Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴛᴀᴍᴀɴ


__ADS_3

...Jangan lupa jejaknya!!!...


...Happy reading...


...-------------...


Mereka pun melaksanakan kegiatan sarapan mereka, dengan para istri yang menyiapkan para suami.


Mereka sarapan dengan tenang, selesai sarapan Ardi, Rusdy dan Ardit pamit untuk berangkat ke kantor.


Rika yang awalnya ingin ikut mengantar ke depan langsung dilarang oleh Ardit karena tak ingin melihat Rika bolak balik nantinya.


"udah kamu sini aja, aku gapapa gak usah dianter kamu istirahat aja ya? jangan lupa juga diminum vitaminnya" sedangkan Rika langsung menggembungkan kedua pipinya karena tidak bisa mengantar Ardit. Ardit yang melihat tersebut langsung mengacak rambut Rika dengan gemas.


Ish nyebelin, padahal kan ingin antar ke depan apa salahnya coba? lagian Rika juga gapapa, Rika malah lebih suka untuk bolak balik daripada harus diam ditempat yang malah membuatnya menjadi capek.


"Aku berangkat dulu ya? kalau ada apa-apa langsung telephon aku"


"iya by, ati-ati jangan ngebut!"


"siap nyonya Pamunggal"


...--------------...


Hari ini, Ardit kembali menggambil cuti, lebih tepatnya mengerjakan di rumah. Sekarang Ardit dan Rika bersiap-siap mereka berdua akan pergi keluar ya hanya keliling kota jakarta, biar gak bosen katanya.


"udah siap?" dengan senyum manisnya.


Dan di jawab anggukan oleh Rika, dirinya menatap Ardit dari atas hingga bawah perfect itulah yang cocok buat Ardit.


Dengan kaos hitam dan celana jeans yang senada membuat ketampanan Arditya pamunggal bertambah.


Entahlah walaupun sebenarnya Rika sudah delapan bulan lebih tinggal dengan Ardit tak dipungkiri ketampanan Ardit semakin bertambah.


"hey! Kenapa?" mendekatkan kepalanya untuk menatap Rika.


Rika yang sadar pun langsung memalingkan kepalanya dan menggelengkan kepala. Gila padahal itu udah biasa tapi tak dipungkiri jantung Rika berdebar dua kali lebih cepat.


Gila ganteng bener.


"yuk kita berangkat naik kursi ya? biar gak capek?"


"gak mau!" tolak Rika dengan cepat, dirinya ingin menggunakan tongkat saja.


"nanti kamu kecapean sayang" mengelus kepala Rika.

__ADS_1


"gak mau mau pakai tongkat, boleh yaa" ucap Rika dengan puppy eyes, yang membuat Ardit menghela napas perlahan.


"Oke tapi kalau capek nanti bilang ya"


"iya byy"


Tapi sapa sangka Rika yang ingin berdiri dengan tongkatnya tiba-tiba tangan kekar memeluk pinggang nya yang otomatis membuat Rika ke angkat.


"by turunin, aku berat tau berat badanku naik"


"gapapa, kamu enteng kok. Biar gak pegel" jalan keluar, Rika hanya menghela napas pasrah dengan kelakuan suaminya itu. Dengan melingkarkan tangannya ke leher Ardit.


Ting lift pintu terbuka.


"ehem mau kemana nih?"


"eh bunda, ini bun Ardit mau bawa Rika keluar bentar biar gak bosen"


"oh ceritanya mau pacaran dulu, yaudah sok atuh silahkan dilanjut bunda gak mau ganggu" goda Bunda lalu kembali menonton televisi.


"kita pamit bun assalamualaikum"


"waalaikumsalam ati-ati, jangan ngebut awas aja ya kalau mantu bunda kenapa-napa"


"iya bunda tenang aja"


Sekitar lima belas menit akhirnya mereka berdua sampai di taman kota, di sini tidak terlalu ramai karena agak siang, mungkin jika sore akan ramai. Dan banyak pasang mata yang melirik bahkan membicarakan ketampanan Ardit.


"Wah itukan Arditya Pamunggal seorang milyuner muda"


"wah gila ganteng banget"


"shut jangan kenceng-kenceng itu ada istrinya"


"eh beneran? yaelah, eh tapi kalau jadi yang keduanya gapapa sih"


Dan masih banyak lagi ucapan yang terdengar ditelinga mereka.


Tapi Rika dan Ardit tak menghiraukan omongan mereka dan lanjut jalan.


Rika dan Ardit berkeliling daerah taman, di sana banyak sekali pedagang kaki lima yang berjualan mulai dari makanan, minuman hingga mainan.


Rika yang masih belum menemukan apa yang dia ingin hingga matanya terjatuh pada tukang cilok siang-siang gini enaknya makan cilok.


"by" menarik ujung baju Ardit.

__ADS_1


"mau itu, boleh ya" menunjuk gerobak cilok.


Ardit menganggukkan kepala dan menyuruh Rika duduk biar dirinya yang membeli cilok.


"pak mau beli cilok nya 5000 dua"


"siap mas, tunggu dulu ya"


Tukang cilok tersebut langsung membungkus cilok ke dalam plastik dan memberikan bumbu racikan.


"mau pedes atau gak mas?"


"Gak usah pak" Ardit tak mau jika nanti kepedesan dan membuat maag Rika kambuh.


"ini mas" memberikan bungkusan plastik kepada Ardit.


Ardit pun menerima dan mengambil uang satu lembar berwarna biru dan memberikan kepada si penjual "kembaliannya buat bapak aja, makasih pak" penjual tersebut juga tak lupa mengucapkan Terima kasih "makasih mas, semoga rezekinya makin lancar" ucap si penjual cilok "sama-sama Pak, semoga laris jualannya".


Ardit pun kembali menyusul Rika yang sedang duduk dibawah pohon.


"nih cilok nya" memberikan cilok yang dia beli.


"makasih by" sambil membuka plastik cilok.


"gak pedes?"


"iya aku gak mau maag kamu kambuh" mengacak rambut Rika, yang membuat Rika memajukan bibirnya.


"kenapa? mau yang pedes?" tapi tak ada jawaban dari Rika.


Ardit hanya menghela napas perlahan, dirinya berdiri tapi belum satu langkah tangannya ditahan oleh Rika.


"mau kemana?"


"mau beli cilok yang pedes"


"gak usah by, gapapa. Duduk"


"yakin?" menatap bola mata Rika dan hanya dibalas anggukan dari Rika.


...---------...


Vote and komen yuk


gratis kok 🖤

__ADS_1


Belum di revisi


__ADS_2