Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴘᴇʀsᴇʟɪsɪʜᴀɴ


__ADS_3

Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai dikediaman Winata, dalam perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka.


Keduanya sama-sama turun, Dimas -asisten pribadi Rusdy pamit meninggalkan keduanya karena ada urusan di kantor.


Rusdy menarik tangan Rika, dirinya berusaha untuk tak memakai kekerasan pada putrinya, hingga akhirnya satu tamparan lolos mengenai pipi mulus Rika.


Panas, hal pertama yang Rika rasakan. Kaget? Jangan bilang.


"Pa-" kaget Rika memegang pipinya yang begitu kebas.


Hanya dibalas tatapan tajam oleh Rusdy, menahan gejolak yang ada didalam tubuhnya. Marah, kecewa, sedih. Semuanya campur aduk.


Percaya dan tak percaya. Semuanya setengah-setengah.


Santi datang, dirinya cukup kaget melihat sang suami yang tiba-tiba menampar Rika.


"Ada apa ini?" tanya Santi, bingung.


"Liat kelakuan anak kamu, dia udah bikin nama keluarga malu!" Ucap Rusdy dengan rahang mengeras.


Santi menatap balik Rika, Rika hanya menggeleng, mengatakan bahwa itu tak benar. Semuanya hanya salah paham.


Santi menarik Rusdy untuk duduk, mengelus lengan Rusdy untuk memenangkan nya.


"Coba, ada apa sih? Kalau ada masalah diselesaikan baik-baik. Jangan pakai kekerasan Pa" ucap Santi, menenangkan suaminya itu.


Santi tau bahwa suaminya hanya tersulut emosi, se marah-marahnya Rusdy paling mentok cuma menampar Rika. Itupun dalam keadaan emosi.


Rika tak marah, hanya kesal saja. Tiba-tiba dirinya kena tampar gitu aja, walaupun udah tau sih tadinya. Plus Rika kesal kenapa Papanya gak denger dulu semua penjelasannya.


"Ada apa?" tanya Santi dengan lembut.

__ADS_1


Rusdy hanya melempar dokumen, menyuruh Santi untuk membacanya.


"Ma"


Santi mengangguk sebagai jawabannya, matanya membaca dokumen itu. Sedikit kaget. Menatap Rika dan Rusdy secara bergantian.


"Pa, coba ditanya Rika baik-baik. Mungkin ini salah paham"


"Salah paham?" tanya Rusdy. "Bahkan Rika buat anak orang celaka Ma, kejadian ini udah berulang kali terjadi"


Benar, bukan kali ini saja Rika mencelakai anak orang. Sampai-sampai anak itu masuk ke dalam rumah sakit, untung gak mati.


Dan itu membuat keluarga korban meminta ganti rugi, lumayan besar sekitar 10jt. Kejadian itu membuat Rika geram, orang anaknya sendiri yang buat masalah kenapa Rika yang ganti rugi?


Udah gitu mintanya gak main-main, padahal kan cuma diobati doang. Meskipun begitu Rusdy tetap membayarnya.


"Pa, beneran Rika gak ngelakuin itu, demi apapun" Rika berusaha menjelaskan semua, tapi percuma jika menjelaskan dengan orang yang sedang emosi.


"Papa udah bilang berapa kali sama kamu, stop dan berhenti, buat balapan, keluar masuk club yang gak jelas begitu. Dan ini semua pasti karena pergaulan kamu kan!"


"Pa!" sentak Rika.


"Apa? marah, gak suka. Kan emang bener" ucap Rusdy.


"Udah ya, mulai sekarang papa bakal ambil semuanya dari kamu, mulai motor hingga mobil serta fasilitas yang lainnya. Sampai pernikahan tiba papa akan balikin semuanya" ucap Rusdy lalu bangkit dari kasur dan pergi meninggalkan Rika serta sang istri.


"Pa, gak bisa gitu dong! Motor dan yang lainnya udah atas nama Rika. Papa gak berhak buat tarik semua"


"Tapi semuanya ada di Papa" ucap Rusdy dengan santai.


Setelah mengucapkan kata itu Rusdy pergi menuju ke kamarnya, menenangkan pikirannya.

__ADS_1


"Ma" panggil Rika.


"Mama percaya kan sama Rika, Mama percaya kan kalau Rika gak pernah lakuin itu" ucap Rika mencoba membuat sang Mama ada di pihaknya.


Santi mengangguk sambil tersenyum kecil. "Mama percaya putri Mama gak pernah lakuin itu, buktiin ya ke Papa kalau kamu gak ngelakuin hal itu. Mama cuma bisa berdoa aja"


"Kalau gitu mama ke kamar susul Papa, takutnya marah" Pamit Santi yang juga meninggalkan Rika.


Rika hanya bisa menatap. kedua orang tuanya yang pergi. Tangannya mengepal kuat, mengusap wajah kasar.


"Kenapa harus motor gue sih yang kena ambil? Kenapa gak mobil doang, kenapa harus motor? Kalau gini gue keluar nanti naik apa? Dianterin, ogah" gerutu Rika dengan kesal.


Senyum miring tercetak jelas pada bibir Rika.


"Lo main-main sama gue? Oke, liat aja gue bakal buktiin dan bakal cari semuanya, gue gak mungkin pakai bukti pembullyan Sania doang. Itu bakal kurang, sekarang gue harus cari bukti lagi," batin Rika.


Handphone nya berdering, dengan cepat Rika mengangkatnya. Nama Amel tercetak jelas di sana.


"Hm?"


"Lo gak kenapa-napa kan? Lo gak berantem kan sama bokap lo? Lo gak kabur kan dari rumah? and lo gak ngurung diri kan didalam kamar?" **t**anya Amel bertubi-tubi membuat Rika memutar bola mata jengah.


Amel sudah tau asal-usul Rika, kalau gak berantem ya ngurung diri. Tapi sebagian orang atau bahkan Rika sendiri, mengurung diri adalah hal yang paling menyenangkan.


Rasanya, ketika kalian berada ditempat yang ramai dan banyak orang, kalian merasakan kesepian dan ingin cepat-cepat untuk pulang dan mengurung diri.


Menyembunyikan diri didalam kamar adalah hal yang sangat seru untuk sebagian orang, di sana kalian bisa membuang semuanya dan bisa bernafas lega.


Itulah yang Rika rasakan selama ini, walaupun Rika terlihat semangat untuk bermain keluar, percayalah itu hanya untuk menutupi semua.


Rika bisa saja menjadi dua kepribadian, dia bisa menutup semua masalahnya rapat-rapat didepan umum, didepan sebagian orang. Atau bahkan kedua orang tuanya juga.

__ADS_1


Tetapi ketika berada di kamar, Rika akan membuat semuanya, menangis dalam diam, menangis dengan bantal dan guling sebagai pelampiasan.


__ADS_2