
Berita tentang keracunan sudah menyebar seantero SMA Trisatya, minuman buat Lea menjadi topik bahan pembicaraan mereka. Semalem ada sekitar 15 anak yang mengalami keracunan minuman setelah membeli minuman Lea.
Yang membuat para orang tua melapor kepada guru, Lea dan yang lain di buat kaget semalam. Mereka berfikir mereka sama sekali tak memasukan obat racun atau yang lainnya yang menyebabkan orang sakit.
Buktinya Al, kemarin dialah orang pertama yang mecoba minuman Lea dan sekarang dirinya sehat-sehat aja tak ada sakit atau masalah yang lainnya.
Lea berjalan menuju ke kelas, tak sedikit yang membicarakannya. Dari mulai masuk hingga menuju ke depan kelas omongan tersebut terdengar di telinganya.
"Oh dia yang jualan, untung kemarin aku gak beli"
"Iya dia yang jualan, kemarin gue beli sih tapi gue kasih ke yang lain"
"Enak sih kemarin minumannya tapi kok keracunan ya?"
Dan masih ada lagi, banyak pro kontrak diantara mereka ada yang tidak setuju dengan berita keracunan itu dan ada juga yang setuju.
Bagi yang tak setuju mereka itu kebanyakan yang beli minuman Lea dan mereka alhamdullilah sehat. Yang setuju mereka adalah anak-anak yang tak suka dengan Lea dengan apa yang Lea miliki.
Iri bilang bos!
Karena ini bukan pertama kalinya Lea dan anak kelas menjual minuman atau makanan ketika ada bazar. Tapi kenapa tahun ini kejadian.
Lea masuk kedalam kelas, anak-anak menatap kerahnya, Dimas selalu ketua kelas menghampiri Lea yang sudah duduk di bangkunya.
"Le, sorry nih. Bukannya apa-apa ya. Kok bisa sih hal itu terjadi?" Tanya Dimas.
Dimas selaku ketua kelas juga kena dalam hal ini karena dialah yang bertanggung jawab atas penjualan teman-temannya.
"Gak tau Dim, biarin lah nanti gue bilang ke para guru kalau ini salah paham" Ucap Lea.
Terdengar suara panggilan yang memanggil nama Lea, Lidya dan Acha yang di suruh menuju ke ruang guru.
"Panggilan kepada Lea, Acha dan juga Lidya dimohon untuk ke ruang guru sekarang juga!"
Lea sebenarnya malas, bahkan sangat malas. Pasti ini bakal di interogasi, udah tau Lea malas di tanya.
Lea, Lidya dan Acha bangkit. Berjalan keluar kelas dan menuju ke ruang guru.
"Assalamu'alaikum" Ucap mereka bertiga memasuki ruang guru.
"Waalaikumsalam. Masuk!"
"Silahkan duduk" Ucap Bu Opi.
Lea menatap sekeliling tak hanya dirinya dan kedua sahabatnya saja. Melainkan para orang tua yang melapor anaknya akibat keracunan.
"Lea bisa jelaskan"
"Mohon maaf sebelumnya, saya sama sekali tidak memasukkan obat atau racun dalam jualan saya. Sebelum kita membuat kita cek terlebih dahulu semua dan semuanya aman" Ucap Lea menjelaskan.
"Halah bohong! Buktinya anak saya sampai masuk rumah sakit gara-gara minuman kamu, tanggung jawab kamu! Kalau kamu gak bisa tanggung jawab saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum" Ucap salah satu ibu yang memakai kerudung.
"Ibu tenang terlebih dahulu ya, Lea apa kamu yakin? Atau kamu salah memasukan apa gitu?"
"Tidak Bu, saya gak memasukan apa-apa dalam minuman saya"
"Benar Bu, kemarin kita sudah cek semua dan semuanya aman" Ucap Acha menimpali ucapan Lea.
"Terus kalau kalian gak masukin apa-apa kenapa anak saya bisa masuk rumah sakit?" Tanya ibu berbadan gempal.
"Maaf Bu, mungkin saja anak ibu makan-makanan yang lain bukan minuman saya"
"Tapi anak saya terakhir minum-minuman kamu! Berarti itu ulah kamu!" Ucap Ibu berbadan gempal dengan ngegas.
Lea menjelaskan apa yang terjadi, tapi percuma salah satu orang tua malah membuat suasana makin panas yang membuat Lea, Acha dan Lidya dia hanya diam.
Dirinya ingin berbicara tetapi selalu dipotong dengan yang lain.
"Maaf Bu sekali lagi, tapi kebanyakan yang minum. jualan saya tak terjadi apa-apa" Ucap Lea membela dirinya.
"Terus anak saya keracunan apa kalau begitu? Orang anak saya bilang kalau dia minum-minuman kamu. Saya gak mau tau kasus ini akan saya bawa ke kasus hukum"
"Maaf Bu lebih baik ibu tenang terlebih dahulu kita cari sisi terangnya. Saya mohon jangan sampai kasus ini di bawa ke hukum" Ucap Bu Opi menenangkan ibu itu.
"Gak kalau kamu gak bisa jelasin saya akan bawa kasus ini ke hukum, penjelasan kamu sama sekali gak ngaruh"
Acha yang dari tadi diam tak terima. Apa-apaan tadi dia bilang apa tak bisa menjelaskan? Terus yang dari tadi mereka adu bacot itu apa?.
"Maaf ya Bu perasaan ibu sendiri yang dari tadi ngegas, semuanya santai saya tau ibu khawatir tapi kenapa ibu malah ngomong ngalur ngidul ya! Kita sudah jelaskan apa yang terjadi lho!" Ucap Acha yang tak terima.
"Kamu jelasin apa? Pokoknya jika kamu gak bisa jelasin saya akan lapor ke hukum!"
Sampai akhirnya Al datang membantu menjelaskan semuanya. Hingga akhirnya masalah selesai. Lea dan yang lain tanggung jawab atas kerugian yang terjadi.
Acha masih aja ngedumel dirinya tak terima oleh ucapan ibu tersebut, padahal kan kita jelasin baik-baik malah situ yang ngajak ribut.
"Udah Ca, tenangin diri lo" Ucap Lea menenangkan Acha.
"Gimana gak tenang sih gue tuh ibu-ibu ngajak ribut"
__ADS_1
Sekarang mereka semua sudah berada di kantin, rapat tadi baru selesai ketika waktu istirahat tiba.
Al yang tadi tiba-tiba datang membuat suasana menjadi sedikit tenang, dirinya dari tadi mendengar pembicaraan di dalam. Al tak terima Lea di tindas. Al tau orang tersebut ingin membuat Lea menjadi menurun.
"Gue gak habis fikir, beneran. Masa iya sih minuman kita beracun, kalian aja yang minum baik-baik aja gak ada kendala. Masa mereka bisa keracunan" Ucap Acha dengan bingung.
"Udah-udah-udah gak usah dipikir, yang penting kita udah bayar tanggung jawab kita"
"Bukan gitu Lea! Lo mah kebaikan jadi orang!" Ucap Acha dengan kesal.
Dirinya bingung, walaupun Lea kadang ngeselin tapi dia paling gak tega antara yang lainnya, Lea yang paling awal ketika temannya kesusahan.
"Terus gimana? Udahlah Ca lupain, biarin yang penting kita gak ada hutang"
"Lo sadar gak sih? Kita di peres lho! Lo sadar gak? Ibu-ibu tadi yang ngajak ribut itu minta uang berapa? Satu juta Le! Dia pikir kita kerja sampai tuh orang minta duit sebanyak itu"
"Le! Please lah lo jangan terlalu baik jadi orang! Kesel gue" Lanjut Acha kembali.
"Eh bener lho Le yang diomongin sama Acha" Ucap Ghea yang setuju dengan ucapan Acha.
"Udahhh! Kalian tambah bikin gue pusing aja! Udah lah lagian masalahnya juga udah selesai gak usah diperpanjang" Ucap Lea.
"Ya-"
"Udah!" Ucap Lea dengan suara yang sedikit lebih tinggi.
Di lain tempat, orang itu tersenyum. Menatap orang yang ada di depannya. Merogoh rok saku dan memberikannya uang dalam amplop berwarna coklat.
"Bagus, lo bisa gue andalkan, nih bayaran lo!" Ucap wanita tersebut memberikan bayaran pada orang di depannya.
"Tenang aja, kalau mau apa-apa lo bisa hubungin gue" Ucap Ibu tersebut menerima uang bayarannya.
Dan ternyata ibu-ibu tersebut mendapatkan bayaran, orang tersebut hanya bayaran tak lain tak bukan untuk menindas Lea.
"Lo boleh pergi!" Ucap wanita tersebut.
Wanita itu tersenyum, dia berhasil membuat Lea masuk dalam masalah. Ini bukan apa-apa, ini masih pemanasan.
"Tunggu kejutan dari gue Lea!" Ucap Wanita tersebut dengan tatapan yang aneh.
...…...
Waktu pulang telah tiba, Lea dan yang lain berjalan menuju ke parkiran. Acha masih saja menekuk mukanya, dirinya masih saja sebal dengan urusan tadi.
"Anjir! Muka lo kayak cucian aja. Kusut bener dah!" Ucap Danish.
"Ca! Udahlah. Oke gue minta maaf tapi udahlah biarin percuma juga kalau lo minta" Ucap Lea.
"Lha pulang! Yasudah gue juga balik bye, yok Ghe!" Menarik tangan Ghea.
"Kita balik duluan ya!" Pamit Thony dan dapat anggukan dari Al.
"Balik yuk" Menggenggam tangan mungil Lea menuju ke parkiran.
Memasangkan helm, menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Dari belakang terdapat beberapa motor yang sedang mengikuti mereka.
Al menatap dari kaca spion "Pegangan!" Ucap Al yang langsung menancap gas di atas rata-rata.
Motor tersebut terus mengejar motor Al. Menerobos dan menghentikan didepan Al, yang membuat dirinya mematikan motornya. Menatap dingin orang yang ada didepannya.
"Al"
"Tenang aja ada gue" Bisik Al menggenggam erat tangan Lea.
Bara (tangan kanan Vellix) berjalan menghampiri Al dan Lea yang berada di belakang Al. Menatap sekeliling, terdapat sekitar 15 anak yang melingkari Al dan Lea.
Langsung saja menggenggam tangan Lea erat dan membawanya kabur, bisa aja Al menghajar mereka tapi karena ini ada Lea, Al tau seberapa liciknya Vellix bisa jadi salah satu dari mereka akan membawa Lea pergi.
Menyembunyikan Lea di belakang pohon "Tunggu disini!" Meninggalkan Lea yang menggenggam kedua tangannya. Berlari sedikit menjauh dari Lea.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Al menangkis pukulan, sesekali dirinya terkena bogeman dari anggota vellix matanya tak berhenti menatap kearah Lea yang bersembunyi di belakang pohon.
"Sialan!" Umpat Al ketika bogeman mengenai wajahnya.
Lea berdoa semoga Al tak apa-apa. Lea kepikiran kenapa gak telpon anggota Alvarebos yang lain. Menggambil handphonenya pada saku dan menyalakannya.
Keberuntungan tak berpihak padanya, handphonenya lowbat yang membuat Lea kesal.
Langkah kaki mendekat kearahnya, membuat Lea menoleh kebelakang mendapatkan Bara yang menatap dirinya dengan senyum menjijikan.
"Disini ternyata"
__ADS_1
"Mau apa lo!"
"Ikut gue!" Bara menarik tangan Lea dengan kasar yang membuat Lea meringis.
Dengan cepat Lea menepis tangan Bara dengan kasar, menatap Bara tajam.
"Berani juga lo!" Bara dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Terus gue harus takut sama lo!"
"Dikasari boleh kayaknya" Ucap Bara yang langsung menyerang Lea.
Dengan cepat Lea menghindar pukulan Bara. Al teringat dengan ucapan Al tempo hari.
"Kalau lo kena masalah atau lo lagi dalam bahaya, lakuin cara ini. Tendang masa depannya, terus lari sekencang-kencangnya. Paham!"
Lea dengan cepat mengikuti ucapan Al.
Bugh
"Aw.." Bara meringis ketika hartanya kena tendang.
Loyo gak tuh.
Al tersenyum melihat Lea melawan Bara, tak di sangka Lea cukup hebat melawan serangan demi serangan dari Bara.
Plak
Tamparan mendarat pada pipi Lea, rasa panas dari tamparan tersebut begitu terasa pada pipinya.
"Sakit?" Tanya Bara sambil menahan sakitnya yang dibawah.
Bara mendekatkan dirinya pada Lea, dan mencengkram kasar dagu Lea. Al yang melihat itu tak tinggal diam.
Bugh
Tendangan tersebut membuat Bara terjatuh, menatap kesal Al.
Al tak peduli dengan itu, dirinya langsung saja membabi buta Bara, salah sendiri berani-beraninya dia memegang Lea tanpa seizin nya.
Al tak peduli dengan keadaan Bara yang bisa dibilang cukup mengenaskan, dengan muka yang dipenuhi luka, hidung dan mulut yang berdarah akibat pukulan keras darinya.
Mendorong Bara hingga terjatuh ke tanah, nafas Al memburu naik turun.
"Sialan berani-beraninya lo pegang dia!" Sekali lagi dengan menendang perut Bara yang membuatnya memuntahkan darah.
"Al stop!"
Menarik tangan Lea dan menuju ke motornya, meninggalkan anggota Vellix yang terkapar di atas aspal.
...…...
Sekarang mereka berada di warung bu ndut. Di sini tempat dimana Al dan yang lain berkumpul.
"Kok bisa tuh muka kena babak belur"
"Gila tuh Bara! Edan! Bisanya cuma kroyok tapi di kroyok minta ampun" Gerutu Jojo.
Al hanya diam, tangan kecil Lea sedang membersihkan beberapa luka lebam yang ada di muka Al.
"Kenapa lo gak bilang kita aja" Ucap Revan yang sedari tadi diam.
"Bener tuh. Tangan gue udah gatel pingin nabok" Ucap Thony setuju dengan omongan Revan.
"Eh Le! Pipi lo merah" Ucap Jojo yang membuat Al menatap kearah pipi Lea.
"Sakit?" Al bertanya sambil mengelus lembut pipi Lea yang merah.
"Entar gue ambilkan air dingin sama handuk"
Revan kembali dengan tangan yang berisi baskom berisi air dingin dan juga handuk. "Nih" Revan memberikan wadah tersebut ke Al.
"Hm"
"Sini gue obatin" Al menarik dagu Lea dengan lembut, mengompres pipi Lea yang merah.
"Aw.." Ringis Lea.
Walaupun tak parah, tapi sedikit ngilu. Meniup pelan pipi Lea. Revan, Jojo dan Thony langsung menoleh ke belakang.
Gak tau apa sahabatnya masih jomblo!
Mohon bersabar ini ujian!
"Woi kalau mau romantis jangan depan gue ngapa sih! Hargai yang jomblo" Usap Jojo yang tak Terima.
...…...
Gimana lanjut gak?
__ADS_1
Oh iya Nana bakal revisi untuk beberapa eps jadi akan ada perubahan nantinya.
Vote dan komen sebanyak-banyaknya yuk!!!