
Matahari telah menampakkan sinarnya. Membuat semua orang harus membuka mata mereka dan memulai aktivitas.
Lea dengan seragam yang telah melekat pada dirinya, sedang berkacak pinggang menatap Al yang masih tertidur. Ini tuh jam berapa?!
"Alvaro! Bangun gak?"
"Nanti,"
"Gak ada nanti-nanti, kita bisa telat tau. Ini tuh udah setengah tujuh ayo Al bangun" Lea menarik Lengan Al, mencoba membangunkan cowok itu.
Jam sudah pukul 06.35 tapi Al sama sekali belum bangun.
"ALVARO! BANGUN GAK? INI TUH UDAH PAGI, NGEBO MULU SIH. AL AYO BANGUN IH, YA UDAH KAMU GAK BANGUN, AKU BAWA MOBIL SENDIRI!"
"Gak ada! Gak ada bawa mobil sendiri. Tunggu situ" Al melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Lea hanya bisa menggelengkan kepala, mana berani dia buat bawa mobil. Apalagi yang kemarin itu. Lea turun kebawah, menunggu Al selesai mandi.
Tak berapa lama Al datang dengan seragamnya. Menghampiri Lea yang sedang membuat susu.
"Nih minum dulu susunya" Lea memberikan segelas susu vanila pada Al.
Membantu memasangkan dasi yang benar. Tak lama-lama Al langsung meneguk habis susu itu.
"Hari ini, Anak-anak bakal jaga kamu dari kejauhan. Jadi kamu tenang aja. Oh iya aku hari harus ke kantor, kamu bisa pulang sendiri?" tanya Al, mereka berdua berjalan menuju ke parkiran.
"B-bisa iya, bisa kok. Kan ada anak-anak yang jaga. Palingan aku nanti naik taksi atau gak ojek"
"Gak ada naik kendaraan umum, nanti aku suruh Jojo atau gak yang lain buat antar kamu pulang. Bahaya sedang mengintai kita" Al memasangkan helm pada Lea, setelah itu dirinya naik.
Mengulurkan tangan untuk membantu gadisnya naik. Lea hanya diam, benar apa yang di ucapkan Al. Bahaya mengintai mereka, walaupun Lea masih belum paham.
...…...
"Aku masuk dulu, jangan bolos!" Al mengangguk, mengacak pelan rambut Lea.
"Sana masuk, aku ke kelas"
Mereka berdua sama-sama masuk kedalam kelas. Di kelas Lea, cukup ramai anak. Menghampiri ketiga temannya yang sedang mengobrol.
"Morning guys" Lea mendudukkan diri di samping Danish.
"Morning Lea"
"Nanti lanjut lagi gak observasinya?" Tanya Ghea.
"Gue mah ayo, noh mereka berdua" Acha menunjuk Lea dan Danish.
"Gue sih ayo aja, Lea gimana?" Lea mengangguk setuju. "Hari ini aja, biar gak numpuk. Apalagi kita udah sibuk sama tugas lainnya. Belum lagi buat try out." Ucap Lea.
Jam masuk pun berbunyi, membuat semuanya kembali ke meja masing-masing. Lea menatap ke sebelah kiri, matanya menatap kearah Kevin yang sedang tertidur di atas meja.
"Pagi anak-anak" sapa Bu Yuli -guru akutansi.
"Pagi buu!"
"Oke buka halaman 139, kita habiskan bab empat" perintah Bu Yuli.
Di kelas Al, pelajaran pertama di mulai. Mata Al dari tadi menatap kearah jendela. Menatap ke arah kelas Lea. Telinganya mendengar, tapi pikirannya kearah lain.
"Al"
"Hah?"
"Lo ngapain sih?" Jojo menatap kearah dimana mata Al tertuju. "Gak bakalan Lea ilang, ini masih kawasan sekolah. Tenang aja" Jojo menepuk pundak Al, dirinya tau apa yang Al pikirkan.
...…...
Jam istirahat berbunyi, membuat seluruh murid berlarian keluar kelas untuk mengisi perut mereka. Lea dan Al serta yang lainnya berjalan menuju ke kantin.
"Lo Thon yang pesenin"
"Oke, pesen paan lo pada?" Tanya Thony.
"Samain semua"
"Oghey" Thony dan Danish pergi membeli makanan, tak berapa lama Thony dan Danish datang sambil membawa nampan berisi bakso dan es teh.
__ADS_1
"Kita duluan" pamit Al, bangkit meninggalkan yang lain di susul juga dengan ketiga temannya.
"Lha cepet bener?" tanya Ghea.
"Ada urusan, kita duluan"
Lea hanya bisa mengangkat bahu tak tau. Entahlah masalah ini kapan akan terselesaikan. Yang pasti masalah ini akan terus memanjang.
...…...
Tau apa yang menyebalkan ketika menginjak bangku 12?
Apalagi kalau bukan, pelajaran tambahan. Dan anak-anak harus ditunjuk untuk memaksimalkan ujian mereka. Belum lagi, try out yang selalu bergilir.
"Buka halaman 205, hari ini kita habiskan tentang materi invers matkris" Bu Retno, guru matematika. Memberikan perintah.
"Anjing, anjing banget" Thony membuka buku dengan kasar.
"Sumpah kalau orang-orang dulu gak banyak gaya, pasti nih matematika cuma ada perkalian sama pengurangan. Lah ini banyak bener, udah rumusnya belibet lagi" gerutu Jojo, kesal.
Matematika ilmu yang menyenangkan.
Jangan takut belajar matematika~
"HEH!" Bu Retno berkacak pinggang, menatap kedua muridnya yang naudzubillah. "Kalian berdua ngomong terus dari tadi. Kalau gak niat keluar sana!"
Thony bersiap untuk bangkit. "Ya udah Bu kita pamit, assalamu'alaikum"
"THONY DUDUK!" Murka Bu Retno, sabar harus menghadapi satu muridnya yang stress.
"Lho katanya suruh keluar, gimana sih Bu? Labib sih ibu, kek cewek" Ucap Thony, kembali duduk.
"Emang cewek, bangsat!" Ucap Jojo, mengeluarkan bukunya.
"Gak ada penolakan, ibu kasih soal 15 kerjakan dalam waktu 10 menit tanpa bantahan!" Bu Retno membagikan lembar soal.
"What?"
"Lho bu kok gitu?"
"Ya karena gak gini, udah jangan ada-"
Pecahan tersebut membuat seluruh kelas, IPS 2 menatap kearah jendela. Pecahan itu membuat semuanya berlarian keluar kelas.
...…...
Diluar dipenuhi oleh kedua kubu, saling berbaur dalam kericuhan. Mereka adalah Alvarebos dan juga, geng Bara entah apa namanya.
Pecahan itu bersalah dari Bara. Yang membuat keadaan sekolah seketika kacau tak terkendali.
Apalagi, Bara. Dia menyetop jalan seenak jidat. Murid yang ingin pulang langsung dimasukan kembali kedalam kelas.
Bimbel hari ini terpaksa terhenti, semua murid sedang berada di dalam kelas. Walaupun begitu tak sedikit juga yang melihat pertengkaran itu.
Sementara itu, Lea. Lea dan ketiga temannya berada di luar kelas, mereka menatap kedua kubu itu. Yang saling melempar umpatan serta makian satu sama lain.
"Tuh bocah gak bisa apa gak cari ribut. Menyusahkan" kesal Ghea, gadis itu harus mendekam terlebih dahulu di dalam sekolah.
"Gimana? Kaget dengan kedatangan gue?" Senyuman miring tercetak jelas d disudut bibir Bara Keinard.
"Banci. Bisanya main keroyokan" Suara itu dari Jojo, gimana gak? Bara membawa pasukannya dua kali lipat bahkan lebih. Sedangkan Alvarebos hanya bisa dihitung dengan jari.
Keadaan kian memanas, kedua kubu saling bertarung. Pukulan demi pukulan terdengar. Al menatap sekeliling, anggota yang lain sudah hampir berjatuhan.
Bara tersenyum licik. "Menyerah?" Ejeknya.
"Mimpi lo!"
Bugh
Bugh
Bugh
Al menyerang Bara, membabi buta cowok itu. Seakan tak ada celah untuk Bara melawan.
Buk
__ADS_1
"Argh"
"Sialan" Bara berdiri dari tumbangnya, menatap tajam kearah Al. Namun, dengan cepat Al menendang perut Bara yang membuat cowok itu memundurkan beberapa langkah.
"See? Siapa yang kalah?"
Bara tersenyum licik, berjalan menghampiri Al. Membisikan sesuatu kata yang membuat Al mengeram kesal. Setelah itu memerintahkan semuanya bubar.
"BUBAR!"
...…...
Kericuhan sudah berakhir satu jam yang lalu, semua anak dilarikan ke UKS. Cukup serius tadi, banyak sekali yang terluka. Sekarang Al sedang berada di taman, dirinya tak ke UKS karena Al, sama sekali tak ada luka.
Ucapan Bara terus terngiang didalam pikirannya.
"Obati luka lo" Revan datang sambil memberikan air botol.
"Gak"
Keduanya diam, Al yang memikirkan ucapan Bara. Sedangkan Revan yang lebih minat untuk diam. Mereka berdua tipikal orang yang akan mengobrol jika penting.
Tak lama Lea datang, membuat kedua cowok itu menatap ke belakang. Revan yang paham dan tak ingin menganggu pamit.
"Gue duluan" Revan pergi meninggalkan taman dan melihat kondisi yang lainnya.
"Kenapa gak ke UKS" tanya Lea, mendudukkan diri di samping Al.
Al menarik Lea kedalam dekapannya. "Gapapa"
Lea mendongak. "itu bibir kamu berdarah Al, gak sakit?" tangan Lea terulur memegang luka yang ada di sudut bibir Al.
"Sakit gak?"
"Aww sakit-sakit" Al mengadu sakit, membuat Lea panik. "Beneran ih, maaf"
Al terkekeh, "Gak ada sayang, becanda"
Lea mencabik kesal. tangannya merogoh saku rok. Al menatap kegiatan Lea yang mengeluarkan obat merah serta kapas. Kegiatan itu tak luput dari pandangan Al.
"Ngapain?"
"Obatin kamu lah, apalagi. Sini mendekat"
"Gak, aku gapapa" dengan cepat Lea menarik dasi Al, yang membuat cowok itu mendekat. Dengan telaten Lea mengobati.
"Baru juga kemarin sembuh, sekarang udah luka aja" guman Lea.
"You're mine" bisik Al tepat di wajah Lea, bisikan itu rendah tapi tersurat penekanan.
"Kan udah"
Al menggeleng, langsung memeluk Lea. Bayang-bayang ucapan Bara seperti kaset rusak, yang terus berputar.
"Lea cantik, gimana kalau buat gue?"
"Al" Lea membalas pelukan Al, mengelus lembut punggung Al. Lea tak tau apa yang terjadi dengan Al.
"Love you"
"Love you more" balas Lea.
...…...
...Lea...
...Acha...
...Ghea...
...Danish...
__ADS_1