
Tiga tahun kemudian
Umur Shaka telah menginjak tiga tahun, bocah laki-laki itu memiliki sifat yang sangat sangat sangat mirip dengan Al, bahkan jika di sandingkan keduanya maka sifat keduanya akan keluar.
Tak ada yang bisa membedakannya, semua sifat Al turun pada Shaka.
Lea heran kenapa sifatnya gak sama seperti dirinya, atau gak setengah-setengah deh biar impas. Sebenarnya Shaka anak siapa? Kan yang buat dua-duanya masa iya Al doang yang unggul.
Seperti malam ini, rumah begitu ramai akibat kedua laki-laki itu yang sedang bermain. Lea hanya bisa menggelengkan kepala.
Setelah tadi selesai mengerjakan tugas kampus akhirnya dirinya bisa berkumpul dengan suami serta anaknya.
Lea sudah kuliah, sudah memasuki semester empat. Sedangkan Al cowok itu sudah memasuki semester tujuh. Shaka akan di titipkan kepada Amel dan Rika setiap pagi hingga siang. Dan malamnya akan mereka berdua jemput.
Terdengar suara tawa dari Al, sambil memegang Shaka dengan kain hitam. Lea telah selesai membuat cemilan. Membawa cemilan itu serta susu hangat.
Lea dibuat kaget melihat kelakuan Al pada Shaka. Shaka, bocah itu tertawa tak tau apa yang terjadi.
"Astagfirullah, itu anaknya di apain? Sampai begitu," kaget Lea, tak habis fikir dengan kelakuan Al.
"Shaka, shaka sini liat dulu" Al menarik pelan Shaka, menunjukan Shaka pada kamera handphone.
"Huaaaa, papa tok caka jadi monstel gini" tangis Shaka dengan cadel nya.
"Hahahaha" tawa Al.
"Sini-sini" Lea membawa Shaka kedalam gendongannya. "Udah ya jangan dengerin papa kamu" menimang Shaka supaya diam menangis.
Lea menatap tajam Al. "Tanggung jawab!"
Al mengangguk polos, walaupun begitu percayalah bahwa Al menahan mati-matian tawanya. Mengambil tisu basa dan membersihkan muka Shaka.
...…...
Pagi ini Al, Lea dan Shaka akan pergi ke kebun binatang. Mumpung Al dan Lea lagi libur semester jadi akan mereka habiskan dengan liburan penuh bersama Shaka, sang buah hati.
Apalagi dengan Al, cowok itu sudah sibuk dengan skripsinya. Makanya jadi agak susah buat mereka menghabiskan waktu bersama.
Lea sedang memasukkan beberapa bahan makanan untuk mereka makan nanti di jalan, dan tak lupa dengan satu tas berisi perlengkapan Shaka penuh.
"Udah selesai?" Tanya Al yang baru selesai mengganti baju.
"Udah, nih bawa ke mobil." Lea memberikan dua tas, berisi makanan dan keperluan Shaka.
"Shaka mana?" tanya Lea setelah memasukkan semua tas kedalam mobil.
"Kan sama kamu"
Seketika mereka berdua panik, mereka berdua sama-sama berpencar mencari keberadaan Shaka. Lea mengumpat kesal, gini nih kalau Shaka nurut Al gak bisa diem anaknya!
"Shaka kamu dimana nak?"
"Shaka"
Hingga akhirnya keduanya menemukan keberadaan Shaka, keduanya saling tatap. Lea dari tadi sudah mengumpat dalam hati.
"Shaka!" panggil Lea, membuat Shaka mendongak dan berlarian menghampirinya.
"Mama"
"Astaga sayang, ngapain main disini?" tanya Lea menatap pakaian Shaka yang basah kuyup.
Al dan Lea dibuat kaget, kenapa anaknya jadi begini sih. Bisa-bisanya main di selokan itu lho, udah gitu kotor lagi.
"Itu ma, caka cali kecebong. di cana banyak ke cebong nya. Caka mau pelihala"
"Anak gue kok jadi gini?" Batin Lea.
__ADS_1
"Gak boleh sayang, Shaka kan punya mainan di rumah nak, nih liat baju Shaka jadi kotor. Lain kali gak boleh dimainin ya, kotor tuh" jelas Lea.
"Tapi Caka mau main Mama" kekeuh Shaka.
"Nanti ya dilanjut lagi, sekarang kita ganti terus berangkat ke zoo"
Mata Shaka berbinar, bocah berumur tiga tahun itu mengangguk. "Iya caka mau liat binatang"
"Oke, kita ganti sekarang" Lea dan Shaka masuk kedalam, mengantikan pakaian Shaka yang kotor.
"Bener-bener anak gue, bukan main, unggul juga bibit gue" Batin Al dengan bangganya.
...…...
Setelah menunggu beberapa menit untuk mengantre tiket, akhirnya Al bisa membeli tiket. Membawa tas Shaka, mereka bertiga berjalan masuk. Shaka terlihat giring, dirinya berjalan kesana-kemari.
"Pelan-pelan Shaka"
"Yey Mama, bulungnya bagus" tunjuk Shaka pada burung kakak tua.
"Mau liat gak?" Shaka mengangguk giring, Al menggendong Shaka dan berjalan menuju ke burung kakak tua.
Burung kakak tua
Hinggap di jendela
Nenek sudah tua
Giginya tinggal dua
tek dung, tek dung, tek dung, lalalala burung kakak tua.
Kedua lelaki itu bernyanyi, Shaka tertawa gembira ketika burung itu berbicara.
Mereka melanjutkan keliling mereka, menuju ke tempat kelinci, rusa, serta yang lain. Lea tak lupa menjepret kedekatan dua superhero nya itu.
Lea tersenyum ketika berhasil menjepret foto, jam sudah cukup siang. Membuat mereka menyudahi waktu di kebun binatang ini.
Melanjutkan kembali perjalan menuju ke pantai. Shaka tertidur di dalam gendongan setelah selesai meminum susunya tadi.
"Kita pulang aja?" Tanya Al.
"Terserah, tapi kita udah sampai juga. Gimana terus?"
"Ya udah kalau gak pulang, tunggu aja palingan juga Shaka bangun nantinya. Kita masuk aja kedalam" Ucap Al dan dapat anggukan dari Lea.
Dan benar saja Shaka tak lama bangun, Lea menggantikan pakaian Shaka. Begitupun dengan Al dirinya juga menganti pakaiannya, keduanya sama-sama bermain air.
Lea hanya menatap keduanya dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya, walaupun Al dan Shaka sering ribut tapi lihatlah keduanya saling menyayangi satu sama lain.
Tangan Lea memegang kamera memotret setiap kegiatan mereka, dirinya terkekeh ketika melihat Shaka dan Al yang ribut.
Pantainya cukup ramai, jadi mereka tak bisa leluasa. Walaupun begitu kebahagiaan sangat terpampang pada wajah mereka.
"Papa, pelan-pelan Caka bacah cemua!" Celetuk Shaka dengan muka garangnya.
Al terkekeh, "Kamu ini ya, hm bukannya garang malah gemesin." Ledek Al.
Keduanya sama-sama bermain pasir, dengan keusilan Al, kaki Shaka dimasukkan kedalam tanah dan bocah itu hanya diam.
"Ati-ati Al," teriak Lea.
"Iya sayang!" Teriak Al kembali.
__ADS_1
Lea berjalan menghampiri Al dan Shaka yang bermain pasir, Lea juga ikut dalam permainan mereka. Tawa mereka terdengar, Al dan Lea duduk menatap Shaka yang bermain pasir.
Al menutup kedua matanya, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Tangan Al membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Lea.
"Suka?"
Lea mengangguk, "Suka, makasih ya udah bawa kesini"
Al tersenyum menarik Lea kedalam pelukannya, sebelum pekikan terdengar jelas membuat Al menatap datar Shaka.
"PAPA!"
"Astagfirullah" Al mengusap dadanya, kaget.
Bocah itu berkacak pinggang dengan menggembungkan kedua pipinya. Gimana gak gemes ye kan? "Ndak boleh peyuk-peyuk, dosa" ucap Shaka dengan tampang garangnya.
"Mana ada dosa?"
"Kata pak ustadz gak boleh, dosa. Nanti ketiganya setan," ucap Shaka dengan cadel nya.
"Berarti Shaka dong setannya" tunjuk Al pada Shaka, Lea hanya bisa menghela nafas.
Gak lama juga ribut mereka berdua.
"Tok Caka?" tanya Shaka dengan polosnya.
"Iya kan Shaka ketiga, jadi Shaka setannya dong"
"IH TOK GITU, CAKA BUKAN SETAN PAPA!"
"Lho kan bener Shaka, katanya yang ketiga setan. Berarti kamu setannya" ucap Al, membuat Shaka merajuk.
"PAPA!"
"Udah udah, gak usah berantem. Udah Shaka gak udah dengerin kata papa kamu lanjutin mainnya sana, Mama ke sana dulu mau ambil makanan." Pamit Lea.
Al mengangguk tangannya mengambil kamera yang tadi Lea bawa, menjepret Lea yang sedang berjalan dipinggir pantai sesekali menoleh kebelakang.
"Cantik," guman Al menatap foto jepretannya.
Tak lama suara Lea terdengar, menyuruh Al membawa Shaka untuk makan siang. Karena sekarang jam sudah menunjukan pukul setengah tiga.
"AL, SHAKA SINI! AYO MAKAN"
Al membawa Shaka menggendongnya dan menaruhnya di karpet. Lea memakan memberikan nasi berisi ayam goreng serta sambal. Sedangkan Shaka, bayi itu memegang sendok nya sendiri.
"Good boy" Tangan Lea terulur mengusap gemas puncak Shaka.
"Mama ndak makan?"
"Ini makan, Shaka makan yang banyak ya, biar cepat besar" Ucap Lea yang dapat anggukan polos dari Shaka.
Selesai makan-makan, shaka kembali bermain dengan Al dan Lea, mereka bertiga bersama bermain air, pasir serta berlarian ke sana kemari.
...Tuhan terimakasih telah mengirim dua superhero dalam hidupku, terimakasih telah memberikan amanah untuk ku, dan terimakasih atas semua cobaan dan kejadian yang pernah engkau kasih....
...Sekarang ku percaya bahwa dibalik semua masalah, konflik, keributan. Ada hikmah yang bisa ku petik, ada pelajaran yang dapat ku raih....
...Dan untuk mu yang sedang landa masalah, semangat jangan putus asa. Percaya bahwa dibalik itu semua Tuhan telah menyiapkan hadiah terbaik....
...-Alexa Louis 🦋...
...…...
Ending ~
Akhirnya selesai juga, sampai ketemu lagi di episode yang akan datang. See you next time semua 😉
__ADS_1