Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
sᴇʙʟᴀᴋ


__ADS_3

Sekolah SMA Trisatya sedang ramai-ramainya. Mereka semua kesini untuk mengambil ijazah mereka yang baru saja jadi.


Setelah menunggu tiga bulan akhirnya waktu yang mereka tunggu datang juga.


Jojo dengan kawan-kawannya sedang berfoto di lapangan basket. Mereka sedang mengabadikan momen dengan kamera canon di tangannya.


Deon adik kelas Al, sebagai pemegang kameranya. Cowok itu bertugas sebagai tugas potret.


Cukup bagus hasil potretnya. Makanya, kalau ada acara atau kegiatan tahunan yang lain, Deon lah sebagai tukang pengambilan foto.


Kenalin Laksamana Deondra, memiliki paras yang tampan. Deon termasuk salah satu anak kepercayaan Al. Deon sifatnya hampir sama dengan Jojo dan Thony.


Bedanya, Deon masih jomblo dan cowok itu masih sehat dibanding kedua kakak angkatannya itu.



"BURUAN ANJIR LAMA BENER LO!" Teriak Jojo, yang sudah kepanasan di bawah tiang basket.


"OKE-OKE, DIEM SATU-DUA-TI.."


"Nungguin ya..."


"SETAN, BURUAN GIGI GUE KERING LAMA-LAMA SENYUM MULU!" Lantaran dari tadi senyum Jojo seperti senyum papsodent.


"Sabar"


"SEMUANYA SIAP! GAYA ESTETIK YE! DEON JEPRET SEKARANG" Teriak Deon sembari berjongkok, mengarahkan kamera itu untuk menjepret dari beberapa foto.


"Wih gila estetok sekali foto anda" decak kagum terdengar jelas dari mulut Jojo.


...…...


"Nih kamu ada panggilan dari Nusa Jaya" Bu Yuli, memberikan formulir berisi panggilan Al untuk masuk ke sana.


"Nilai kamu tahun ini bagus, apalagi unas kamu kemarin juga baik semua. Gak kamu ambil aja, lumayan Al, dapat beasiswa di sana" jelas Bu Yuli.


"Ntaran bu, saya belum tau"


Bu Yuli mengangguk paham, "Itu terserah kamu, tapi ibu berharap kamu bisa masuk ke sana. Nih kamu tanda tangan di sini. Nanti kamu langsung ke tata usaha, langsung ke pak Bowo ya"


"Makasih bu"


Al keluar, berjalan menuju ke tata usaha. Cowok yang tingginya 183cm itu kali ini memakai kemeja putih lengan pendek, celana jeans biru muda serta tak lupa sepatu putih.



Dirinya masuk, ternyata di sana juga ada lea yang sedang menanda tangani surat Terima. Lea menoleh kebelakang ketika suara baritone itu sangat familiar di telinganya.


Senyum manis lea terbitkan pada Al, setelah selesai menanda tangani. Lea keluar, duduk di depan sambil menunggu Al selesai.


"LEA!"

__ADS_1


Lea berdiri, menyambut ketiga sahabatnya itu. Sudah hampir 3 bulan mereka tak bertemu. Yang dulu hampir setiap hari ketemu sekarang disibukkan dengan kegiatan masing-masing.


"Kangen"


"Gimana keadaan lo? Dan tentunya keadaan ponakan gue" Tanya Acha.


"Baik kok"


"Eh tau gak" kata itu keluar dari mulut Danish, yang artinya dimulailah kegiatan penghibahan.


"Apa?"


"Bara ditangkap"


"Seriusan?" tanya Acha dan Ghea.


Danish mengangguk, "Iya, kalian gak tau?" keduanya menggeleng bersamaan.


"Lha emang bener ya?" tanya Ghea pada Lea.


"Em, gue gak tau pasti sih"


Semua menatap kearah Danish. "TERUS LO TAU DARI SAPA?" Tanya mereka bertiga.


"Dari Thony"


"Ye Thony lo percaya, sesat lo yang ada. Eh tapi beneran woi. Bara di penjara, gimana sih lo" Ucap Ghea, memukul lengan Acha, gemas.


"GAK USAH GUE JUGA YANG LO PUKUL, MARKONAH!" kesal Acha.


Tak lama Al keluar, mendapatkan Lea yang sedang mengobrol dengan ketiga temannya. Al datang, memeluk pinggang Lea.


"Ya Allah, sabar kan hati Danish melihat ke uwu-an mereka." guman Danish.


"Yuk pulang" ajak Al.


"Lha pulang, cepet amat. Kita belom ngobrol lho, ntar aja Al" Ghea berucap.


"Iya Al posesif amat lu, Lea aman kok sama kita"


"Kagak, ayo pulang" Cowok itu menarik lembut Lea untuk pulang.


"Bye"


...…...


"Mau pulang apa jalan-jalan dulu?" tanya Al yang fokus pada jalanan.


"Jalan dulu aja, bosen di rumah terus"


"Oke"

__ADS_1


Menjalankan kembali mobil ketika lampu berubah menjadi hijau, pandangan Al tertuju pada warung seblak pinggir jalan.


"Gue jadi pingin seblak" ucap Al.


Menepikan mobil dipinggir, Al turun. Memutar balik membukakan Lea pintu. Di sana tertulis 'SEBLAK MANG JONO' yang terpampang jelas di banner itu.


"Lho kok berhenti?" tanya Lea.


"Kita makan seblak, mau seblak gak?" tawar Al.


"Mau!" ucap Lea cepat. "Yang pedes ya"


Al menggeleng, "gak nanti perut kamu sakit"


"Gak enak kalau gak pedes"


"Nanti kamu sakit Lea, kasian baby nya"


"Sekali aja, boleh ya Al? Please" Lea menyatukan tangannya memohon.


Al mengusap wajahnya kasar, kalau gini mah Al gak tahan. "Oke, tapi awas aja kalau sakit perut lagi"


Gadis itu mengangguk, "gak akan, promise" Lea mengangkat jari kelingkingnya.


Al menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil Lea. "Promise"


"Pak seblak nya 2, pedes" ucap Al memesan.


"Oke!"


Tak berapa lama seblak pesanan mereka datang, Lea meneguk salivanya. Membayangkan rasa pedas kuah seblak itu.


"Ini mas seblak nya" pak jono memberikan dua mangkuk seblak pesanan Al.


"Makasih pak"


"Pedes banget" Lea mengibaskan tangannya, menyambar es teh yang tadi ia pesan.


"Gak usah di habisin kalau gak kuat" Al mengusap keringat yang keluar di pelipis Lea.


"Gak, mubazir nanti" Lea melanjutkan kembali memakan seblaknya.


"Mau pulang?" tanya Al seusai membayar seblaknya.


"Iyalah mau kemana?"


"Ya kali aja, mau nunggu di sini sampai tutup. Lumayan dapet duit" ucap Al, ngaco.


Lea memukul pelan lengan Al. "Ya kali!"


Al membuka pintu mobil, menyuruh Lea masuk. Setelah dirasa Lea udah aman Al memutar balik ke kanan. Menyalakan mesin dan meninggalkan seblak mang Jono.

__ADS_1


...…...


Lanjut gak?


__ADS_2