
Malam hari pun tiba, kedua sejoli ini masih saja ribut. Setelah makan malam selesai, keduanya memutuskan untuk naik ke atas dan istirahat.
Namun keributan terjadi akibat keduanya sama-sama tak ingin mengalah satu sama lain.
"Ayolah Al, lo harus ngalah sama gue, lo tidur sofa aja ya, please." mohon Lea.
"Ogah!" tolak Al mentah-mentah. "lo aja yang tidur sofa, gue gak biasa tidur sofa, bisa-bisa besok badan gue sakit semua lagi." lanjutnya.
"Kalau lo tidur kasur, gue tidur mana dong. Lo mah gak bisa ngalah dikit sama cewek. Al tidur sofa please!" paksa Lea.
"Lo ngerti bahasa manusia gak sih, ogah, artinya gak mau." Al berucap sambil menekan ucapan akhirnya.
"Ya harus mau lah, lo kan cowok, lo suami di sini. Berarti lo harus ngalah sama cewek. Lo sofa ya, ayolah kali ini aja," Lea, gadis itu tetap saja memohon.
Al hanya menggidikkan bahu acuh, cowok itu tak memperdulikan lagi ucapan Lea, sekarang dirinya lelah dan ingin tidur.
"Terserah lo lah, capek gue. Mau tidur!" Al membaringkan dirinya di atas kasur, menghiraukan ocehan Lea sedari tadi.
"Loh kok lo tidur sih! Al!" rengek Lea, gadis itu menghentakkan kakinya kesal.
"Berisik Lea! Lo ganggu yang lain, udah sini tidur sama gue," Al langsung menarik Lea dan memeluknya erat.
"ALVARO!"
.........
Pagi hari pun tiba, kedua keluarga sedang melaksanakan sarapan mereka. Amel dan Arko -orang tua Lea. Semalam menginap di kediaman Aldebaran.
Pagi ini keributan sempat terjadi akibat salah kursi, Lea tak sengaja menduduki kursi -yang menjadi tempat duduk milik Al.
"Kalian berdua ini ribut terus, gak capek apa?" tanya Rika -bunda Al.
"Lea tuh," tunjuk Al.
"Lha kok gue sih? Kan gue gak sengaja duduk, lagian cuma salah duduk aja lo permasalahi," ucap Lea tak mau kalah.
Kedua orang tua mereka sama-sama menggelengkan kepala, tak ada hari tanpa ribut.
"Ayo makan, gak baik ribut di depan makanan. Gak sopan." lerai Ardit -papa Al.
Sarapan dilanjut, keadaan hening menyelimuti keduanya. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu.
Selesai sarapan, Rika, Amel, Arko dan Ardit mengantar Al dan Lea sampai depan. Al memutuskan untuk pindah ke apartemen yang satu tahun lalu kakek nya berikan padanya.
"Semuanya udah siap?" tanya Ardit.
Al mengangguk, "udah pa," jawabnya.
"Ma, pa, maafin Lea ya kalau ada salah. Maafin Lea yang belum bisa bahagian kalian," Lea memeluk kedua orang tuanya, tangisannya jatuh.
"Iya, maafin mama ya Le. Semuanya demi kamu juga, mama gak mau kamu salah pergaulan nantinya," Amel mengelap air mata Lea, wanita itu mengecup singkat kening Lea.
"Kalau ada masalah sama Al, dibicarakan baik-baik jangan ribut sana sini. Apalagi sampai perceraian. Papa tau kalian berdua saling sayang." ucap Arko -papa Lea.
__ADS_1
"Bun, pa. Al sama Lea pamit, maafin Al ya sering banyak salah ke kalian." ucap Al lalu memeluk kedua orang tuanya bergantian.
"Iya, maafin bunda ya, bunda tau ini berat buat kamu. Tapi bunda juga tau, kalau kamu bisa lalui semua," Rika memeluk Al dengan erat.
"Al jadilah suami yang bertanggung jawab, kurangi mainnya. Jangan banyak keluyuran, tanggung jawab kamu makin besar sekarang." Ardit memberikan nasihat.
Al mengangguk. "Iya pa, pasti."
"Ya udah, ma, pa. Al sama Lea pamit, assalamualaikum" tak lupa keduanya menyalami mereka berempat.
"Waalaikumsalam, kabarin ya kalau udah sampai!" ucap Rika, diangguki Lea dan Al.
.........
Mobil Al berhenti tepat di sebuah apartemen cukup elit. Apartemen ini biasanya diisi oleh pembisnis-pembisnis yang lumayan sukses.
Lea menghentakkan kakinya kesal, gadis itu mengeret kedua koper berukuran sedang miliki nya serta milik Al.
Lihatlah cowok itu malah berjalan santai sambil memainkan handphone, tanpa memperdulikan Lea di belakang.
"Kalau bukan suami, udah gue timpuk tuh kepala sama nih koper, jadi orang gak ada peka-peka nya sih." batin Lea kesal.
Senyum miring tercetak di bibir Al, cowok itu bersorak gembira melihat Lea yang dari tadi misuh-misuh akibat ulahnya. Bagi Al, seru aja gitu ngerjain Lea, seperti mempunyai kesenangan tersendiri.
Sampai akhirnya keduanya sampai di depan sebuah kamar berangkat 280. Al memencet sandi, tak berapa lama pintu itu terbuka.
Lea membanting kedua koper meninggalkan Al yang menatap Lea kebingungan.
"ALVARO!" teriak Lea yang membuat Al terlonjak kaget.
"Bangsat ngagetin tuh bocah biadab," batin Al sambil mengelus-elus dadanya.
"APA?"
Menuruni anak tangga dengan buru-buru, menghampiri Al yang menatap Lea bingung. Ngapain nih bocah? Pikir Al.
"Napa lo?" Tanya Al dengan bingung.
"K-kamarnya cuma satu?" Tanya Lea sambil menunjuk tangga.
Al memutar bola mata malas, jadi turun buru-buru cuma bilang ini? Kamarnya cuma satu? Gila emang, kirain ada apa-apa.
"Mana gue tau," meninggalkan Lea yang menahan kesal setengah mampus.
Bukannya di jawab malah ditinggal "Al gue tanya bener-bener, jawab dong!" ucap Lea dengan kesal.
"Mana gue tau Lea!"
"Masa lo gak tau sih, lo bohong ya pasti ada kamar lagi kan disini?" tanya Lea.
"Gak tau," Ucap Al menekan setiap kata.
Lea mengacak rambutnya, daripada ngomong sama kulkas mending naik keatas. Beres-beres lebih berguna daripada ngomong sama Al yang gak ada gunanya. Menghentakkan kaki kesal, Lea naik ke atas. Membuka koper dan memasukkan kedalam lemari dengan kesal.
__ADS_1
"Sabar Lea sabar, dia suami lo sekarang kalau bukan udah gue cakar tuh muka" batin Lea.
...…...
Malam hari tiba, Lea sedari tadi telah memanggil Al namun hingga sekarang cowok itu tak membalas apa pun panggilannya, dengan kesal gadis itu naik ke atas.
"Al,"
"Alvaro!" panggil nya kembali.
Gadis itu menghela nafas kasar, menghampiri Al yang dari tadi memainkan handphonenya. "Ini anak budeg apa gimana? Dipanggilin dari tadi gak nyaut terus." gumam Lea.
"Pantesan gak kedenger ucapan gue, orang dia pakai earphone dari tadi." batinnya bersabar, langsung saja Lea menarik earphone itu dan berteriak di telinga Al.
"ALVARO!"
"Telinga gue!" Al mengumpat cowok itu menoleh ke samping menatap Lea yang sama menatapnya tanpa dosa. "Apa?" tanyanya ketus.
"Laper,"
"Makan,"
"Tau,"
"Terus?"
"Gak ada bahannya Al! Lo bener-bener pelit banget jadi suami, apa susahnya keluarin dikit gitu buat makan." ucap Lea heran, gadis itu tak habis pikir dengan Al.
Makan siang tadi mereka memutuskan untuk membeli nasi goreng, yang membuat Lea kesal kenapa Al hanya membelikan nasi gorengnya sebungkus. Sedangkan mereka itu berdua. Katanya sih biar gak boros, padahal tiap hari buang-buang duit!
"Terus?" dasar Al menyebalkan.
Lea menatap Al kesal. "Ya beli kek apa kek, inisiatif dikit gitu,"
"Malas Le, udah malam." balas Al.
"Makanya gue ajak lo keluar, ayo anterin gue ke supermarket bawah. Lo mau gue diculik atau di jambret tengah malem, nanti lo jadi duda lagi." ucap Lea mendramatis.
Al menatap Lea jengah. "Gak ada yang kali yang mau culik lo, mereka juga mikir-mikir kalau mau culik lo." pedas sekali ucapannya.
Kesabaran gadi itu telah habis, Lea berdiri mengambil guling lalu memukuli nya ke Al. Lea tak peduli sekarang, kesabarannya telah habis menghadapi sifat Al yang sungguh menyebalkan.
"Aduh, aduh, sakitnya lo ngapain kunyuk!" Al mengambil alih guling itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Lo ngeselin!"
Al berdecak. "Oke, gue anterin ke bawah." lebih baik dia mengalah sekarang.
Mata Lea berbinar seketika. "Beneran?"
Al mengangguk kembali. "Hm, buruan gue tunggu di bawah, kalau lebih dari satu menit lo gak turun juga. Gak gue anter ke bawah." Al langsung pergi meninggalkan Lea.
Tanpa berlama-lama menunggu, gadis itu berlari mengambil cardigan hitam milik nya yang berada di belakang pintu, lalu turun ke bawah menyusul Al.
__ADS_1