Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ɪᴋᴜᴛ ᴋᴇ ᴋᴀɴᴛᴏʀ


__ADS_3

Seminggu sudah, Rika dan Ardit sama-sama menjalani bahtera rumah tangga. Kini Rika mulai tau kebiasaan apa saja yang biasanya Ardit lakukan.


Seperti, sebelum makan Ardit selalu meminta dibuatkan minuman air hangat dengan perasaan lemon.


Seminggu sudah, Rika hanya di apartemen. Malas keluar juga. Memilih bersantai di dalam dan mengerjakan tugas rumah.


Pagi ini, seperti biasa. Ardit akan berangkat ke kantor, melakukan kebiasaannya sebelum menikah.


Sebenarnya sudah dari beberapa hari kemarin Ardit bekerja, dan meninggalkan Rika sendiri di Apartemen lalu kembali sekitar pukul 7 malam.


Rika sedang asik membikin sarapan pagi. Rencananya gadis itu ingin membuat sandwich, tak perlu susah-susah untuk pagi hari.


Segaris senyum terlihat saat dirinya sudah selesai membuat sarapan pagi, menaruhnya di atas piring dan membawanya ke atas meja makan.


"Selesai juga," gumam Rika.


"Kak Ardit, sarapannya udah selesai!" pekik Rika dari bawah, tapi tak ada balasan sama sekali dari atas. Tak biasanya.


"Kak Ardit," panggil Rika kembali. Kini dia melangkah naik ke atas untuk mengecek apakah Ardit sudah selesai menyelesaikan ritual mandinya atau belum.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, manik mata coklat menelisik ke seluruh sudut kamar. "Kak Ardit di dalam?" tanya Rika, berdiri di depan kamar mandi.


Tangannya mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.


"Iya aku di dalam," akhirnya menjawab juga.


Memilih untuk menyiapkan pakaian Ardit, Rika mendekati lemari untuk mengambil pakaian yang Ardit pakai pagi ini.

__ADS_1


Suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Ardit yang memakai kaos polos dan celana pendek.


"Ini bajunya, buruan ganti. Sarapan udah ada di bawah," ujar Rika memberikan jas ke Ardit.


Kembali masuk ke dalam kamar mandi, tak lama Ardit keluar dengan pakaian kerja. Menatap ke arah kaca, tangannya asik merapikan dasi.


"Sini, biar Rika bantu." Rika mengambil alih untuk memasangkan dasi di kerahasiaan Ardit.


Dengan sedikit berjinjit tentunya. Maklum saja, tinggi Rika hanya sebatas dada Ardit.


Tersenyum bangga saat dasi itu terpasang rapi. "Udah selesai," membantu kembali memakaikan jas.


"Makasih,"


"Sama-sama, kak," panggil Rika.


Berdehem singkat Rika berkata. "Rika boleh ikut ke kantor gak?" tanya Rika pada Ardit.


"Ya kan-- Rika bosen kak, masa rumah terus. Boleh ya, kali ini aja." Rika menakupkan kedua tangannya di depan dada, memohon supaya Ardit mengijinkan dirinya ikut ke kantor.


Menghela napas gusar. "Aku antar ke rumah Mama ya, atau gak ke rumah Bunda aja. Daripada nanti kamu malah diam, di kantor." Bujuk Ardit.


Rika menggelengkan kepala dengan tegas. "Gak mau, kali ini aja." Bukan Rika namanya jika tak bisa membalikkan kata-kata.


"Mending aku ikut kamu aja, dari pada diam diri di rumah. Nggak ngapa-ngapain," katanya yang masih berusaha.


"Tapi Rik--" ujar Ardit menggantung.


"Oke, kamu ganti sekarang, aku tunggu di bawah. Jangan lama-lama ya," cetus Ardit. Berhasil membuat Rika tersenyum girang.

__ADS_1


"Siap Bos!" berdiri tegak sambil hormat. Hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Rika.


"Jangan di tinggal ya!" pekik Rika dari kamar.


"Jangan lama-lama ya!" balas Ardit sedikit teriak.


Rika langsung mencari pakai ke dalam lemari. Hingga dirinya memutuskan untuk memakai pakaian santai.


Dengan sweater crop top berwarna putih serta celana legging tak lupa sepatu dengan warna yang senada.


Usai menganti pakaiannya, Rika berjalan ke arah meja rias dan mengoleskan wajahnya dengan sedikit make up yang natural.


Dirasa sudah selesai, dirinya mengambil tote bag dan turun ke bawah, kembali melirik ke arah kaca memastikan sudah pas.


Rika langsung menutup pintu, tak lupa mematikan lampu.


Sampai di bawah, Rika mengajak Ardit untuk sarapan sebentar. "Makan dulu gak papa kan?" tanya Rika sambil menuangkan susu ke dalam gelas.


"Gak masalah," balas Ardit lalu memakan sandwich bikinan Rika. "Kamu yang buat?" Rika mengangguk. "Enak," puji nya.


"Kamu makan juga, jangan sampai lupa!" tegur Ardit dengan tegas. Untungnya satu minggu ini, maag Rika tak kambuh.


Itu semua karena Ardit selalu mengawasi Rika, tak lupa selalu menelpon nya, untuk memberi tau makan siang.


Untung saja ada Ardit, mungkin jika tak diingatkan lelaki itu.


Rika tak tau lagi sama maag nya ini, karena mungkin hampir setiap hari maag Rika kambuh, akibat telat makan.


"Berangkat sekarang," ajak Ardit.

__ADS_1


"Yuk!" balas Rika tak kalah semangat, yang kerja siapa yang semangat siapa.


__ADS_2