
Dirasa semuanya telah beres, Ardit dan Rika sama-sama memutuskan turun ke bawah.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang, ditambah lagi dengan waktu dari rumah sini ke apartemen yang memakan waktu hampir setengah jam.
"Semuanya sudah selesai kan?" tanya Ardit sembari memastikan ada yang kurang atau tidak.
"Bentar," Rika mengecek kembali isi tas, yang paling penting baginya adalah buku kampus, kalau tentang pakaian Rika masih tak masalah. Namun jika soal buku, mampus lah dia!
"Udah semua kok," katanya, lalu menutup kembali tas ranselnya.
Di bawah, nyatanya masih ada Santi dan Rusdy yang sedang menunggu.
"Kalian hati-hati ya," ujar Santi. "Dit, nyetir nya jangan ngebut-ngebut" pesan Santi pada Ardit.
"Iya Ma, Mama tenang aja."
"Rika, turutin semua kemauan Ardit ya. Sekarang kamu udah jadi tanggung jawabnya, kurangi keras kepalanya, jangan nakal nakal. Kasihan Ardit" pesan Santi pada Rika, dan ke-dua nya sama-sama berpelukan.
"Iya Ma. Rika usahakan," balas Rika. Hampir saja air matanya menetes.
"Titip Rika ya, marahin aja kalau ngelakuin kesalahan!" kata Rusdy seraya mengelus pundak Ardit.
"Rika pamit Pa," pamit Rika pada sang Papa dan langsung melenggang pergi, dalam hati Rika kembali kalut.
Perasaan nya kembali campur aduk antara marah, kecewa, sedih semuanya jadi satu.
__ADS_1
"Yang sopan!" pekik Rusdy berteriak. Pria itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Rika yang selalu saja seperti itu.
"Pa, maafin Rika ya. Mood nya kurang baik hari ini," ujar Ardit yang merasa tak enak.
"Kak Ardit ayo! Keburu malam!" teriak Rika.
"Iya, gak papa. Buruan susul Rika nya, daripada tambah marah." suruh Santi.
Ardit kembali menyalami tangan Santi dan Rusdy bergantian, dan langsung menghampiri Rika yang telah berceloteh sedari tadi.
Mengambil mobil di parkiran, lelaki itu menyuruh Rika untuk masuk ke dalam. Perlahan mobil yang mereka berdua tumpangi meninggalkan pekarangan rumah.
Keheningan kembali terjadi, hanya suara alunan musik yang terdengar. Ardit memilih fokus pada jalanan, dan Rika memilih fokus pada luar jendela.
Dalam hati, Rika memohon dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Sungguh, Rika tak bermaksud seperti itu. Emosi kembali mengendalikan nya.
"Rika," panggil Ardit pelan.
"Rika," kali ini dengan nada naik se-oktaf, dan benar saja. Rika langsung menoleh dengan wajah yang kembali sembab.
Berapa banyak dirinya menangis hari ini? Tau tau nangis bahagia atau nangis kesedihan.
"Iya?"
Dengan sigap, Ardit mencari tempat yang tampak ramai orang dan memarkirkan di pinggir. "Rika," panggil Ardit yang langsung membawa Rika ke dalam dekapan.
__ADS_1
"Gue keterlaluan ya?" tanya Rika dengan sesegukan.
Rika mencabik kesal, ketika Ardit tak menjawab pertanyaan darinya. "Jawab dong!" paksa Rika.
"Kak, jawab. Gue keterlaluan ya?" tanya Rika kembali.
"Oke, bukan keterlaluan," ujarnya menggantung. "Tapi kelewatan!" sambung Ardit.
Mencabik bibir kesal. "Sama aja dong Tuan Ardit terhormat!" kesal Rika membuat Ardit mengacak rambut Rika dengan gemas.
"Rambut gue!" sungut Rika sambil memajukan bibir bawahnya, lebih tepatnya ngambek.
"Ngambek nih ceritanya?" goda Ardit dengan menaik turunkan kedua alisnya -menggoda.
"Gimana kalau kita keluar?" tawar Ardit membuat Rika mengangguk semangat.
"Boleh," balas Rika dengan girang.
"Tapi jangan marah ya?" mengangkat jari kelingking nya ke arah Rika. "Janji juga buat gak nangis" tambah Ardit.
Rika tersenyum dan menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking milik Ardit. "Janji,"
"Mau ke pasar malam gak? Kayaknya depan sana ada," tunjuk Ardit ke arah perempatan yang tak jauh lagi.
"Boleh, udah lama gak ke sana." Sahut Rika setuju.
__ADS_1
"Tapi cari minum dulu, haus!" tenggorokan nya terasa begitu kering. Akibat banyak nangis hari ini, maybe.