
Setelah hampir 3 hari Rika dirawat, akhirnya hari ini dia di perbolehkan untuk pulang, namun harus rawat jalan untuk mengetahui perkembangan kaki Rika.
Kali ini Rika cukup berbeda, sifat Rika berubah dari biasanya sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Setelah mendengar kabar bahwa dirinya lumpuh dan tak bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala ya walaupun hanya sementara tapi juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Datar dan tak banyak bicara.
Veni dan Santi menata pakaian Rika dan measukkanya ke dalam koper, Rsudy dan Ardi membayar tagihan Dan Ardit sedang menggobrol dengan dokter. Setelah semuanya selesai Ardit kembali ke kamar, bertepatan dengan Ardi dan Rusdy.
"Asslamaukaikum," salam ketiganya.
"Waalikumsalam, gimana Dit? boleh pulang kan?" tanya Santi.
"Boleh kok ma, tapi nanti harus rawat jalan dulu buat mastiin keadaan Rika baik-baik aja," semuanya mengangguk paham
"Ya sudah, semuanya udah mama sama bunda masukin ke dalam koper, sekarang kita balik. Takut macet," ucap Santi.
Ardit menghampiri Rika, cowok itu membantu Rika menggendong Rika dan mendudukkan nya di atas kursi roda pelan-pelan. Mendorongnya hingga sampai parkiran.
Kembali menggendong Rika dan mendudukannya didalam mobil, setelah memastikan Rika aman dan nyaman, cowok itu mengitari mobil dan menjalankan mobil. Sementara para orang tua di mobil satunya.
Untuk sementara waktu, Ardit dan Rika akan tinggal di rumah Ardi dan Veni. Rusdy dan Santi juga akan ikut selama beberapa hari ke depan ingin membantu Veni merawat Rika.
Awalnya cowok itu menolak, karena tak ingin merepotkan yang lain. Tapi karena paksaan dari Veni dan mama mertua membuatnya harus menurut.
__ADS_1
Rika menatap luar dengan tatapan kosong nya. dirinya masih belum menerima semuanya, apalagi saat mendengarkan dirinya keguguran. Semalam Ardit memberitahukan langsung pada Rika, cowok itu tak ingin jika Rika mengetahuinya dari mulut orang lain.
Rika mengerutkan dahinya. Kenapa menuju ke jalan ini, ini bukan jalan apartemen mereka. "By,"
Ardit menoleh. "Iya ada apa?"
"Ini bukan jalan ke apartemen kita," ucap Rika.
Ardit mengangguk. "Iya emang bukan ke apartemen, kita bakal tinggal ke rumah bunda dan ayah, kamu gak keberatan kan kalau kita tinggal di sana buat beberapa hari ke depan. Lebih tepatnya saat keadaan kamu telah pulih," jelas Ardit.
Rika hanya ber'oh ria, gadis itu kembali menatap luar, menatap gedung-gedung pencakar langit.
Setelah hampir cukup lama di dalam mobil, akhirnya mereka sampai di kediaman Aldebaran, satpam yang melihat kedatangan mereka langsung membuka pagar dan mempersilahkan masuk.
"Makasih pak," ucap Veni.
"Dit kamu bawa Rika istirahat ya ke kamar, kasihan dia pasti masih kecapkean. Kamu juga istirahat, dari kemarin istirahatnya kurang," Veni berucap.
"Iya bun, Ardit sama Rika naik ke atas dulu." pamit Ardit, Cowok itu membawa Rika ke kamarnua dengan lift. Udah cukup lama lift ini di pasang.
Sampai kamar, Rika menatap sekitar, sama seperti awal tak ada perubahan. Aroma maskulin membuatnya merasa nyaman. Aroma ini telah lama tak Rika cium.
Ardit memasukkan pakaian ke dalam kemarin, sedangkan Runa menatap luar dengan tatapan kosongnya. Ardit yang mengetahui itu langsing menghampiri Rika lalu menegurnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan banyak ngelamun gak baik buat kamu," tegur Ardit.
Rika tersadar, gadis itu hanya mengangguk. "I-iya maaf,"
"Maaf by, maafin aku." lirih Rika.
Ardit berjongkok di depan Rika, cowok itu menggengam kedua tangan Rika dengan erat. "Untuk apa? untuk apa kamu minta maaf?"
"Maafin aku, seandainya kemarin aku dengerin omongan Amel dan kak Arko mungkin aja kejadian ini gak bakal terjadi." tangis Rika seketika banjir.
Ardit langsung menarik Rika ke dekapannya. Cowok itu mengelus dan sesekali mengecup rambut Rika yang terurai.
"Dengerin aku," Ardit menakup wajah Rika dan menatapnya dalam.
"A-aku gak sempurna by, aku gak bisa kasih kamu keturunan. Bahkan, bahkan sekarang aku cacat." Rika menunduk dalam.
Ardit mengangkat dagu Rika dengan lembut, mencoba untuk menatapnya. "Untukmu Arika Winata, wanita sempurna yang memiliki banyak kelebihan dan kekurangan, wanita bar-bar dan keras kepala milik Arditya Aldebaran. Sayang, sayangnya hubby dengerin aku ya."
"Tujuan pernikahan itu untuk menyempurnakan, gak usah mikir kalau kamu gak sempurna, kita semua gak ada yang sempurna di dunia ini. Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, kita semua gak sama, kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda." ucap Ardit.
"Jadi jangan mikir buat kamu gak sempurna, kamu sempurna dimata orang yang tepat, aku malah bersyukur punya kamu. Jadi gak usah minder ya sama orang lain, kamu sempurna di mata aku." lanjut Ardit membuat Rika meneteskan air mata.
"Kita shalat dulu, lalu lanjut istirahat. Kamu harus banyakin istirahat." Keduanya sama-sama menjalankan kwajiban mereka ber sama-sama.
__ADS_1
"By, maafin aku ya, maafin aku yang selalu keras kepala ini, maafin aku yang belum jadi istri yang baik buat kamu, maafin aku juga yang selalu bantah ucapan kamu, maafin aku ya by." Rika meyalami tangan Ardit dan mengecupnya.
"Iya sayang, aku juga sama-sama minta maaf, kalau selama ini belum bisa bahagian kamu, dan belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Kita sama-sama belajar menajdi lebih dewasa lagi ya, semuanya kita jadikan pelajaran." Ardit membalas pelukan Rika, cowok itu mengusap lembut kepala Rika yang terlapisi mukena.