
Bintang-bintang telah berganti menjadi matahari, memunculkan diri untuk menerangi setiap isi bumi.
Tapi itu tak terjadi pada gadis yang masih setia dengan kasurnya, menutup diri rapat-rapat. Dirinya masih engan untuk membuka mata, padahal jam sudah pukul sembilan kurang.
Bukan Rika kalau gak bangun pagi, bukannya gak bisa. Melainkan karena dirinya cuti dua hari ke depan. Yaitu hari ini dan besok.
Mumpung libur mending istirahat, ya gak? Kayaknya Rika melupakan satu hal. Sampai-sampai dirinya masih engan untuk membuka matanya.
Di bawah, direpotkan dengan persiapan untuk lamaran. Hanya keluarga dekat saja yang tau. Padahal acaranya akan dimulai setelah ashar nanti tapi di bawah sudah sibuk.
Ya ampun padahal kan cuma lamaran, palingan juga pembagian cincin udah.
Itu kan asumsi Rika saja.
Santi yang ada di bawah, sudah kesal sendiri ini tuh udah jam berapa? Masa anak gadis bangun jam segini? Apa kata mertua nanti.
Menghela nafas sabar, sabar sama kelakuan anaknya yang astagfirullah seperti Rika.
"Rika! Bangun udah siang ini" Teriak Santi dari bawah, namun tak ada jawaban dari Rika.
Membuat Santi menjadi geram sendiri, menaiki anak tangga hingga sampai di depan pintu bercat putih dengan tulisan 'dilarang masuk ini kawasan Rika'.
Tok.. Tok.. Tok..
Santi menggedor pintu, udah tau kalau Rika kalau tidur susah banget dibangunin.
"Rika bangun gak! Buruan! Dibawah repot kamu malah enak-enakan tidur. Bangun!" Teriak Santi dari luar.
Masih tetap saja Rika tak membuka matanya, kayaknya kalau ada gempa Rika udah ketindihan nih.
Santi pun masuk, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang masih tidur di kamar, padahal sebentar lagi dia akan menjadi istri, Rika-Rika.
Wanita itu langsung membuka korden berwarna putih, hingga sinar matahari menembus jendela kamar Rika, gadis tersebut masih saja tidak terbangun dan malah menutupi dirinya rapat-rapat dengan selimut sehingga dia tak terganggu dari mimpinya. Mimpi apa sih Rika sampai tak bangun dari tidurnya tersebut?.
Santi yang telah geram kepada anaknya pun menarik selimut Rika, Rika yang merasa selimutnya tertarik semakin memegang kuat selimutnya tersebut.
"Rika bangun! Udah gede juga masih aja molor bangun! Gak ingat ini hari apa?"
"Rabu" Ucap Rika asal.
__ADS_1
"Bangun gak!"
"Apa Sih mah! Rika ngantuk, masih pagi juga teriak-teriak mulu!" Kesal Rika yang masih menutup kedua matanya.
"Buruan bangun"
"Berisik!"
"Bangun gak?"
"Gak mau ma, Rika tuh ngantuk. Semalem Rika habis nonton drama tidur jam 4 terus shalat terus tidur. Rika ngantuk tau" Ucap Rika.
Malah curhat.
"Mama gak mau tau! Salah sendiri bangun!"
"Gak usah teriak-teriak bisa gak? Cepet tua tau rasa nanti"
"Bangun"
"Gak!"
"Gak-gak Rika udah bangun kok" Dengan senyum paksa dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi Rika tak berhentinya menggerutu.
"Udah gak gerutu mulu, buruan mandi, sarapan terus bantu di bawah, repot tuh yang lain" Ucap Santi sambil turun kebawah untuk membatu yang lain.
Rika pun langsung jalan ke kamar mandi dengan langkah gontai, nyawanya belum 100% penuh. Rika masuk dan memulai ritual mandinya, sepuluh menit Rika telah selesai dengan mandinya, dia menggunakan handuk dan berjalan menuju ke ruang gantinya.
Setelah ganti dengan training dan sweater nya Rika pun turun untuk menggambil sarapannya.
"Punya anak gadis, bangunnya kesiangan. Gak bantu beres-beres, bangun-bangun udah siap, gimana mau jadi mantu baik kalau gitu" Sindir Santi sambil membereskan dapur.
"Gak usah nyindir!"
"Lho udah turun, mama kira masih di atas" Ucap Santi yang pura-pura tak tau.
"Akting mama gak berbakat, besok-besok kalau mau akting cocoknya jadi korban jambret. Nah itu baru cocok" Rika berucap dengan tampang tanpa dosa.
Santi langsung saja melempar lap yang dia pakai untuk membersihkan meja. Punya anak satu gini amat.
__ADS_1
"Gak kena, wlee" Ucap Rika yang berhasil menghindar lemparan sang mama.
"Kamu!" Santi berkacak pinggang menatap Rika tajam.
"Gak takut tuh" Ucap Rika dengan santai.
"Udah-udah sana minggir, ganggu aja" Usir Santi.
"Lha siapa juga yang ganggu mama, orang mama sendiri yang nyindir Rika. Udahlah berantem sama mama gak ada bakat" Rika meninggalkan Santi dan menuju ke meja makan untuk sarapan pagi.
Bukan sarapan pagi sih, ini aja udah jam setengah sepuluh lebih.
Lain halnya di rumah Aldebaran bersiap-siap, veni sedang mengecek seserahan untuk nanti di berikan kepada Rika, sedangkan Ardit sedang berbincang dengan Rusdy calon besannya.
Ardit, masih di kamar dia masih mengerjakan tugas kantor, walaupun sebenarnya bisa dia kasih ke Asisten kantornya, tapi Ardit menolak karena menurutnya jika bisa dikerjakan sendiri kenapa harus dikerjakan orang lain.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk gak di kunci" Teriak Ardit dari dalam.
Veni masuk, menggelengkan kepala melihat anaknya yang masih sama.
"Sibuk banget, sampai gak turun kebawah buat sarapan" Ucap Veni yang duduk di pinggir kasur.
"Maaf Bun, ini sekalian selesaikan semuanya. Biar gak nanggung" Ucap Ardit yang merasa tak enak.
"Iya Bunda tau, tapi jangan sampai kamu lupa sama makan. Ya!" Ucap Veni mengelus rambut Ardit dengan sayang.
Ardit mengangguk dua kali. "Makan gih, udah jam setengah sepuluh tuh makan ya, biar kamu gak sakit. Bunda gak mau kamu sakit nantinya. Apalagi kamu mau nikah"
"Iya Bunda, Bunda gak usah khawatir" Ucap Ardit menggenggam tangan sang Bunda dengan lembut.
"Mau Bunda antar atau turun buat makan?"
"Ardit turun aja, biar Bunda gak naik-turun"
Veni tersenyum "Ya udah, awas ya kalau gak turun!" Tegur Bunda.
Veni turun, di susul dengan Ardit sebelum itu dirinya menyimpan file dan menutup laptopnya.
__ADS_1