Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴊᴀɴᴊɪ?


__ADS_3

..."Boleh menangis tapi jangan berlebihan. Kau tak akan tau bagaimana orang-orang yang menyayangi mu sakit melihat mu bersedih." -Nana...


...…...


"Lea"


Lea mendongak mendapatkan Al yang baru saja selesai mandi, Al duduk di samping brankar menggenggam erat tangan Lea.


"Al"


"Hm?"


"Takut" Cicit Lea.


"Ada aku, kamu tenang aja ya"


Lea sudah sadar dari kritisnya dua jam yang lalu. Dengan rancauan yang tak jelas. Membuat Al panik.


"Gak-gak jangan, Lid gue mohon"


"Please, jangan, gak gue mohon"


Al menghampiri Lea, menatap gadisnya yang merancau tak jelas. "Lea, bangun hey" Al menepuk kedua pipi Lea dengan lembut.


"Gak jangan.... " Lea terbangun dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Nafasnya memburu naik-turun. Kejadian itu terulang dalam mimpinya.


"Lea" Panggil Al.


Lea menutup kedua matanya sebentar, mengerjap nya menyesuaikan matanya pada cahaya, butuh beberapa kali kedipan hingga akhirnya fokus kembali. Nafasnya masih memburu, kejadian dalam mimpinya masih teringat jelas.


Aroma obat-obatan dan keadaan yang putih, membuat Lea sadar bahwa sekarang berada di rumah sakit.


Mencoba duduk, tapi lengannya ditahan. Menatap ke kanan mendapatkan Al yang menyuruhnya untuk menidurkan diri.


"Tidur dulu, keadaan kamu belum pulih. Aku panggil dokter sebentar" Al memencet tombol yang berada di atas kasur Lea.


Tak berapa lama, dokter dan beberapa suster datang. Menanyakan keadaan Lea, ada yang sakit, atau jahitan pada perutnya bermasalah. Lea hanya menjawab seadanya. Dokter keluar, begitupun dengan Al yang masuk kedalam.


"Mau minum?" Lea mengangguk, tenggorokannya sangat kering sekarang.


"Pelan-pelan" Membantu Lea uduk duduk, dan memberikan gelas berisi air kepada Lea.


"Al"

__ADS_1


"Iya?"


"Duduk sini" Menggeser tubuhnya agar Al bisa duduk disampingnya.


Dengan senang hati Al duduk di samping Lea. Membawa gadisnya kedalam pelukannya. Rindu? Dirinya rindu dengan Lea, dengan aroma Lea, dengan kelucuan Lea.


Mereka terdiam, Lea yang menikmati elusan pada rambutnya, menyandarkan pada dada bidang Al. Al menikmati aroma Lea, walaupun Lea belum mandi untuk beberapa hari ini. Tapi sang bunda membersihkan Lea setiap saat.


"Al.. Lidya gak akan kesini kan? Lidya gak akan bunuh Lea lagi kan?"


Al menggeleng, memeluk tubuh Lea yang kembali bergetar. Segitu besarnya trauma Lea? Apalagi hingga terbawa mimpi.


"Gak, ada Al disini, Lea akan aman sama Al oke?"



Keadaan Lea sudah membaik, hari ini dirinya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, setelah dua minggu di rumah sakit.


Tapi ada sedikit perubahan pada Lea, dirinya sedikit berubah apalagi terhadap orang baru. Biasanya Lea cepat akrab dengan orang lain, tapi kali ini dirinya sedikit memundurkan diri.


Mungkin trauma, memang setiap malam Lea selalu memimpikan kejadian tersebut. Dokter bilang Lea terkena trauma psikis.


Tak hanya fisik melainkan psikis. Al yang mendengarkan tersebut merasa marah pada Lidya. Lihatlah sekarang keadaan Lea yang jauh dari kata dulu.


Tapi apa boleh buat, pelakunya udah mati...



Menjalankan mobil menuju ke apartemen. Mereka langsung menuju ke apartemen. Bunda dan Mama sudah menuju ke sana. Mereka berdua tak bisa ke rumah sakit karena tadi ada urusan.


Sampai apartemen, memarkirkan mobil. Di parkiran bertepatan dengan Rika dan Amel yang baru datang.


"Al! Lea!" Panggil Amel.


"Masuk Ma, Bun" Ucap Al mempersilahkan mereka berdua masuk.



Lea berdiri di balkon, menatap ke depan. Membiarkan angin menerpa wajahnya. Kejadian itu masih sangat teringat. Bahkan seperti radio rusak yang terus berputar.


"Kenapa lo lakuin ini Lid?" Ucap Lea.


Al menatap gadisnya kasihan, dari tadi Al berdiri dibelakang Lea menyandarkan tubuhnya pada pintu. Tatapannya terus menerus menatap Lea yang membelakangi nya.

__ADS_1


"Lea"


Tak ada jawaban dari Lea.


"Lea" Menghampiri Lea dan memeluknya dari belakang.


"Masih pikirin yang kemarin?" Lea mengangguk pelan.


"Kenapa Lidya lakuin itu sama Lea, apa salah Lea? Apa karena Lea nikah sama Al? Kan ini juga bukan kemauan kita" Lea kembali menangis. Sakit rasanya dikhianati oleh sahabatnya sendiri.


Al memutar tubuh Lea, menghapus lembut air mata Lea dengan ibu jari. "Stop! Please jangan nangis lagi, aku gak kuat Le, liat kamu yang nangis hampir tiap malam. Aku gak kuat liat kamu yang nangis dalam diam. Stop ya jangan nangis lagi" Mengecup kedua mata Lea. Menatapnya dalam.


"Tapi-"


"Shut" Potong Al, menempelkan jari telunjuk pada bibir mungil Lea, Al menggeleng seakan dirinya tak ingin mendengarkan ucapan Lea kembali.


Bukannya tak ingin, melainkan Al tak tahan dengan suara Lea yang menahan tangis.


"Liat aku! Janji ya? Janji gak bakal nangis lagi, aku gak mau mata ini keluar air mata. Kecuali air mata kebahagian" Al menatap kedua bola mata Lea yang begitu sayu.


"Aku tau... Semuanya gak mudah buat kamu lupain, tapi jangan sakiti badan kamu juga, dengan kamu nangis diam-diam. Itu gak akan selesain masalah. Ini terakhir kalinya aku liat kamu nangis, kecuali nangis bahagia"


"Dan, mana Lea yang dulu, Lea yang suka marah-marah. Lea yang suka berantem sama Al. Lea yang benci dengan sifat menyebalkan Al. Mana? Aku mau kamu jadi Lea yang dulu, bukan yang sekarang. Ngerti?" Al menatap tulus kearah Lea.


Lea mengangguk, matanya berkaca-kaca mendengarkan ucapan Al. Ya! Walaupun sulit Lea harus bisa berubah. Gak boleh gini terus, gak boleh cengeng, gak boleh sedih.


Semangat!


Lea langsung memeluk Al. "Makasih Al"


"Sama-sama, janji ya berubah?" Al mengarahkan jari kelingkingnya.


Lea mengangguk, menautkan kelingkingnya pada Al. "Janji"


Malam ini, dibawah langit malam. Lea dan Al menikmati malam berdua. Setelah sekian lama tak bersama.


Jangan lupa buat tersenyum meski hatimu rapuh.


Jangan lupa bersyukur buat hari ini. Karena yang kamu miliki sekarang belum tentu orang lain punya.


...…...


Yuhu Nana up! Gimana-gimana episode hari ini? Garing ya? Maaf guys sampai sini doang otaknya buat mikir.

__ADS_1


Spam lanjutnya kakak 🤍


Semangat puasa, semoga lancar 🙏


__ADS_2