo gak mau cerita gapapa. Tapi kalau lo pingin ceritain unek-unek lo. Lo boleh cerita ke gue atau yang lain" Bisik Acha sambil menepuk dua kali pundak Ghea memberikan semangat pada sahabatnya tersebut.
Ghea hanya tersenyum getir, mengingat kembali kejadian semalam. Bukan hanya semalam melainkan beberapa tahun kebelakang memori tentang kehancuran keluarganya berputar di kepala Ghea.
Di mulai dari sang papa yang ketahuan bermain dengan cewek lain, dan sang mama yang ingin di mengerti tapi tak bisa mengerti perasaan yang lain.
Dimana waktu acara pentas sang papa atau pun mama tak hadir, sungguh miris memang. Tapi apa boleh buat Ghea hanya bisa menangis dalam diam, percuma. Percuma kalau Ghea cerita.
Orang tuanya tergila dengan harta, sampai mereka tak menyadari bahwa Ghea tak perlu itu semua. Tapi semuanya mulai berubah sedikit demi sedikit.
Dimana Ghea bertemu dengan Lea, Acha dan juga Danish. Di situ, Ghea mulai merasakan kasih sayang kembali ya walaupun tak banyak tapi itu semua bisa membuat Ghea melupakan masalahnya sementara.
Tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Ghea melakukan sarapan seperti biasa, duduk mengoleskan selai strawberry pada roti miliknya. Ghea masih teringat kejadian semalam, Ghea hanya diam.
Hingga sang mama membuka suara, mama melarang Ghea untuk bertemu dengan teman-temannya. Ghea yang mendengarkan perintah tersebut tak terima, apa-apaan kenapa harus Ghea yang mengalah? Mengapa harus Ghea yang dilarang?.
"Gak mau ma! Mama apa-apaan kenapa Ghea yang selalu kena? Ma Ghea udah gede Ghea gak perlu mama suruh ini itu. Ghea tau ma mana yang baik untuk Ghea dan gak! Kenapa mama selalu buang emosi mama ke Ghea kenapa!. Ghea udah gede ma, Ghea bukan anak kecil lagi. Kenapa mama selalu larang Ghea untuk ini itu kenapa?" Ucap Ghea yang tak Terima.
Mama langsung menampar Ghea. "Kurang ajar kamu! Ini nih pasti gara-gara kamu deket-deket sama anak itu kan! Iya kan! Sampai-sampai kamu bantah ucapan mama"
Papa Ghea yang mendengarkan teriakan sang istri menghampiri ke bawah. "Ada apa ini! Pagi-pagi buta gini ribut terus"
"Lihat kelakuan anak kamu. Makin hari makin ngelunjak! Mama gak mau tau nanti pulang kamu harus cepat pulang gak ada mampir ke mana-mana ngerti kamu?" Ucap sang mama.
"Udah, kita berangkat Ghea takut telat"
"Iya Pa" Ucap Ghea mengambil tas ranselnya dan berjalan mengikuti sang papa.
"Pa! Kamu gak sarapan?"
"Gak, lebih baik saya sarapan di kantor, kuping saya panas denger ocehan kamu. Ayo Ghea" Ucap papa Ghea menarik tangan Ghea menuju ke mobil.
Mama Ghea menatap mobil sang suami yang telah pergi. "Gara-gara bocah miskin itu Ghea makin ngelunjak! Lihat aja kamu, kamu akan dapat ganjaran yang kamu Terima"
Di dalam mobil Ghea diam, papa yang melihat hal tersebut mengelus rambut sang putri dengan kasih sayang. "Ghea anaknya papa kenapa sayang? Ada yang kamu pikirkan?"
"Iya Pa"
"Ada apa? Coba cerita sama Papa. Apa ini soal mama kamu? Emang mama kamu ngomong apa sama kamu Ghe?"
Untuk pertama kalinya sang papa meminta Ghea untuk cerita masalahnya, Ghea menatap sang papa ragu apa Ghea yakin untuk cerita?.
"Mama, Mama ngelarang Ghea untuk temanan sama yang lain. Ghea gak bisa pa, Ghea gak mau pisah sama mereka, Ghea gak mau pergi jauh dari mereka. Mereka selalu ada buat Ghea. Mereka selalu dengerin apapun permasalahan Ghea. Disaat papa dan mama lebih pilih pekerjaan kalian, di saat papa dan mama yang lebih mementingkan harta daripada Ghea" Ucap Ghea yang mulai menangis.
Papa yang mendengarkan hal tersebut menghentikan mobil di pinggir, hatinya tertonjok dikala mendengarkan isakan putrinya. Papa sadar apa yang dia lakukan selama ini salah tapi semua itu juga demi Ghea agar Ghea hidup terpenuhi.
"Maafin papa sayang" Ucap papa Ghea mengelus rambut Ghea.
__ADS_1
"Papa gak usah minta maaf, Ghea faham, Ghea ngerti, Ghea hanya gak mau pisah dari mereka. Walaupun Ghea tau itu pasti akan terjadi. Pa Ghea mohon sama papa, papa bilang ya ke mama, jangan hukum Ghea jangan larang Ghea lakuin apa yang Ghea mau pa" Ucap Ghea menggenggam tangan sang papa.
"Papa usahain ya! Kamu tau sendiri kan kalau mama kamu itu gak mau di bantah. Tapi kamu tenang aja, papa gak larang kamu buat lakuin apa yang Ghea mau, kecuali itu gak melanggar kamu kejalan yang salah" Ucap papa.
Ghea mengangguk, dirinya tersenyum ada papa, ada papa yang selalu dukung Ghea apapun yang Ghea mau. Papa gak larang Ghea melakukan apa yang Ghea mau.
Seseorang menepuk pundak Ghea, membuat Ghea tersadar dari lamunannya. Dirinya sudah duduk di kantin, bukannya tadi masih di Koridor kelas?.
Entahlah berapa lama Ghea melamun hingga dirinya tak sadar bahwa dirinya sudah berada di kantin.
"Lo ngelamunin apaan sih Ghe?" Tanya Danish.
"Eh" Ghea menegakkan tubuhnya. "Gak kok gapapa" Ucap Ghea.
"Yakin?" tanya Lea.
Ghea mengangguk "Iya gue gapapa" Ucap Ghea.
"Lo ada masalah?" Tanya Lidya.
"Ngaco lo pada, gak ada. Gue gapapa guys" Ucap Ghea meyakinkan bahwa dirinya tak apa-apa.
...…...
Kembali ke kelas masing-masing, Lea yang tak bisa menahan sesuatu dibawah terpaksa pamit ke kamar mandi.
"Eh gue ke kamar mandi dulu bye" Ucap Lea yang langsung lari ngibrit.
Al yang melihat itu tersenyum, buset kalau senyum lho tampan banget sampai mau meninggoy.
Padahal kan jarang banget Al senyum kecuali dengan orang terdekat. Tapi siapa yang larang juga ya buat senyum? Kan gak ada masalah juga.
...…...
Lea bernafas lega setelah selesai dengan sesuatu yang dia tahan. Selesai dari toilet les keluar, menuju ke wastafel untuk mencuci tangannya. Selesai mencuci tangan Lea keluar untuk kembali lagi ke kelasnya karena sebentar lagi waktu masuk akan tiba.
Lengannya tertarik, membuat les terlonjak kaget. "Kevin kenapa?" Tanya Lea yang mendapatkan kevin yang baru saja menarik tangannya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo" Ucap Kevin membuat Lea mengerutkan dahinya.
Kayaknya serius.
"Apa?" Tanya Lea.
Belum melanjutkan bicaranya, bel berbunyi membuat mereka berdua kembali ke kelas bersama-sama. Masuk kedalam kelas, Lea duduk di kursinya setelah tadi salim pada Miss Desi.
"Baik semuanya sudah ada di kelas ya, kita mulai pembelajaran hari ini. Assalamu'alaikum semua selamat pagi gimana kabarnya hari ini?" Tanya Miss Desi.
"Waalaikumsalam, baik Miss" Ucap mereka semua.
__ADS_1
"Baik, kita buka buku halaman 35" Perintah Miss Desi.
"Globalisasi adalah tersebar luasnya pengaruh ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang ada di setiap penjuru dunia ke penjuru dunia yang lain sehingga tidak jelas lagi batas-batas yang jelas dari suatu negara" Ucap Miss Desi menjelaskan tentang materi.
"Oke baiklah ada yang di tanyakan?" Tanya Miss Desi.
"Tidak miss" Ucap semuanya.
"Baiklah kalau begitu Miss Desi akan kasih tugas untuk kalian, tugasnya dikumpulkan minggu depan ya! Untuk tugasnya, kalian membuat mading berisi tentang apa sih globalisasi itu? Nanti kalian tulis di karton dan lusa di kumpulkan"
"Baik Miss"
"Ada yang di tanyakan?"
Lea mengangkat tangan "Iya Lea mau tanya apa?" Tanya Miss Desi.
"Ini dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok ya miss?"
"Ini dilakukan secara berkelompok, di kelas kita ada 30 orang jadi tiap kelompok terdiri dari 6 orang ya"
"Baik miss"
...…...
Sekarang Acha, Lea, Danish, Ghea, Sasa dan Bella. Mereka sedang berjalan menuju ke toko buku yang berada di pertigaan sekolah tak jauh hanya 10 menit saja.
Lidya sudah menemukan kelompoknya sendiri dengan Kevin, padahal tadi Lea mau mengajaknya tapi lidya menolak.
Mereka telah sampai di depan toko yang bertuliskan "Toko Sumber jaya" Yang terpampang pada papan besar.
"Ya udah yuk masuk" Ucap Lea.
Sebelumnya Lea sudah meminta izin kepada Al, Al mengizinkan nanti Al akan menjemput Lea di sana langsing. Biar Lea tak bolak-balik.
...Albino...
^^^Lea^^^
^^^Al gue izin ya? Mau beli bahan buat bikin mading^^^
Albino
Sama sapa?
^^^Lea^^^
^^^Sama anak2, buat manding minggu depan ga jauh kok di toko depan^^^
Albino
Y udh, ntar gue jemput di sana
__ADS_1
^^^Lea^^^
^^^Oke nanti gue kabari kalau udh selesai^^^