Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴍᴇɴᴊᴇʟᴀsᴋᴀɴ sᴇᴍᴜᴀɴʏᴀ


__ADS_3

...Don't forget to like, comment, vote 😉...


...…...


Hari ini Lea kembali menginjakkan kakinya disekolah. Setelah hampir tiga minggu berisitirahat di rumah.


Sedari awal, namanya terus terdengar, banyak pasang mata yang menatapnya. Bisikan-bisikan terdengar jelas ditelinga Lea. Itu gibah atau gimana? Rame bener.


"Wah gila sih ternyata mereka udah nikah aja"


"Omo! Gue kira masih sahabatan"


"Ini mah sahabat jadi cinta"


"Mereka cocok tau, fiks mereka idaman"


"Yah pupus dong harapan gue"


Tangan Lea menjadi dingin, sebentar telinganya gak salah denger kan? nikah? Jangan bilang kalau pernikahannya udah tersebar?


Berita pernikahannya dengan Al menjadi trending topik disekolah. Bukan hanya itu melainkan kecelakaan Lea yang sempat booming pada masanya.


Lea tersentak ketika sebuah tangan menggandengnya hangat. Mendongak mendapatkan Al yang menatap dirinya.


Al tau Lea tak nyaman, apalagi keadaan Lea yang bisa dibilang, masih memiliki trauma tentang kejadian waktu itu.


"Pulang?"


Lea menggeleng. "Gak mau"


Menghela nafas kasar, Al mengangguk. "Gak usah didenger omongan mereka. Bayangin mereka cuma orang yang gak jelas asal usulnya"


Lea mengangguk "Iya Al"


Kecupan mendarat pada puncak kepala Lea. "Jangan nangis lagi!"


"Iya, ya udah aku. masuk ke kelas bye!"


Al mengangguk, menatap gadisnya yang masuk kedalam kelas terlebih dahulu. Ia pun berbalik menuju ke kelasnya yang berada tepat didepan kelas Lea.


...…...


Jam istirahat telah berbunyi, Al dkk berjalan menuju kemeja Lea. Mendudukkan diri di samping Lea yang. membuatnya terkaget.


Pertanyaan dari mulut Lea, membuat mereka bertujuh diam seketika. "Oh iya Lidya gimana?"


Ghea yang ingin memakan baksonya terhenti, menatap Lea dengan tanda tanya.


Apa Lea belum mengetahuinya?


Oke, jadi Al belum kasih tau kalau Lidya udah mati. Mati karena bunuh diri. Padahal kan masalahnya bisa gitu diselesaikan dengan baik-baik. Bukan malah bunuh diri.

__ADS_1


Selesaikan masalah gak, dapet nambah dosa iya!


Jangan bahas dia lagi, takutnya gak tenang wkwkwk


"Kenapa?" Tanya Lea, bingung. Bingung karena mereka bertujuh menatapnya.


"Em anu, itu"


"Ada apa? Kok kayaknya ada yang kalian-"


"Makan!" Potong Al dengan cepat, tak lupa dengan wajah datarnya.


Lea mengangguk, dirinya memakan bakso pesanannya. Semuanya bernafas lega, karena Al bisa mengalihkan topik secepatnya.


...…...


Bersandar pada pintu, tangan Al memainkan kunci mobil. Menunggu gadisnya yang belum keluar, cuma kelas Lea dong yang belum. Yang lain mah udah.


Tak berapa lama, seluruh murid dari kelas Lea berhamburan keluar. Dan disusul Lea, Acha, Danish dan Ghea diakhir.


"Tuh dijemput"


"Yuk pulang" Al menarik lembut Lea.


"Iye! yang udah punya beda" Sindir Ghea.


"Makan tuh jomblo, nyinyir mulu idup lo" Acha berucap membuat Ghea mendegus kesal.


Gak ada apa, kata-kata yang enakkk gitu buat didenger? Boro-boro enak, yang ada nylekit di ati.


...…...


Didalam mobil tak ada pembicaraan, Al yang fokus dan Lea- seperti menahan sesuatu. Al melirik Lea sekilas, tangannya terulur untuk mengelus rambut panjang Lea.


"Ada yang mau diomongin?" Tanya Al, yang seakan tau dengan pikiran Lea.


Lea mengangguk. "Ada"


"Apa?"


"Tentang Lidya" Al mengangguk, kaget? tentu tidak, dirinya paham Lea pasti akan menanyakan hal ini padanya.


"Hhmm"


"Ih jangan hem doang! Jelasin!" Kesal Lea.


Al terkekeh, ahhh akhirnya Al bisa melihat muka Lea yang ditekuk seperti ini. Setelah sekian lama tak melihatnya.


"Jangan ketawa! Jelasin Al!" Rengek Lea, memukul pelan lengan Al.


"Oke, nanti aku jelasin di rumah. Gak baik dijalan" Ucap Al melanjutkan kembali menyetir nya, sesekali melirik Lea yang tengah kesal.

__ADS_1


Bener juga sih ya masa jelasin di mobil, gak enak juga, gak leluasa. Apalagi rawan kecelakaan.


...…...


Menatap Al serius, sekarang mereka berdua berada di kamar. Lea duduk bersila, seakan dirinya sedang mendengarkan sebuah dongeng dimalam hari.


"Jelasin!"


"Oke, jadi.... Lidya meninggal" Ucapan Al membuat Lea terdiam.


"Maksudnya? Lidya gak ada?" Tanya Lea, pelan.


Al mengangguk. "Iya, Lidya gak ada karena bunuh diri. Jadi setelah mau bunuh kamu, Mama sama Bunda tau, dan mereka bilang ke Lidya. Tak lama dari itu keesokan harinya Lidya gak ada, dia bunuh diri dari lantai 17" Jelas Al.


Lea masih tak faham, kenapa Lidya bunuh diri? Dan apa yang Mama dan Bunda bicarakan.


"Bunda sama Mama bicara apa?" Tanya Lea.


"Biasa! Mau hancur atau mendekam"


Ya, Kata-kata itu cukup menjadi familiar di keluarga mereka. Apalagi dengan Amel dan Rika. Jangan harap hidup tenang ketika kalian mengusik mereka.


Lea menunduk, ingatan tentang dimana dirinya dan Lidya yang berkenalan. Sampai akhirnya menjadi sahabat. Dan akhirnya menjadi musuh karena sebuah cinta.


Sebesar itukah cinta Lidya? Atau hanya obsesi semata?!


"Lea, hei kenapa?" Al kembali khawatir ketika melihat Lea yang berkaca-kaca.


"Gak, Lea cuma keinget aja sama Lidya, disaat dulu jadi sahabat, Tiba-tiba jadi musuh karena cinta. Kasihan Lidya"


Al menautkan alisnya bingung. "Kenapa kasihan?"


"Kasihan aja, habis bunuh orang dia malah bunuh diri. Kasian Lidya" Oh god! bahkan Lea masih kasihan dengan Lidya.


Setelah semuanya yang Lidya lakukan padanya?!


Al menghela nafas berat, hati Lea terbuat dari apa coba?


"Ceritain kenapa semuanya tau kalau kita udah nikah?" Tanya Lea, tak sabar.


"Aku gak tau, aku juga baru tau dari anak-anak. Kenapa? Kamu risih? Gak suka?" Lea menggeleng. "Terus?"


"Gak, bukannya apa-apa. Males aja. Kamu kan tau gimana nyinyir-nya anak sekolah. Apalagi tentang berita kayak gini, kayak dapat undian tau gak!" Ucap Lea, kesal.


"Udah, sekarang tidur udah malam. Besok sekolah" Menarik Lea kedalam pelukannya, dan menyelimuti Lea sebatas dada.


"Good night Al"


"Good night babe" Tak lupa mengecup singkat puncak kepala Lea.


...…...

__ADS_1


Spam lanjutnya kakak 🤍


Semangat puasanya guys


__ADS_2