
Malam hari pun tiba, sehabis menyelesaikan kewajiban mereka. Rika dan Ardit memilih berdiam diri, jika ditanya apakah canggung? Tentu saja iya, entah mengapa berdekatan dengan Ardit membuat jantung Rika dag-dig-dug.
"Gue kenapa sih?" tanya Rika pada dirinya, sembari memegang dadanya yang terus berdetak kencang.
"Jangan-jangan gue jantungan?" ujarnya dalam hati. "Gak-gak, jangan sampai. Ayolah bisa diem gak sih?" geram Rika seperti bocah dimabuk asmara saja.
Ardit yang santai di sofa, sambil memangku laptop menatap Rika heran. Gadis itu tak henti-hentinya berceloteh. Tak tau apa yang gadis itu ucapkan. Namun, terlihat begitu mengemaskan di matanya.
Terkekeh pelan, Ardit menggelengkan kepalanya pelan. Kembali melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, mereka baru saja menikah tadi pagi dan kini Ardit harus sibuk dengan pekerjaan.
Tau sendiri, Ardit sudah mengambil alih sebagian perusahaan Ardi. Jadi tak ayal seberapa sibuknya laki-laki itu, padahal Ayah Ardi sudah memperingati Ardit untuk mensortir saja.
"Kak," panggil Rika dengan pelan.
Ardit yang merasa terpanggil, langsung menghentikan aktivitas bekerja nya sebentar, dia menatap Rika. "Iya? Ada apa," tanya Ardit.
Rika berdehem singkat, seketika dirinya dibuat nervous sendiri. "Gak turun?" tanya Rika pada Ardit.
Melirik jam sekilas, Ardit berkata. "Bentar lagi" ujarnya. "Kenapa? Kamu mau turun" tanya Ardit pada Rika.
Rika hanya mengangguk kecil. "Iya,"
Bibir Ardit berkedut, melihat ekspresi Rika. "Yaudah, ayo ke bawah." ajak Ardit sambil menata barang-barang dan memasukkan nya kembali ke dalam tas kerja.
Mengambil ponselnya, Rika dan Ardit sama-sama turun ke bawah, mulai dari keluar hingga sampai di tangga. Tak ada yang membuka suara.
__ADS_1
Sesampainya di bawah, ternyata para anggota yang lainnya sudah berada berkumpul di meja makan. Beberapa anggota keluarga masih ada di sini.
Melihat Rika dan Ardit turun, Santi menyambut keduanya dengan hangat. "Eh udah datang. Duduk duduk, Rik bantu Mama siapin makan malam ya" suruh Santi pada Rika.
Mengangguk kecil, Rika melangkah ke arah dapur. Mendapatkan Bunda Veni dan Bi sedang memasak. "Malam," sapa Rika.
Veni tersenyum melihat Rika. "Malam sayang. Gimana keadaanya udah baikan belum?" tanya Veni dengan lembut, wanita dengan balutan hijab berwarna pink itu sedang asik menumis sayur.
"Udah baikan Bunda," jawab Rika. "Maaf ya Bun, gak bisa bantu tadi," ujar Rika tak enak.
Veni tersenyum memahami. "Nggak papa kok, Bunda paham. Semuanya juga ngerti, lain kali jangan sampai lupa ya. Biar gak sakit lagi," kata Veni memperingati.
Mengangguk kecil. "Biar Rika bantu," sahut Rika, membantu menyiapkan alat makan serta menaruh lauk ke dalam piring dan membawanya ke meja makan.
Tak perlu waktu lama-lama, makan malam dimulai. Keadaan yang hening menyelimuti makan malam kali ini. Sesekali ditemani oleh candaan jokes dari Bapak-bapak.
"San, aku balik hari ini ya" pamit Veni pada Santi.
Santi yang sibuk dengan meja makan menoleh, lalu berkata. "Gak nginep sini aja Ven?" tanya Santi.
"Maunya sih gitu," jawab Veni. "Cuma, Ardi ada kerjaan yang belum selesai. Lagian besok juga mau ke Bogor ada rapat di sana," imbuh Veni.
"Aku kira nginep sini loh disini, tiwas udah ku siapin kamar,"
"Bertanya juga dadak banget San, maaf ya." ujar Veni tak enak.
__ADS_1
Rika, gadis itu hanya sebagai pendengar. Melanjutkan pekerjaan mencuci nya, kantuk sudah mulai menyerangnya.
"Rika," panggil Veni. "Bunda pamit ya, Ayah kamu udah nungguin di depan. Kamu baik-baik ya sama Ardit, yang paling penting jaga kesehatan!" pesan Veni pada Rika.
"Bunda berdoa, supaya keluarga kalian menjadi keluarga yang Samawa," mereka sama-sama mengamini dalam hati.
"Aamiin, Bunda juga harus sehat sehat. Biar Rika antar ya ke depan," tawar Rika sambil melangkah menuju ruang keluarga. Dimana yang laki-laki tengah berkumpul.
"Nah udah selesai," Ardi bangkit dari kursi. "Kita berdua pamit balik duluan ya," pamit Ardi pada Rusdy.
Rusdy dan Ardit sama-sama bangkit. "Balik sekarang?" tanya Rusdy.
"Iya Rus, ada kerjaan yang belum selesai. Besok ada rapat di Bogor," tutur Ardi.
"Kita pamit ya, assalamu'alaikum!" pamit Veni dan Ardi.
"Waalaikumsalam," Rika dan Ardit tak lupa menyalami kedua punggung tangan Ardi dan Veni, dilanjutkan dengan berpelukan.
"Sehat sehat Rika, jangan sampai lupa makannya!" tegur Ardi membuat Rika mengangguk kecil sebagai balasan.
"Hati-hati!" Santi, Rusdy dan Rika kembali masuk ke dalam saat mobil yang ditumpangi Ardi dan Veni tak terlihat.
Rika langsung naik ke atas, mood nya kembali tak baik lagi. Santi hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat tingkah laku dari putri semata wayangnya. "Kamu jemput Rika" suruh Santi pada Ardit.
"Iya Ma. Pa Ardit pamit ke atas dulu," pamit Ardit pada Santi dan Rusdy, dan melangkah naik ke atas. Sampai di depan kamar, perlahan tangannya memutar gagang pintu.
__ADS_1
"Rika," panggil Ardit dengan pelan. Matanya menelisik setiap sudut kamar Rika, hingga berhenti pada satu titik dimana Rika berdiri.