Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴀᴘᴀʀᴛᴇᴍᴇɴ


__ADS_3

Menatap ke luar jendela, Rika merasa jalanan ini tak asing lagi untuknya. "Kok gak asing ya sama tempatnya?" gumam Rika.


"Kak, kok tempatnya---" ucap Tika menggantung.


"Aku pilih apartemen yang deket kampus. Biar kamu gak terlalu lama buat pulang pergi," jelas Ardit seakan mengerti dengan apa yang Rika pikirkan.


Hanya mengangguk paham, Rika menyandarkan kepala nya pada sandaran kursi. Tak perlu waktu lama kedua matanya tertutup rapat.


Mobil yang Ardit tumpangi sudah sampai di depan bangunan berlantai 20. Saat dirinya ingin membangunkan Rika akibat sudah sampai, ternyata Rika sudah tidur.


Karena tak ingin menggangu Rika, Ardit memilih untuk menggendong Rika dan membawanya masuk ke dalam. Sebelum nya menyuruh salah satu penjaga untuk membantunya membawa barang-barang ke dalam.


Sampai dalam, dengan hati-hati Ardit menaruh Rika ke atas kasur, sambil mengucapkan terimakasih pada penjaga yang membantunya.


"Makasih pak," Ardit tak lupa memberikan sedikit uang pada penjaga itu.


"Aduh pak gak usah, saya ikhlas bantunya." ujar sang penjaga tak enak.

__ADS_1


"Gak papa pak. Buat beli rokok. Sekali lagi makasih," ungkap Ardit. Setelah itu Ardit masuk ke dalam untuk membersihkan badan dan mengistirahatkan diri ke ranjang. Sebelum itu Ardit mengecup kening Rika.


"Selamat malam," bisik Ardit pada Rika.


...


Pagi hari yang cerah, seorang gadis dengan muka bantal nya sedang berdecak kesal saat sinar matahari menerpa wajahnya.


Mengerjapkan mata berkali-kali, tangannya terulur untuk mematikan alarm. "Masih ngantuk," rengek Rika.


Yang dia lihat bukan lagi guling dan bantal kesayangannya. Melainkan Ardit lah sosok pertama yang dirinya lihat.


"Ganteng juga kalau dilihat," gumam Rika terkagum kagum. "Jam berapa sih?" menatap jam dinding. Sudah pukul 6 pagi.


"Bangunin aja deh. Udah pagi juga," gumam Rika. "Kak, bangun yuk udah pagi!" Rika menepuk beberapa kali pipi Ardit, menyuruh lelaki itu segera bangun.


Menggeliat pelan, Ardit perlahan membuka matanya. "Jam berapa?" tanya Ardit dengan nada khas bangun tidur.

__ADS_1


"Jam 6, gue mandi dulu ya. Sekalian mau bikin sarapan," Rika mengubah posisinya dari tidur ke duduk. Dan langsung melangkah ke kamar mandi.


Ardit memilih untuk melangkah keluar kamar, menuju ke dapur untuk mengambil minuman. "Buruan mandi gih, bajunya udah gue siapin di atas kasur." Rika baru saja menyelesaikan ritual mandinya.


"Kak Ardit lagi apa?" tanya Rika pada Ardit.


"Buat air hangat. Itu udah mendidih airnya, kamu tinggal tambah lemon aja. Aku mau naik ke atas," pamit Ardit dan melangkah pergi.


Rika dengan senang hati menuruti apa yang Ardit ucap. Tangan Rika terulur untuk mengambil celemek, seketika sifat mak mak nya keluar, sambil memikirkan mau memasak apa pagi ini.


"Gue masak apa ya?" Rika memang tak terlalu begitu sering ke dapur, tau sendiri kalau libur apa yang Rika lakukan. Bangun siang dan hanya di kamar, paling kalau turun hanya makan dan keperluan kampus saja.


"Pesan aja, gak usah masak. Kamu masih capek," sahut seseorang dari belakang Rika.


"Gak usah masak. Kita pesan aja diluar, minumannya udah selesai kan?" tanya Ardit pada Rika.


"Iya udah kok," Rika memberikan segelas air hangat dengan perasan lemon yang dia buat kepada Ardit.

__ADS_1


__ADS_2