
"Rik, masalah kamu masalah aku juga, kita udah nikah kamu tau kan kunci rumah tangga apa? kejujuran aku mohon. Aku gak mau kamu pendam perasaan kamu" ucap Ardit.
"ada aku sebagai sandaran kamu" lanjut Ardit.
Tanpa Rika sadari ucapan Ardit membuatnya menitihkan air mata, sebesar itu kah cinta Ardit ke dia? sedangkan Rika belum bisa nerima cinta dari Ardit. Walaupun Rika sudah menerima status barunya tapi kenapa hatinya belum bisa nerima, kenapa?.
Ardit langsung membawa Rika kedalam pelukannya, Rika yang mendapatkan itu menyandarkan kepalanya ke dada Ardit, nyaman.
Pelukan itu tak berlangsung lama karena pesanan mereka sudah datang.
"permisi ini pesanannya tuan" ucap pelayan tersebut sambil menghidangkan pesanan mereka berdua.
Pelayang tersebut pamit pergi, Rika dan Ardit pun langsung makan karena sudah makan siang, Ardit memesan porsi sedikit banyak, dia tak ingin penyakit Rika kambuh nantinya.
(duh suami idaman)
"yuk makan, aku gak mau penyakit kamu kambuh" ucap Ardit diakhiri senyum manisnya.
__ADS_1
Mereka pun makan, hening seketika Ardit melihat Rika yang menghabiskan minumannya, setelah habis Ardit meminta agar Rika menjelaskan masalah apa yang terjadi.
"bisa di jelasin kenapa dia sampai numpahin minuman kamu" ucap Ardit.
Rika mengangguk sebagai jawabannya, sebelum menceritakan Rika menutup mata dan menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.
"huft, mungkin ini saat nya gue ceritain" batin Rika.
"jadi Sania termasuk musuh aku dari SMA, dia juga bad girl sekolah tapi bisa di bilang masih di bawah aku dan hampir tiap hari banyak cowok sekolah yang lebih ngasih hadiah ke aku dari pada ke Sania karena dia pingin yang mahal sedangkan aku ya aku Terima lumayan. Terus itu berlanjut apa lagi waktu aku ngerubah sifat aku yang jadi cewek bar-bar aku kira mereka bakal menjauh eh malah banyak yang ngasih lagi dan banyak juga cowok-cowok yang taruhan buat dapetin aku atau pun Amel" ucap Rika yang di angguki Ardit.
"trus di situ juga aku sering bolak balik masuk bk dan aku mulai gak suka di atur karena emang ini aku Rika yang ini bukan Rika yang dulu, sampai akhirnya kita lulus dan dia masih ngelakuin berbagai cara entah itu buat orang benci aku atau yang lainnya. Tapi aku gak peduli sih bodo amat ngapain temenan sama orang yang butuh doang lalu pergi gak tau kemana. Dan sampai akhirnya aku sama Sania satu kampus lagi dan yah dia juga memakai kekuasaannya buat hancurin sesuka dia sampai kemarin aku berantem sama papa ya karena Sania, yang panasi masalah" ucap Rika..
"dan sebelum aku sama papa berantem, aku sama Amel di buat kaget karena ada foto aku sama om-om hidung belang dan itu buat papa main tangan sama aku" ucap Rika lirih.
Ardit yang melihat itu pun langsung membawa Rika kedalam pelukan, hatinya juga sakit ternyata masalah Rika udah sebanyak ini. Dan Ardit juga salut untuk Rika karena dia bisa melewati masalahnya sampai sini.
"hiks papa gak percaya sama Rika hiks dan mama juga yang selalu belain Rika malah diam" ucap Rika lirih.
__ADS_1
"hustt udah-udah, jangan dilanjutin lagi ya" ucap Ardit sambil mengelus kepala Rika.
"tau nama perusahan dia?" ucap Ardit.
Rika yang mendapatkan pertanyaan tersebut mendongak menatap Ardit.
"kakak gak perlu susah payah, Rika udah susun rencananya kok, dan Rika gak mau rencana Rika gagal" ucap Rika.
"Rika masih kasih kesempatan ke Sania tapi kalau dia langgar ya terpaksa Rika bongkar semuanya" ucap Rika.
"oke tapi kalau butuh apa-apa langsung bilang aku gak mau kamu pendem sendiri" ucap Ardit lalu mengacak rambut Rika.
"siap makasih ya kak karena kakak akhirnya Rika bisa lega" ucap Rika dengan senyum manisnya.
"iya sama-sama apa sih yang gak buat nyonya pamunggal" ucap Ardit.
Setelah mengobrol sebentar Ardit membayar makanan yang mereka pesan dan mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi mall.
__ADS_1