
Tak memerlukan waktu yang lama, Rika dan Ardit sampai ke tempat tujuan. Setelah beberapa menit menembus padatnya jalanan kota.
Disini lah mereka, di depan sebuah gedung yang menjulang ke atas, dengan tinggi yang berbeda-beda.
Terlihat satu gedung yang paling tinggi, yang berada di tengah-tengah, dengan tinggi mencapai 15 lantai. Bertuliskan PT. Aldebaran Group, yang terlihat jelas di sana.
"Yuk masuk," ajak Ardit tak lupa menggandeng tangan Rika, mengajaknya masuk ke dalam.
Memasuki perusahaan, banyak sekali yang menyapa dan memberikan hormat pada Ardit. Tak sedikit juga yang membisikkan Rika.
"Selamat pagi Tuan,"
"Pagi Tuan,"
"Selamat pagi pak Ardit,"
Dan masih banyak lagi sapaan yang mereka lontarkan pada atasan mereka.
Tampan, tegas, mempesona. Sudah terlihat jelas pada Ardit. CEO, nama yang sudah tersemat kan padanya.
"Itu siapa ya? Apa pacarnya Tuan?" bisik salah satu karyawan.
"Kayaknya sih enggak, soalnya kan pak Ardit gak pernah kelihatan deket sama cewek."
"Saudara nya kali. Udah balik kerja lagi!" tegur karyawan lainnya.
Rika menatap malas mereka semua, dirinya semakin yakin untuk tak mengambil alih perusahaan dari tangan sang Papa. Lihat saja, melihat gini sudah membuat nya malas.
"Sabar Rika, jangan emosi." gerutunya dengan tersenyum paksa.
"Naik," Ardit menarik Rika untuk masuk ke dalam lift.
Di dalam lift mulut nya mengoceh panjang lebar, tak henti-hentinya sumpah serapah Rika layangkan pada mereka.
"Udah gak usah didengerin, biarin aja. Cuek!" sahut Ardit. Geleng-geleng kepala.
Ting
Pintu lift terbuka, Rika masih asik dengan mulutnya yang berceloteh sepanjang menit. Ardit sendiri sudah keluar, menoleh ke belakang saat Rika masih diam tak berpindah tempat.
__ADS_1
Dengan segera, cowok itu menarik Rika keluar lift sebelum pintu lift tertutup rapat.
"Ayo, kok diam disitu!" menarik Rika keluar.
Rika terdiam, menelisik setiap sudut ruangan. Keningnya mengkerut. "Ruangannya mana?" tanya Rika, mencari ruangan Ardit.
Ardit terkekeh pelan. Memegangi kedua pundak Rika dan membawanya ke satu titik. "Itu ruangan nya," tunjuk Ardit pada satu pintu yang berada di ujung ruangan.
Lantai ini memang hanya ada satu ruangan saja, yaitu ruangan Ardit yang berada di ujung.
"Oh.." singkat Rika, melangkah mendekati pintu. Tangannya terulur untuk membukakan pintu, tetapi belum juga terbuka.
Beralih menatap Ardit, Rika bertanya. "Kok gak kebuka?"
Ardit langsung mengulurkan tangannya dan memencet tombol. Seketika pintu terbuka, hanya dengan sidik jarinya.
"Nanti aku daftarin sidik jari kamu. Biar nanti kamu bisa masuk tanpa perlu minta kunci," ujar Ardit diakhiri tawa.
Mencabik bibirnya kesal, mana tau kalau ruangan ini menggunakan sensor sidik jari. Masuk ke dalam ruangan, Rika kembali dibuat tertegun dengan desain ruangan Ardit.
Luas, satu kata yang menggambarkan keadaan ruangan itu. Sungguh sempurna sekali, ditambah lagi dengan dekorasi yang senada. Semakin membuat ruangan ini terasa indah.
Melepaskan jas, Ardit duduk di atas kursi kerja. Mulai mengerjakan tugas kantor yang kemarin belum usai.
Rika mengangguk, duduk di sofa panjang berwarna hitam. Memilih untuk memainkan ponsel sekejap.
Sampai akhirnya, terdengar suara langkah kaki mendekati ruangan. Pintu terketuk dari luar, Rika dengan segera menegakkan tubuhnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk!" perintah Ardit dari dalam.
Seorang laki-laki ber-jas hitam berjalan memasuki ruangan. Dengan beberapa tumpukan map, tak lupa juga untuk menyapa Ardit dan Rika secara bergantian.
Panggil saja Arko, tepatnya Arko Louis. Tangan kanannya Ardit di perusahaan, sekaligus sahabat kecilnya.
Mereka hampir mirip, bedanya Ardit sosok yang hangat dan Arko sosok yang dingin. Meski terlihat dingin, ucapan Arko sungguh begitu pedas.
Sampai-sampai mengalahkan cabai rawit.
__ADS_1
"Ini laporan yang lo minta," Arko menyerah tumpukan map pada Ardit.
"Makasih Ar," balas Ardit dan menerima map tersebut.
"Sepuluh menit lagi, rapat bakal dimulai." Arko menyampaikan schedule selanjutnya.
Ardit mengangguk. "Iya nanti gue ke sana.o siapin semuanya," perintah Ardit pada Arko.
Arko mengangguk dan pamit, Ardit langsung menutup laptop dan menghampiri Rika yang sibuk dengan handphonenya.
"Aku tinggal sebentar. Kamu mau makan?" tawar Ardit.
Rika yang asik memainkan ponselnya, segera berhenti. Dia menggeleng cepat. "Gak deh, aku gak lapar. Kamu rapat aja," balas Rika.
"Oke kalau gitu, aku rapat dulu. Sebentar aku mau panggil Clara kesini. Buat temenin kamu," Ardit merogoh ponsel laku menelpon seseorang.
"Segera ke ruangan saya," suruh nya. Dengan sepihak mematikan panggilan.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Clara memasuki ruangan.
Clara sendiri adalah teman Ardit semasa kuliah. Dan sekarang, jabatan cewek itu menjadi sekretaris CEO.
"Kamu bantu Rika kalau butuh apa-apa, saya mau ada rapat pagi ini." ujar Ardit pada Clara.
Clara mengangguk mengerti, pagi ini dirinya harus digantikan oleh Arko. "Siap, tenang aja."
"Aku keluar dulu. Kalau perlu apa-apa, langsung bilang ke Clara." Ardit melangkah keluar meninggalkan Rika dan Clara.
Melirik sosok di sampingnya, Rika segera menggeser kan tubuhnya. Mempersilahkan Clara untuk duduk.
"Duduk aja kak," suruh nya.
Clara menggeleng cepat. "Tidak usah Nona. Saya disini saja," tolak Clara dengan sopan.
"Gak usah panggil gue Nona. Panggil aja Rika, biar akrab." suruh Rika, ada rasa sedikit kurang suka.
Mengangguk tegas. "Baik,"
Clara yang memang tak suka kesunyian, mencoba menawarkan diri untuk mengajak Rika keluar kantor. Sekalian mengajak gadis itu keliling.
__ADS_1
"Mau aku ajak keluar? Sekalian juga, keliling kantor biar kamu ngerti," tawar Clara.
Dengan senang hati, Rika menerima. "Boleh yuk!" sahut Rika dengan riang.