
Enam bulan kemudian
Kehidupan akan terus berputar, seperti roda yang selalu berputar. Entah kita akan berada dibawah atau di atas.
Kehidupan akan selalu banyak ujian, entah ujian kecil atau besar. Ujian akan terus berganti dengan beriringan waktu.
Kejadian demi kejadian akan terus menjadi ingatan. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita mengetahui orang yang kita percaya mengkhianati kita.
Lea, gadis berumur 23 tahun. Gadis yang harus menerima perjodohan dari orang tuanya. Di umurnya yang terbilang muda, diumur yang digunakan oleh anak seumurannya berkeliaran bebas.
Menikmati masa-masa remaja mereka. Andai jika memang perjodohan itu tak terjadi, mungkin Lea bisa menghindar dengan arti kata pernikahan.
Pernikahan yang terbilang cukup aneh pada hati Lea, pernikahan dini.
Namun takdir berkata berbeda, tuhan mempersatukan mereka dengan cara ini. Dengan cara perjodohan, jaman sekarang, jaman yang canggih ini.
Masih ada ya perjodohan?
Kebanyakan orang bilang kalau pilihan orang tua selalu benar, mereka selalu melakukan apapun demi anaknya bahagia. Walaupun dengan cara yang dibilang bodoh seperti ini.
Dan itu yang terjadi sekarang, Al dan Lea bersatu. Tak mudah mereka berdua menjalin hubungan pernikahan di usia yang sangat muda.
Apalagi keduanya hanya menjalin hubungan sebatas sahabat, sungguh hal itu membuat mereka berdua sedikit canggung satu sama lain.
Al berfikir, kok bisa dia nikah dengan sahabatnya sendiri?
Berarti selama ini Al menjaga jodohnya?
Jangan salah, walaupun mereka sering berantem. Entah ribut, debat atau hal yang lainnya. Keduanya saling mencintai dalam diam.
Sayang dan cinta sama orang itu wajar bukan? Setiap orang pasti memiliki keduanya.
Tak ayal juga, banyak kok sahabat jadi cinta. Tak sedikit di luaran sana yang menjalin hubungan sebagai pacar melalui sahabat.
Al kadang bingung dengan isi hatinya, mengerjai Lea adalah suatu hal yang paling mengasikkan dalam hidupnya. Membuat Lea kesal adalah hobinya. Dan membuat Lea menangis adalah kebenciannya.
Al benci Lea nangis, Al benci Lea disentuh orang lain, Al benci ketika Lea merasa putus asa. Dan Al benci ketika Lea tersakiti.
Lea gadis cerewet yang selalu menjadi sasaran Al. Gadis itu selalu menceramahi Al jika melakukan kesalahan. Selalu menasehati Al.
Dan selalu menemani Al ketika sedang berada dalam masalah. Makanya tak jarang juga, yang lain selalu menganggap keduanya memiliki suatu hubungan yang lebih.
Dan tak jarang juga Lea lah yang menjadi sasaran dari musuh Al. Hal itu membuat Al marah, Al marah miliknya di sentuh orang.
Wait, miliknya?
Ya miliknya, entah kapan. Dan entah gimana Al menyebut Lea sebagai miliknya. Bukan didepan orang nya melainkan di dalam hatinya.
"Lo bakal selalu jadi milik gue Le, walaupun gue tau kita hanya sahabat. Tapi gue selalu berfikir bahwa kita bukan sahabat, gue tau lo suka sama gue. Dan gue tau lo hanya diam biar hubungan kita baik-baik aja seperti dulu. Lo gak mau kalau hubungan kita hancur hanya karena perasaan." Al berkata dalam hati.
Banyak hal yang keduanya korbankan hingga sampai ketitik sekarang, banyak sekali rintangan yang keduanya miliki.
Pernikahan bukanlah hubungan yang main-main. Banyak lika-liku yang harus mereka hadapi. Walaupun terlihat bahagia, namun dibalik semuanya ada keributan yang terjadi.
__ADS_1
Pernikahan adalah hubungan yang sakral, bukan hanya didepan umum melainkan dengan yang di atas.
Sekarang Al, Lea serta Shaka sedang santai di ruang tamu. Mereka bertiga sedang menonton TV. Sambil menemani Shaka.
Tangan Al terulur mengelus perut buncit Lea. Hah buncit? Pasti kalian berfikir kok bisa buncit, Lea gak gendut kan?
Bukan, Lea sedang hamil anak kedua. Ya, Al dan Lea akan memiliki anak lagi. Shaka akan menjadi abang, kandungan Lea berjalan enam bulan.
Jadi waktu itu, setelah satu hari acara pernikahan Thony dan Danish. Lea merasakan mual di dalam perutnya. Waktu diperiksa ternyata Lea telah hamil dua mingguan.
Hal itu membuat Al senang, begitupun yang lainnya. Setelah kejadian itu, Al menyuruh Lea untuk berhenti kuliah, bukan berhenti maksudnya untuk kuliah di rumah saja.
Sambil menjaga Shaka juga.
"Besok mau kemana?" tanya Al, mengelus puncak Lea dan mengecupnya.
"Ke supermarket, bahan bulanan udah habis. Sama sekalian makan diluar aku malam masak. Gapapa kan?" Tanya Lea balik.
Al mengangguk sambil tersenyum hangat. Perlahan sifat dingin Al mulai menghilang, entah karena sihir apa. Tapi yang pasti sifat dingin dan datar Al perlahan hilang.
Mungkin karena kehadiran Shaka dan Lea dalam hidupnya. Ditambah dengan sang buah hati.
Dan satu masalahnya, sifat Shaka bener-bener mirip oleh Al. Shaka bocah empat tahun itu memiliki wajah yang datar, dan irit bicara. Kecuali dengan orang terdekat beuh cerewetnya minta ampun.
"Papa! Mama!" Panggil Shaka.
Bocah itu sudah memasuki sekolah bangku kanak-kanak. Di umurnya yang terbilang masih muda, masih umur lima tahun kurang.
Jangan salah di umurnya Shaka yang seperti ini, dia sudah pintar, Shaka sudah pintar membaca, menulis, mengeja kata, pantai berbicara. Dan jangan lupa jago bela diri.
"Tadi Shaka kena marah sama bu guru," adu Shaka.
Al mengerutkan keningnya. "Kok bisa? Shaka buat maslah lagi?" tanya Al dengan nada dinginnya.
Shaka menggeleng. "Gak, Shaka gak bikin masalah. Orang dianya aja yang ganggu Shaka. Lagian Shaka cuma diam aja, dia ambil buku Shaka ya Shaka ambil balik. Eh dia ngelawan, ya sudah Shaka lawan." Jelas Shaka.
Fix Shaka titisan Al!
Al serta Lea menepuk jidat bersamaan. Sabar, harus ekstra sabar untuk menghadapi Shaka yang note bate-nya mirip Al.
Salahkan Al, andai dia gak datar + dingin mungkin Shaka gak kayak gini. Udahlah udah kejadian juga, gak mungkin juga kan kalau dimasukkan kembali.
Ya kali!
"Sini duduk samping Mama," Lea menarik Shaka untuk duduk di sampingnya.
"Dengerin Mama!" Memegang kedua pundak Shaka. "Al tau kan yang Al lakuin tadi salah?" Shaka menggeleng polos. "Shaka!"
"Iya Ma, Shaka salah."
"Terus. Tadi udah minta maaf?" Shaka menggeleng, dirinya menunduk.
Al hanya diam, cowok itu menatap Shaka yang sedang di intimindasi oleh Lea. Al tak mempermasalahkan hal itu. Walaupun dia akan memarahi Shaka bukan memarahi hanya menasehati. Begitupun Lea.
__ADS_1
Al dan Lea berusaha untuk tak melakukan kekerasan fisik pada Shaka. Mereka akan lebih menasehati Shaka, mungkin dengan sedikit keras.
Karena keduanya tau Shaka memiliki sifat yang sangat mirip dengan Al. Jadi tak seberapa sulit bagi Lea memberi tahu Shaka.
"Lain kali minta maaf ya? Kasian teman Shaka, kalau dia kenapa-napa. Dan orang tuanya minta tanggung jawab gimana? Jangan diulangi ya. Mama gak salahin Shaka kok, Mama cuma mau nasehatin Shaka, biar Shaka tau. Kalau buat salah harus minta maaf, entah shaka yang salah atau gak. Ngerti?!" Jelas Lea, yang dapat anggukan dari Shaka.
"Good boy!"
"Iya Ma, Shaka salah. Lagian itu juga salah dia. Shaka udah bilang buat gak ganggu tapi dia malah ganggu Shaka."
"Kalian berdua salah, ini bukan masalah ganggu atau bukan. Ini masalah tentang kalian yang sama-sama rusuh. Lain kali gak usah ulangi lagi ya, kasian nak temen kamu." Ucap Lea, mengelus rambut Shaka.
Lea berusaha semaksimal mungkin untuk tak marah pada Shaka. Hanya kesal saja, tapi semuanya tertutupi dengan kasih sayangnya pada Shaka.
Lea selalu mengajarkan Shaka tentang tiga hal, yaitu. Meminta tolong, meminta maaf dan Terima kasih. Itu adalah hal utama yang Lea ajarkan pada Shaka.
Apalagi dengan kejujuran.
"Iya Ma."
"Ya udah, sekarang kamu tidur ya. Udah jam setengah sepuluh. Besok kamu berangkat pagi," Perintah Lea.
Shaka turun dan berjalan menuju kamarnya, sebelumnya itu dirinya mengecup tangan kedua orang taunya.
Al tersenyum melihat Lea yang berhasil membuat Shaka meminta maaf. Bukan hal yang mudah bagi Shaka meminta maaf, apalagi dengan kelakuannya.
Dengan perlahan Lea selalu mengajarkan kata maaf jika Shaka melakukan kesalahan. Karena kita tak tau kita sedang menyakiti hati orang atau tidak.
"Udah malam tidur yuk," Ucap Al.
Lea mengangguk, Al membantu Lea berdiri. Mereka pun menuju ke lantai atas. Mengistirahatkan pikiran mereka berdua.
...…...
Jangan lupa jejaknya! See you next episode guys
Mau tanya neh, bantu jawab dong. Bagusan nama Arshaka panggil siapa?
Shaka
Arsa
Keduanya sama-sama bagus sih, Sama-sama punya arti juga. Bingung!
...Al...
Roti sobeknya keliatan dikit doang :(
__ADS_1
...Lea...