
Bel sekolah sudah berbunyi 10 menit lalu. Tapi itu tak membuat gadis cantik ini beranjak dari tempat duduknya.
Sudah dari tadi, sahabatnya mengajaknya pergi ke kantin. Namun tetap saja, dia tak mau ikut.
Lea, gadis dengan rambut yang di urai. Sedang malas, baru juga sehari masuk sekolah mager sudah menyerangnya.
"Lea, ayo dong! Ke kantin," mohon Ghea.
Di sekolah Lea memiliki 3 sahabat yaitu Acha, Ghea dan Danish.
Mari kita perkenalan sama 3 gadis cantik, mereka juga termasuk menjadi salah satu most wanted girl nya Trisatya.
Yang pertama ada Acha Rawles. Sahabat paling lama yang Lea punya, mereka sahabatan mulai dari jenjang taman kanak-kanak. Sifatnya yang pengertian dan cukup dewasa membuat Lea, Ghea dan Danish merasa nyaman.
Tapi jangan salah dulu, Acha memang pendiam cuma kalau urusan mengenai sahabatnya cewek itu tak akan tinggal diam. Satu lagi, jangan sampai Acha mengeluarkan kata-kata mutiara nya sebelum mental kalian yang break down.
Kedua ada Danish Madison. Danish dan Lea berteman sejak kelas 8 SMP. Danish sangat suka dengan drama sama halnya seperti Lea. Sifatnya yang polos kadang membuat orang-orang naik darah.
Terakhir ada Ghea Agustina. Sahabat Lea sejak bangku SMA, sifatnya memang cukup cerewet, biasa namanya juga cewek. Paling suka menistakan Danish.
"Iya Le, masa lo gak kasihan sama gue. Gue udah kelaparan nih, kalau gue mati disini gimana?" tanya Danish mendramatis.
"Gue mager astaga," ungkap Lea masih dengan posisi yang sama.
"Gak usah dipaksa kalau gak mau, lo sakit?" tanya Acha, sungguh pengertian sekali dia.
Lea menggeleng sebagai balasan. "Oke, yuk kantin!" ujar Lea setelah mereka bertiga membujuknya.
Sesampainya di kantin, dugaan mereka benar. Seluruh meja di penuhi oleh seluruh murid yang beristirahat.
Hanya menyisakan satu tempat duduk yang berada di ujung sana. Tempat yang sudah di klaim oleh Alvarebos, satu tahun lalu.
"Gue mau balik," malas sekali rasanya duduk di sana. Belum juga balik, kedua tangan Lea sudah dikunci rapat rapat sama Ghea dan Danish. Sedangkan Acha, hanya bisa menggelengkan kepala
"Gak boleh!" tolak Danish. "Lo harus disini, masa lo tega biarin kita kelaparan gitu aja? Terus kalau kita pingsan gimana, mau tanggung jawab?"
"Lo lupa, Ghea punya penyakit maag tau. Masa iya lo tega bikin sahabat lo ini Kelaparan?" tanya Danish kembali.
"Kok gue yang dibawa-bawa," protes Ghea. Danis langsung memberi kode ke Ghea, membuat cewek itu mengangguk paham.
"Iya, Le tega amat lo!" sahut Ghea.
"Minggir!" suara bariton yang membuat mereka berempat menoleh kebelakang.
Alvarebos
Al jalan duluan, meninggalkan yang lain. -Kalian ngapain disini? Bukannya duduk malah tutupin jalan," ujar Jojo.
"Gimana mau duduk, orang mejanya penuh bego!" umpat Ghea dengan kesal. Entah mengapa ketika bertemu dengan Jojo, emosinya tiba-tiba meluap.
"Diam lo!" tunjuk Jojo. "Gue gak bicara sama lo ya!" kata Jojo.
__ADS_1
"Bodoamat kadal," sungut Ghea tak mau kalah. "Gunanya mulu buat apa kalau gak buat bicara?"
"Berantem terus," sindir Thony. "Awas loh balikan mampus!" ujar Thony mengejek.
"Balikan? Sama dia? Dih ogah," keduanya sama-sama melengos ke samping sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Bicara tentang Ghea dan Jojo, mereka berdua pernah pacaran mungkin sekitar 1,5 tahun. Namun, entah mengapa tak ada angin tak ada hujan. Hubungan mereka kandas di tengah jalan.
"Bareng kita aja," sahut Revan yang sedari tadi diam.
"Tuh diajak sama Revan, udah ya. Gue balik kelas bye--" tangan Lea kembali dikunci rapat oleh Ghea dan Danish.
"Mau pesan apa?" tanya Jojo yang akan pergi untuk memesan makanan.
"Samain semua," jawab Al dengan cepat.
Jojo mengangguk lalu memesan makanan. Tak perlu lama-lama, Jojo datang dengan satu orang yang membawa pesanan mereka.
Dari mereka berdelapan, hanya Lea saja yang memesan minuman. Perutnya masih begitu kenyang siang ini.
...
"Assalamu'alaikum," sapa Al saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, muka kamu kenapa sayang?" tanya Rika dengan khawatir.
Al tersenyum paham. "Biasa Bun,"
"Sekarang ganti terus makan siang. Udah Bunda siapin di atas meja makan. Nanti kamu ambil sendiri," suruh Rika.
Al mengangguk singkat, lantas naik ke atas dan menganti seragamnya dengan kaos santai.
Tengah asik dengan rebahan, ponsel miliknya berdering, membuat Al menghela napas kasar. "Baru juga mau istirahat," gumamnya pelan.
"Apa?"
"Sebagian basecamp rusak, dan beberapa jendela rusak. Lo buruan kesini!" ucapnya di sebrang.
"Oke, gue ke sana sekarang. Lo cek seluruh basecamp ada apalagi yang rusak," perintah Al dan langsung mematikan panggilan sepihak.
Dengan cepat, Al menyambar jaket dan turun ke bawah dengan buru-buru. "Bunda! Al pamit keluar, ada urusan sebentar. Assalamu'alaikum," tak ingin menunggu lama Al langsung berlari keluar.
"AL KAMU BELUM MAKAN SIANG!" pekik Rika berteriak, lagi lagi hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kebiasaan, main nyelonong aja." Rika kembali menghela napasnya gusar.
...
Sampai di depan bangunan yang cukup terlihat tua. Al menghampiri para anggota yang berada diluar. "Gak ada yang terluka kan?" tanya Al membuat seluruh anggota menatap ke arahnya.
"Alhamdulillah gak ada," jawab Revan membuat Al mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Kok bisa-bisanya, basecamp rusak gini?" Al melayangkan pertanyaan pada seluruh anggota, matanya menelisik ke seluruh sudut basecamp.
"Kita datang udah berantakan gini," jawab Jojo. Jangankan Al yang dikagetkan, dia juga sama-sama kaget saat melihat basecamp berantakan begini.
"Yang lain?" Al mengangkat sebelah alisnya, mencoba untuk tak gegabah terlebih dahulu. Karena Al tak mau nantinya akan terjadi kacau.
"Tadi waktu kita santai, tiba-tiba kaca udah pecah. Pas kita keluar orangnya udah pergi gitu aja," jelas salah satu anggota.
Alis Al bertaut. "Lo tau gak ciri-ciri nya gimana?" cowok yang Al tanya hanya mengangkat bahu tak tau.
"Gak tau Bang, pas gue lihat orangnya udah menjauh gitu. Jadi gak kelihatan dengan jelas," ujarnya.
"Gue rasa ini ulah Bara," cetus Thony.
"Jangan nuduh tanpa bukti," sahut Revan dengan tegas.
"Tapi gue setuju sih sama Thony, coba lo semua bayangin. Musuh bebuyutan kita itu siapa?" tanya Jojo.
Bara namanya, tangan kanan geng motor Velix, musuh bebuyutan dari Alvarebos. Sejak dulu selalu tak suka jika geng yang diketuai oleh Al akan menang. Dan selalu melakukan berbagai cara agar geng yang diketuai oleh Al hancur.
Seluruh anggota saling terdiam, tak ada yang menjawab pertanyaan yang Jojo lontarkan.
"Cari bukti dulu," saran Al dan mengajak seluruh anggota untuk membereskan kekacauan yang ada.
Tak perlu waktu lama, keadaan basecamp sudah kembali seperti semula. Meski kacanya bolong, namun tak apa, bisa mereka akali dengan berbagai hal.
"Gue pamit dulu. Bentar lagi maghrib," pamit Al. Melirik sekilas ke jam dinding.
Mengambil motor di parkiran, Al dan beberapa anak lainnya pamit pulang. Tak berapa lama dirinya sampai di depan rumah berlantai dua dengan cat berwarna putih coklat.
"Assalamu'alaikum. Al pulang," sapa Al memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, mukanya kenapa lagi?" Ardit kembali menggelengkan kepala, melihat tingkah laku Al yang tetap sama saja.
"Biasa Pa," jawab Al singkat. Sambil menyalami tangan Ardit, lelaki itu duduk di samping papanya.
"Dari mana aja kamu?" tanya Rika. Menaruh nampan berisikan teh hangat serta beberapa kue kering.
Al mencomot satu dan berkata. "Ada masalah di basecamp,"
"Masalah apa?" tanya Rika dan Ardit bersamaan.
"Ada yang rusak basecamp," jawab Al.
"Udah dong sayang, baikan aja. Kenapa malah ribut," Rika menatap Al dengan khawatir.
Al tersenyum, lelaki itu mengusap tangan Rika dengan lembut. "Bunda tenang aja ya. Al bakal baik-baik aja kok. Kita juga lagi cari buktinya, Al masih gak mau buat nuduh orang tanpa bukti." Al mecoba memberikan pengertian.
"Bunda tau nak, tapi Bunda khawatir sama badan kamu." Rika mengusap rambut lebat putra semata wayangnya. "Janji sama Bunda, kalau kamu gak bakal sakiti badan kamu."
Al mengangguk cepat. "Al usahakan." Tapi gak janji, sambungnya dalam hati.
__ADS_1