Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴍᴀᴋᴀɴ sɪᴀɴɢ


__ADS_3

Sampai di depan ruangan Ardit, ke-dua nya melangkah masuk ke dalam. Sebelumnya Ardit sudah memberikan izin untuk ke-dua nya masuk.


"Nah datang juga. Yuk sekalian juga makan siang bareng," ajak Ardit pada ketiganya.


"Aduh Dit, aku baru aja makan siang sama Rika." Clara berkata tak enak.


"Gapapa, nih makan cemilannya aja. Sekalian ngobrol bareng," ajak Ardit kembali.


Ini lah yang membuat orang suka dengan Ardit, tak hanya lelaki itu melainkan seluruh anggota Aldebaran. Tak malu untuk mengajak yang lainnya, dan yang paling penting tak membedakan satu sama lain.


"Udah kak gapapa. Kita makan bareng aja. Yuk!" Rika menarik lengan Clara dan mengajak duduk.


Clara yang tak enak untuk menolak lagi, akhirnya ikut juga. Arko pun sama-sama ikut serta. Ke-empat nya sama-sama makan sambil ditemani dengan candaan dan obrolan singkat.


Usai makan siang selesai, Arko dan Clara pamit keluar sambil melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.


Rika dan Ardit memilih untuk segera melaksanakan kewajiban mereka. Sebelum kembali melanjutkan makan siang.


Di lantai ini ternyata juga ada sebuah mushola kecil yang berada di ujung lorong, tempat nya memang tak begitu terlihat dari depan.


Selesai melaksanakan kewajiban, kembali melangkah masuk. Mereka sama-sama melanjutkan makan siang.


"Kalau ngantuk tidur aja dalam," ujar Ardit yang masih fokus dengan layar laptop.

__ADS_1


"Di dalam? Dimana?" tanya Rika pada Ardit, kembali mengelilingi ruangan itu.


"Di dalam sana," tunjuk Ardit pada pintu yang ada di ujung ruangan.


"Hah?" melangkah mendekati. Rika perlahan membukanya, kembali dibuat takjub dengan ruangan ini.


Dia kira, ini adalah toilet. Namun kenyatannya adalah sebuah kamar, ukuran nya cukup luas. Dengan satu kasur size king di tengah-tengah, tak lupa sofa kecil dan sebuah lemari kayu di sudut ruangan.


"Aku kira toilet tau," ungkap Rika.


"Emang desainnya dibuat kayak gitu, cuma dalamnya beda." jelas Ardit membuat Rika manggut-manggut paham.


"Makannya udah belum?"


"Belum, bentar mau makan lagi." Sedikit berlari menuju sofa.


"Aakkkhhh," pekik Rika.


Badan Rika kini terasa mengambang, dia tak merasakan sakit di punggungnya. Perlahan Rika membuka mata, sosok yang pertama dia temukan adalah Ardit.


Jarang mereka hanya tersisa beberapa senti saja.


Sebelumnya, Ardit yang ingin melanjutkan kerjanya menatap Rika yang berlari menuju sofa. Ingin menegurnya namun tak jadi, saat Rika hampir saja terjatuh ke belakang.

__ADS_1


Dengan sigap, Ardit berlari dan menangkap pas tubuh gadis itu.


Terdiam cukup lama, napas Ardit begitu terasa di wajahnya. Saling tatapan cukup lama, sampai akhir nya Rika sadar dan segera bangkit.


Memegangi dadanya yang berdetak kencang, membatin dalam hati. "Kenapa jantung gue deg-degan gini? Aneh," ujar Rika dalam hati.


Rika bingung sekalian, mengapa jika berdekatan dengan Ardit selalu begini. Jantung nya terasa mau lepas dari tempat.


Kalian boleh aja buat komentar Rika lebay, cuma memang bener. Entah setan apa yang merasuki nya, sampai-sampai membuat nya begini.


"Nggak! Nggak! Sadar," Rika menepuk pipinya berkali-kali, mencoba untuk nya sadar.


"Rika," panggil Ardit yang mampu membuat Rika terjingkrak kaget.


"Iya?"


"Kenapa? Ada yang sakit?" Ardit menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Gak kok, gak ada. Aku gapapa," balas Rika menyengir.


Bernapas lega. "Syukurlah, lain kali hati-hati. Gak usah lari, makanannya gak bakal habis juga," ujar Ardit dengan sedikit menggoda.


"Sana lanjut lagi makanan," sambung Ardit. "Beneran ya, gak kenapa-napa?"

__ADS_1


"Gak ada kok, aku gapapa." Melangkah ke sofa, Rika kembali memakan beberapa cemilan yang Ardit belikan.


Melihat Rika makan dengan lahap, membuat Ardit tersenyum. Mulai hari ini, Ardit berjanji untuk menjaga Rika lebih baik lagi nantinya.


__ADS_2