
Siapkan hati ya!
...…...
Suasana basecamp begitu mencengkram, atmosfer di dalam berbuah drastis, Thony dan jojo yang biasanya rame sekarang diam tak bersuara.
Setelah kemarin malam memaksa Al untuk balik, walaupun begitu mereka masih berusaha melacak keberadaan Lea, namun semuanya nihil, karena jam, kalung serta handphone milik Lea ada di tangan Al.
"Gimana?"
Revan masih mengotak-atik laptop miliknya "Udah-Sial!" Umpat Revan.
"Kenapa Van?" Tanya Jojo. Revan menggeleng.
"Kalian ngerasa aneh gak sih sama Lidya? Apa cuma gue doang?" Tanya Jojo, membuat semuanya menatap kearah Jojo.
"Telpon Acha" Suruh Al, revan mengangguk "Sebentar lagi kesini"
Tak berapa lama Acha datang. "Ada apa sih nelpon gue? Tanya Acha. " Eh gue punya sesuatu, sebentar" Acha merogoh sakunya dan memberikan handphone nya. Memutar rekaman.
"Lo apain dia? Sadar sama yang lo lakuin. Lebih baik lo lepasin Lea daripada lo kena masalah sama Al. Dia sahabat lo! Jangan sampai lo buat celaka gara-gara cinta lo Lidya!" Rekaman empat puluh detik tersebut sudah menjadi bukti bahwa Lidya lah dalang dibalik ini semua.
Al bangkit, menyambar kunci serta jaket, dirinya tak bisa diam saja di sini, apalagi ini menyangkut keselamatan gadisnya.
"Lo mau kemana?" Revan mencekal tangan Al.
Al menempis tangan Revan, cowok itu menatap Revan datar.
"Jangan bodoh!" Sentak Revan.
Al tersenyum miring, "Terus gue harus diem gitu? Disaat Lea dalam bahaya?"
"Bukan-"
"Gue bahkan gak peduli sama nyawa gue, yang terpenting sekarang Lea ketemu!"
Al menatap yang lain sekilas, dirinya pergi meninggalkan yang lain. Tak menghiraukan teriakan para sahabatnya. Yang terpenting Lea.
"Siapin anak-anak, kita susul Al" Suruh Revan.
...…...
Berdiri, menghadap gedung tua yang jauh dari kata layak. Tapi jangan salah walaupun dari luar kumuh dan kotor, tapi di dalam begitu bersih. Mungkin ini dibuat tak-tik.
Di sana penjagaan begitu ketat, banyak sekali yang menjaga. Mulai dari lantai satu hingga tiga.
Tadi setelah mendapatkan alamat dari Kevin, setelah susah payah meminta. Kevin pun memberikan alamat tempat dimana Lidya menyekap Lea.
"Gue dan Al, bakal cari dimana tempat Lea disekap. Dan tugas lo pada alihkan mereka" Ucap Revan, dan dapat anggukan dari semuanya. Matanya menatap kearah Acha.
"Dan lo tunggu disini"
"Sorry gue bakal masuk kedalam" Potong Acha.
"Di dalam bahaya buat lo!"
Acha tersenyum miring. "I don't care"
"Terserah" Al berjalan meninggalkan yang lain, di susul juga oleh Acha dan Revan. Memasuki gedung tua.
...…...
__ADS_1
Keadaan menjadi riuh, ketika anak-anak Alvarebos masuk kedalam pukulan demi pukulan terdengar.
Pertengkaran antara Alvarebos dan penjaga Lidya begitu sengit, para penjaga Lidya begitu hebat.
Di saat anggota Alvarebos mengalihkan perhatian mereka, Al, Acha serta Revan masuk kedalam. Berusaha mencari keberadaan Lea.
Di tempat Lea di sekap, Lidya mendengarkan suara kericuhan diluar membuat kegiatan mengukir tulisan di tubuh Lea terhenti.
Jangan bilang kalau dirinya terlacak?!
Menuju ke jendela, menatap keluar. Benar saja anggota Alvarebos menyerang tempatnya.
Sial! Dirinya terlacak
Lea tersenyum. Al datang. Al datang untuk menyelamatkannya. "Semuanya akan berakhir Lidya" Ucap Lea dengan senyum lemahnya.
Lidya mengeram kesal "Semuanya belum berakhir, lo harus mati ditangan gue!" Lidya berjalan menghampiri Lea pisau yang dia pegang sudah siap untuk menusuk kulit Lea.
"Jangan-jangan" Ucap Lea pelan.
Lidya tersenyum. "Selamat tinggal-"
Brak!
"Lea!"
Lea dan Lidya menatap kearah pintu, di sana ada Al, Revan dan juga Acha.
Mata Al serta yang lain membulat, melihat keadaan Lea yang jauh dari kata- baik-baik saja. Dengan muka yang banyak sekali luka, kening yang berdarah.
Bahkan luka dua hari yang lalu, belum sempat terobati. Dan sekarang? Kaki Lea terlihat membengkak bukan hanya membengkak melainkan merah.
Mata Al menatap manik mata Lea, yang begitu teduh, seakan meminta tolong. Hati Al teriris, begitu sakit melihat gadisnya yang seperti ini.
Padahal Lea selalu ada untuknya, selalu membantu Lidya ketika sedang ada masalah.
Dan ini balasan dari semuanya?!
"Kalian mendekat, Lea mati ditangan gue" Lidya mengarahkan pisau yang dia pegang kearah Lea.
Hal itu membuat Al menghentikan langkahnya untuk menghampiri Lea.
Sial!
"Lid-"
"Gue gak main-main sama omongan gue, selangkah lo maju, pisau ini tembus di kulit Lea. Dan istri lo bakal tinggal nama" Ucap Lidya yang tak main-main.
Al, Revan dan Acha saling lirik. Kalau begini mereka harus gimana?!
...…...
"Kenapa harus lewat sini sih! Kan ada tangga bego-nya gak ketulungan" Gerutu Thony.
"Bego-nya jangan noleh gue" Kesal Jojo.
"Kan emang lo bego" Dengan tampang tak berdosa Thony berkata seperti itu.
"Anjir lo makin lama-makin ngelunjak ye!"
"Diem lo! Ah elah, ini gimana we ya kali kita lewat sini" Gerutu Thony.
__ADS_1
"Mana gue tau, kan udah dibagi"
"Tapi gue ngeri anjir, kalau kepleset kita jatuh kebawah. Mana gue masih jomblo lagi. Belum lagi anak-anak gue mau dikasih makan apa coba" Ringis Thony menatap kebawah. Kok curhat?
"Jatuh ya kebawah, kalau keatas melayang" Geram Jojo, kok bisa gitu lho punya temen yang goblok-nya sampai tulang sum-sum.
"Udah-udah jalan, kita cari tempat dimana Lidya sekap Lea"
Thony mengangguk, melanjutkan langkahnya. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di ruangan penyekapan Lea. Loncat dari jendela.
Bruk
"Pantat gue sakit" Ringis Thony sambil mengelus pantatnya.
Jojo menghela napasnya pelan, sabar Jo! Sabar punya temen kayak gini. "Gak usah curhat, buruan ke sana" Jojo menarik lengan Thony menuju ke Revan dan yang lain.
Mereka berdua tersentak kaget, melihat kejadian di depan mereka. Gak salah liat kan ya.
"Al" Lea tak bisa berkata-kata lagi.
Al mengeram, tangannya terkepal kuat, ingin melangkah tapi- tak bisa. Benda tajam itu sudah mendekat kearah Lea. Mungkin hanya terkikis satu senti, pisau itu sudah menancap ke perut Lea.
Sumpah demi apapun, jika benda itu memang tertancap pada Lea, Al bersumpah Lidya tak akan selamat darinya.
"Lo jangan bodoh!" Teriak Acha.
"Gue gak bodoh" Ucap Lidya dengan santai. "Gue cuma mau perjuangin cinta gue, gak salah kan?"
Gila!
Lidya gila!
"Jauhkan pisau itu pada Lea!" Geram Al, rahangnya mengeras menatap tajam kearah Lidya.
Lidya tertawa, tawanya memenuhi seisi ruangan. "Apa keuntungannya?" Tanya Lidya.
Lo untung Lidya juga untung.
Al terdiam, akh! kenapa jadi sulit sekali. Al kira Lidya baik, pintar, tapi semua hanya topeng, topeng untuk menutupi kebusukannya.
Lidya tersenyum miring, melihat kening Al berkerut, menandakan Al sedang berfikir keras.
Ini saat-nya
Saat-nya Lea mati!
"Selamat tinggal Lea" Lidya langsung saja menusuk pisau itu di bagian perut Lea.
"Akhhh.. " Teriak Lea, ketika banda tajam tersebut menembus perutnya.
Lea terhenti, matanya membulat ketika benda tajam itu menembus kulitnya. Tak hanya Lea, melainkan Al, Revan, Acha, Jojo dan Thony. Mata mereka membulat semua menatap cairan merah yang menembus. pakaian Lea.
Sangat jelas bahkan terlihat jelas.
"LEA!"
...…...
Cie yang digantung, gimana-gimana tegang gak? seru gak? Seru sih liat kalian yang kesel bwahahaha
Maaf guys baru Up, dari kemarin review mulu 🙏
__ADS_1
Spam lanjut kakak 🤍