
Terjadilah perdebatan diantara mereka berdua, Rika mengeram kesal. Kalau bukan karena tua bangka ini. Rika sudah pasti akan menghajar habis orang itu.
"Sabar Rika, jangan sampai emosi lo nguasai diri lo. Mereka berdua ingin lo emosi biar apa? Biar lo makin buruk lagi. Oke gapapa lebih baik diam sekarang" Batin Rika.
Tak berapa lama, pintu terketuk membuat semua mata tertuju pada pintu. Pintu terbuka menampilkan pria paru baya dengan setelan jas yang melekat pada tubuhnya.
Rusdy Winata.
"Papa, mati gue!" Batin Rika.
Sebelumnya dekan memberi tahu Rusdy untuk kesini. Rusdy yang mendapatkan telpon dari sekolah sang anak mengangkatnya. Sang Dekan memberi kabar bahwa Rika membuat keributan kembali.
"Kamu bikin masalah apalagi sih nak? Gak capek bikin masalah mulu?" Batin Rusdy, memijat pelipisnya pusing dengan kelakuan anaknya yang satu ini.
Rusdy mau tak mau membatalkan rapat itu, Dimas -asisten pribadi Rusdy menjelaskan apa yang terjadi. Akhirnya sangat klien paham dan menyetujui.
"Selamat siang Pak, selamat datang"
"Selamat siang" ucap Rusdy.
"Silahkan duduk terlebih dahulu" Ucap Dekan tersebut.
"Baik, saya memanggil bapak karena Rika melakukan kesalahan kembali. Yang pertama Rika melakukan hal diluar batas yang membuat nama sekolah bermasalah, dan yang kedua Rika melakukan kekerasan pada Sania, temannya sendiri"
"Maksudnya bagaimana ya pak?" Tanya Rusdy, bingung.
"Jadi begini pak, Rika melakukan hal yang diluar batasnya. Walaupun saya tau umur Rika sudah beranjak dewasa. Tapi hal itu membuat citra sekolah menurun pak" Dosen itu memberikan laporan Rika kepada Rusdy. Rusdy melihat hal itu membacanya dengan seksama. Matanya menatap Rika dengan tajam.
Rika yang ditatap hanya mengangkat bahu, tak tau. Bodo amat orang tuanya marah apa gimana. Orang dia gak ngelakuin.
__ADS_1
"Saya mohon pak, untuk melakukan penegasan pada Rika. Jika hal ini terulang makan Rika lah yang akan dikeluarkan dari sekolah"
"Kenapa tidak sekarang. Bapak liat anak saya ketakutan karena dia!" Adi menunjuk Rika.
"Heh pak tua, sebenarnya anda yang melakukan penegasan pada anak anda. Saya gak akan memulai semuanya jika itu tak ada yang memancing saya. Coba anda tanya kepada anak anda, siapa yang mulai duluan?" Rika membantah ucapan Adi.
"Jaga ucapan kamu? Apa begini seorang Rusdy Winata mengajarkan anaknya sopan santun? Tak ada sopan santun sama sekali" Ucap Adi meremehkan.
"Oh apakah begini. Seorang Adi Hamdan mengurus anaknya. Dengan mengajarkan anaknya menjadikan seseorang sebagai pelayan begitu?" Ucap Rika.
Dengan cepat Rika memutarkan kata, gini-gini Rika cukup jago dalam memutar balikan omongan.
"Jaga ucapan kamu!"
"Apa? Gak Terima, anda liat anak anda! Apakah sudah benar, anda itu kepala rumah tangga sebenarnya anda bisa mendidik benar anak anda. Saya gak akan melawan seseorang jika itu tak melebihi batas!" Sarkas Rika.
"Mohon maaf Pak sekali lagi atas kelakuan anak saya" Rusdy merasa tak becus sebagai seorang ayah. Tapi ini kan memang salahnya!
"Iya Pak, tidak mengapa. Untung saja foto itu sudah kita tutup. Maka dari itu saya akan menskors Rika untuk beberapa hari ke depan" Ucap Dekan itu.
"Tidak usah pak!" Bantah Rusdy. "Saya yang akan mengajukan,untuk Rika cuti satu bukan ke depan"
Rika menatap Rusdy. Apa-apaan kok main cuti-cuti aja sih!
"Pa kok-"
"Baik Pak, kalau begitu nanti bapak silahkan urus terlebih dahulu"
Rusdy mengangguk, menarik Rika keluar. Amel menatap Rika dengan tanda tanya. Kenapa cuti?
__ADS_1
Sania yang melihat hal itu tersenyum, tak masalah lah ya! Lumayan dirinya tak harus bertemu dengan Rika untuk satu bulan kedepannya.
"Haha gak sia-sia air mata gue, bye-bye Rika. Semoga aja setelah ini berantem, terus keluarga lo hancur deh haha" Batin Sania bersorak gembira.
"Rik, lo beneran cuti?" Tanya Amel.
"Hem, yang lo liat"
"Rik tapi kan lo bisa bongkar sekarang semuanya, lo bisa buka semuanya. Mumpung ada bokap lo dan Sania biar bokap nya tau seberapa busuknya anaknya. Ayo bongkar!" Paksa Amel.
"Gak sekarang Mel, sekarang bukan waktunya buat bongkar semuanya. Lagian lumayan juga gue cuti, bentar lagi gue nikah. Gue mau nenangin diri gue dulu" Ucap Rika.
"Rik tapi-"
"Gapapa Mel, gue cuma mau minta sama lo. Cari bukti-bukti lagi. Biar kita bisa punya bukti yang kuat. Gue serahin ke lo. Gue tunggu secepatnya" Rika menepuk pundak Amel dan meninggalkannya.
Amel hanya bisa mengangguk pasrah. Dirinya akan mencari bukti lebih kuat lagi. Amel tak rela jika Rika akan kena maslah lebih panjang lagi. Ya walaupun nihil.
Ujian akan terus hadir, tinggal kita saja yang menghadapi nya.
Rusdy dan Rika berjalan keluar. Rika melirik kearah sang Papa yang berjalan lebih cepat meninggalkan Rika yang berada dibelakang.
Mobil Rusdy meninggalkan pekarangan kampus, tak ada yang membuka suara. Hanya suara mesin yang berbunyi.
Rika sudah yakin jika sang Papa akan marah. Dapat dilihat dari raut wajah sang Papa. Merah, yang artinya Rusdy sedang menahan marahnya.
Handphone Rika bergetar membuat Rika membukanya, dirinya tersenyum simpul.
Amel
__ADS_1
Semoga masalah lo cepat selesai. Gue tau lo hebat! Gue pasti cari bukti yang lebih banyak lagi, lo tenang aja.
"Gak salah pilih gue buat lo jadi sahabat gue, makasih Mel" Batin Rika, menatap keluar jendela.