Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴡᴇʟᴄᴏᴍᴇ ʙᴀʙʏ ᴀʟʟᴇᴀ


__ADS_3

Menit, jam, hari dan bulan. Telah Al dan Lea lewati bersama, banyak suka duka yang mereka lalui, banyak canda tawa yang membuat hidup mereka menjadi lebih berwarna.


Tak ada yang tau apa skenario Tuhan, kita tak tau apa yang terjadi kedepannya. Hanya tuhanlah sang pengatur semesta.


Begitu pun dengan kehidupan Al dan Lea, yang dulu hanya sebuah teman yang menghiasi hubungan mereka, sekarang berujung dalam ikatan rumah tangga.


Mereka harus melewati banyak lika-liku hingga mencapai titik ini.


Keduanya sempat terhubung dengan yang namanya friendzone. Cukup lucu, tapi keduanya menepis perasaan mereka dan lebih memilih untuk diam dan bungkam.


Karena mereka tau kalau mereka menyatakan perasaan mereka, malah mereka akan kehilangan orang yang tersayang. Lebih memilih diam dan bungkam adalah hal yang baik menurut keduanya.


Sampai akhirnya, Tuhan mempersatukan mereka dengan yang namanya perjodohan. Jaman sekarang perjodohan? Ya kali, jaman modern ini lagi.


Dan sekarang mereka sudah ingin mempunyai anak, anak yang nantinya akan menambah cerita dan warna dalam kehidupan Al dan Lea.


Pagi ini kedua melakukan sarapan seperti biasa. Al cowok itu sudah memulai kuliahnya sekitar satu minggu yang lalu. Dia diterima di Universitas Nusa Jaya, tempat kuliah sang Bunda dan mertuanya dulu menimba ilmu.


Al menerima setelah cukup lama berdiskusi dengan Lea, banyak sekali yang harus mereka pertimbangkan. Apalagi dengan keadaan Lea yang sekarang yang tengah hamil.


"Aku udah siapin bekal di tas kamu, jangan lupa dimakan" ucap Lea meminum susunya.


Al tersenyum, "Iya nanti aku makan, besok-besok gak usah dibuatin ya, nanti kamu kecapekan. Biar aku beli di kantin aja, kamu istirahat aja"


"Selagi aku bisa kenapa enggak Al, lagian kalau istirahat badan aku malah sakit semua"


Al hanya bisa menghela nafas pasrah, istrinya memang cukup sulit untuk di kasih tau "Dokter bilang HPL nya satu minggu lagi?"


"Iya, kata tante Syera satu minggu lagi"


"Nanti aku bakal minta izin buat cuti biar bisa nemenin kamu"


"Kamu yakin? baru masuk lho Al"


"Ya iya dong, masa iya aku biarin kamu sendiri kan gak mungkin Le, gak usah dipikirin akunya gimana" Al mengusap lembut kedua tangan Lea. Melanjutkan makannya.


Selesai makan Al yang mengambil alih untuk mencuci piring, setelah Lea hamil apalagi sekarang tengah hamil tua. Al akan membantu sebisa mungkin untuk membantu Lea entah pekerjaan ringan ataupun yang berat.


Ternyata capek juga ya ngurus rumah, harus beres-beres, bersih-bersih, mengatur keuangan. Tapi semuanya juga buat masa depan. Biar kita mandiri.

__ADS_1


"Aku berangkat ya, udah hampir telat"


"Iya, ati-ati. Jangan ngebut di jalan" Lea mencium tangan Al.


Menghantarkan Lea sampai depan, saat ingin menuju ke pintu. Perut Lea tiba-tiba terasa mulas. Yang membuatnya meringis, Al yang melihat itu panik.


"Kenapa Lea?" tanya Al khawatir.


"Al, kenapa perut aku sakit?" tanya Lea.


Al membulatkan mata, seketika dia ikut panik juga. Apa jangan-jangan Lea mau lahiran lagi? Al berupaya tenang walaupun hatinya begitu panik, mengendong Lea dan membawanya ke rumah sakit.


...…...


Suara brankar menggema di rumah sakit. Dokter Syera dengan sigap menanggani Lea.


Semuanya sudah berada di rumah sakit, semuanya telah berkumpul sudah ada keluarga Lea dan Al, sebelumnya diperjalanan Al menelpon yang lain.


Tentunya dengan kehadiran sahabat mereka berdua yang menunggu kehadiran ponakan mereka yang unyu, penerus Alvarebos.


"Al sakit" ringis Lea, mengigit bibir bawah menahan sakit di perutnya.


"Kamu kuat Lea, please bertahan ya. Sebentar lagi" Al mencoba memberikan semangat, cowok itu semakin mengeratkan pegangan.


Mereka mengangguk mempersilahkan Al untuk masuk. Al langsung masuk ke dalam menemani Lea yang mempertaruhkan nyawanya demi malaikat kecil mereka.


Menatap kearah Lea, keringat membanjiri wajahnya. Al menghampiri Lea dan memberikan kecupan pada wajah Lea.


"Kamu kuat, kamu bisa. Katanya mau besarin sama-sama, hm. Ayo semangat sayang" bisik Al.


Lea hanya bisa mengangguk, rasanya untuk membuka suara saja susah.


Di luar ketiga sahabat Lea saling berpelukan.


"Gila Lea yang lahiran gue yang deg-degan" celetuk Ghea, cewek itu sudah balik dari Jogja. Tak jadi menetapkan ke sana.


"Sama woi, sebentar lagi gue jadi onty dong" ucap Danish.


"Temen gue udah jadi mak bentar lagi" guman Acha.

__ADS_1


...…...


Dokter Syera menghampiri Lea, memposisikan dirinya di depan kaki Lea. Memberikan instruksi ke Lea untuk menarik napas dalam-dalam dan membuang napas perlahan.


"Sekarang bisa dimulai. Tarik napas dalam-dalam lalu buang ya? ayo!" instruksi Dokter Syera pada Lea.


Lea mendesis "Al, sa-kit" lirih Lea.


"Ayo sayang, sedikit lagi. Kamu bisa" Al menggenggam erat tangan Lea.


Cowok itu memberikan kembali kecupan pada kening Lea, menghapus keringat yang membanjiri wajahnya.


"Ughn Al sakitt" Lea menutup mata sekejap. Nafasnya tersengal.


Al menatap iba Lea, ada rasa bersalah dalam dirinya. Yang harus menghamili Lea di usia yang cukup muda seperti sekarang. Seharusnya dia menahan hasratnya.


"Lea sayang nya Al, kuat ya? Kamu bisa sayang, sekali lagi ya?" Al masih mencoba membantu Lea sebisa mungkin.


"Gak kuat Al, sakit" lirih Lea dengan suara parau nya, bahkan suaranya hampir tak bisa Al dengar.


"Le ayo, sedikit lagi kamu bisa sayang ayo!" Al memberikan semangat, air matanya hampir menetes.


"Sekali lagi, tarik napas lalu buang" Dokter Syera memberi instruksi kembali.


Lea menarik napas dalam-dalam membuang perlahan dan mendorong. Lea semakin mempererat genggaman kepada Al


Hingga akhirnya suara tangisan keluar, membuat Al dan Lea tak bisa menahan air matanya. Begitupun diluar semuanya bernapas lega mendengarkan suara tangisan bayi.


oooeeekkk.. oooeekkk.. oooeekkk.


"Selamat Al, anak kalian lahir sempurna ganteng dan tak kurang apapun" ucap Dokter Syera.


Tangan Al memegang pinggir brankar, cowok itu menunduk. Air matanya mengalir, rasa haru sekaligus bahagia menjadi satu.


"Le ini gak mimpi kan?" tanya Al yang masih belum menyangka


Lea menggeleng "Gak, kamu gak mimpi. Jangan nangis dong. Udah jadi papa masih aja nangis" tangan Lea terulur untuk mengusap air mata Al.


"Makasih Le" Al kembali mengecup seluruh wajah Lea. Sedari tadi hatinya tak berhenti mengucapkan syukur.

__ADS_1


...…...



__ADS_2