
Sore ini, keadaan basecamp cukup ramai. Al serta yang lainnya berkumpul. Mereka sedang membahas, tentang penangkapan Bara.
Ya, Bara. Cowok itu masih belum bisa ditemukan, padahal sudah hampir tiga bulan tapi sampai sekarang, polisi masih mencari keberadaan Bara.
Yang kemarin tanya, kok polisinya gak nyari. Mereka itu nyari guys, tapi karena Bara cukup bermain pintar kali ini. Polisi cukup susah untuk mencari.
Revan, laki berambut gondrong itu sedang berkutat dengan laptopnya. Dia sedang mencari keberadaannya Bara. Yang biasanya Revan akan menemukan lokasi seseorang dalam waktu yang singkat.
Tapi kali ini berbeda, hingga sekarang dia tak menemukan keberadaan Bara.
"Gimana Van"
Revan menggeleng. "Belom ketemu"
"Gila tuh bocah, pinter bener mainnya. Kayaknya dia udah buat rencana ini deh sebelumnya.Gak mungkin dong, kalau gak, dia kan gampang di tangkap. Tapi sekarang.." Ucap Jojo, yang membuat semuanya mengangguk setuju.
Hingga langkah seseorang datang membuat semuanya menoleh kearah ambang pintu.
"Kevin, ngapain lo?!"
"Santai-santai, gue gak mau cari masalah. Gue ke sini cuma mau kasih info ke kalian" Kevin mengangkat kedua tangannya.
"Duduk"
Kevin duduk, dihadapan inti Alvarebos. "Gue ke sini cuma mau bantu lo buat tangkep Bara, Bara makin ke sini makin menjadi. Tadi pagi gue udah tau dimana keberadaan Bara"
"Mana?"
"Salah satu gedung tua yang berada di pinggir desa. Di sana dia mendirikan sebuah geng. Dan-"
"Geng, bukannya dia wakil lo?" Jojo memotong ucapan Revan.
"Jangan motong ucapan orang Jo" Ucap Revan.
"Sorry-sorry, lanjut" Cowok itu mempersilahkan Kevin untuk kembali bercerita.
"Bara udah gue lengserin dari Vellix, setelah kejadian dimana Bara bersekongkol sama Lidya. Dan hal itu pula yang buat dia dendam sama gue" Revan menjelaskan semuanya.
"Dan dia, membuat geng bernama Kartal, dia kabur dari penjara dibantu oleh anggota kartal yang lainnya. Dan kartal cukup hebat hal itulah yang membuat kita semua serta polisi cukup sulit mencari keberadaan Bara"
"Kartal? Kenapa nama itu gak asing" guman Al yang masih terdengar oleh yang lainnya.
"Iya ya, kek gak asing gitu"
"Coba lo bilang nyokap lo deh Al, mungkin aja tau" Usul Kevin.
Al mengangguk, langsung saja menghubungi sang Bunda. Tak berapa lama panggilan tersambung.
"Bunda"
"Iya, ada apa Al?"
"Bun, Al mau tanya. Bunda tau geng kartal?"
"Kartal?"
Rika cukup terdiam, membuat semuanya yang berada di basecamp saling tatap hingga membuat mereka kaget satu sama lain.
"Kamu punya masalah apa sama Kartal?"
"Gak Bun, bukan gitu"
"Al, bunda mohon kamu jangan main-main sama dia. Mereka bahaya buat kamu. Kartal bisa aja buat kamu masuk kedalam masalah mereka. Mereka pandai buat memutarkan fakta, apalagi anggota mereka keluar masuk penjara akibat Narkoba"
Benar! Benar dugaan mereka semua. Kartal, termasuk salah satu geng turun temurun yang sudah berada saat Rika kuliah. Mungkin sudah sekitar 20 tahun berdiri.
__ADS_1
Anggota mereka cukup hebat dalam bermain tak tik, tapi tak hebat dengan pertengkaran. Mereka hebat untuk memutar fakta, jika sampai salah sedikit makan kalian lah yang malah kena.
Anggota serta ketua Kartal telah keluar masuk penjara. Semuanya telah mencoba bagaimana hidup di dalam jeruji besi.
Polisi sempat membubarkan Kartal, tapi kartal malah merajalela. Membuat semuanya menggelengkan kepala.
Bukannya malah memperbaiki diri, malah menjadi-jadi.
Al menutup panggilan, mereka semua terdiam ketika mengetahui fakta itu.
"Maka dari itu, gue mau kita kerja sama. Kerja sama untuk membuat Bara masuk ke dalam penjara, dan kalau bisa Bara mendekam di sana seumur hidup"
"Gue tau, Bara nyerang lo. Apalagi Lea, Lea adalah kelemahan lo" Ucap Kevin, fakta. Lea adalah kelemahan Al, dan Al tak akan diam jika gadisnya terkena masalah.
Ini yang Al takuti, dia harus melibatkan Lea kedalam masalahnya. Padahal yang punya masalah dia bukan Lea, tapi Lea yang kena imbasnya.
"Dan berita kehamilan Lea udah banyak yang tau, bisa jadi ini sebagai patokan Bara buat hancurin lo"
"Tujuan lo ajak kerja sama?" Tanya Al, serius.
Kevin terkekeh. "Ayolah man gak usah becanda, kita temen lho. Apalagi ini menyangkut pautkan masalah nyawa orang. Anak buah gue, masuk ke rumah sakit. Gue ajak kerja sama bukan karena itu doang. Gue cuma mau kita balikan kayak dulu"
"Gak ada musuh diantara kita, Alvarebos dan Vellix bersatu kayak dulu" lanjut Kevin kembali.
"Tapi kita pernah musuhan" Ucap Revan yang sedari tadi diam, menyimak obrolan.
"Itu kan karena Bara"
"Ya kenapa lo percaya setan!"
"Karena gue dalam keadaan emosi. Lagian siapa sih yang suka sama kelakuan licik. Gada Ada!"
"Ye lo aja yang bodoh, tiba-tiba dateng kagak ada angin kagak ada hujan, lo hajar anak orang. Terus mengibarkan bendera putih lagi" Ucap jojo.
"Fakta bro!"
"Berantem, gue bunuh lo pada" jengah Al, menatap dingin teman-temannya yang ribut.
"Gue balik, dan lo" Al menatap Kevin. "Gue Terima kerja sama lo"
"Lo yakin?" tanya Thony.
"Hm, kalau lo berkhianat, jangan harap bisa kabur dari gue" Al langsung meninggalkan basecamp, membuat suasana basecamp yang awalnya memanas kita mereda.
Mulai hari ini, Alvarebos dan Vellix kembali bersatu. Setelah hampir tiga tahun mereka bertengkar karena kesalahpahaman. Sore ini kedua kubu itu kembali bersatu.
Al ingin cepat-cepat bertemu gadisnya. Dia rindu pada Lea dan juga malaikat kecil yang ada di dalam tubuh Lea
...…...
Menatap Lea yang sedang menyiapkan makan malam, berjalan menghampiri Lea memeluk gadisnya dari belakang.
"Masak apa?"
"Eh baru pulang? Masak ayam kecap sama mie goreng" Lea memutar balik badannya, menghadap kearah Al.
Lea mengelus rahang tegas Al. "Sana mandi, udah aku siapin pakaiannya di atas kasur" ucapnya.
Al memeluk Lea menyembunyikan pada leher jenjang Lea. "Mandi berdua"
"Iya, yuk mandi"
Al langsung saja mengendong Lea seperti koala, memberikan jarak antara mereka. Perut Lea sudah mulai membuncit.
Mereka berdua mandi bersama, Lea membantu membuka pakaian Al. Sebelum masuk ke dalam bath up, Al berjongkok mengelus perut Lea yang mulai membuncit.
__ADS_1
"Selamat malam anak papa, sehat-sehat sayang. Jangan bikin mama sakit, dan jangan ngidam yang aneh-aneh"
Lea memukul pelan kepala Al. "Tanggung jawab kamu ya itu, orang kamu yang buat kok"
Masih ingat dengan kejadian dimana Lea ngidam mangga muda? yang berujung Al sebagai pelampiasan untuk menghabiskan mangga yang sangat asam itu. Paginya Al harus bolak balik keluar masuk kamar mandi.
"Kita sama-sama buat sayang. Buat lagi yuk" goda Al.
"Enak aja buat lagi, ini aja belum lahir main buat-buat aja. Kau pikir bikin donat sekali jadi?" Kesal Lea.
"Nanti waktu baby nya lahir, kita gas lagi. Aku mau punya anak 11"
"Nyaho dong Akunya. Ngeselin ih, udah ah mandi"
Setelah dengan ritual mandinya, mereka berdua menuju ke meja makan. Selesai dengan makan malamnya. Al mengambil alih semua piring dan gelas, menyuruh Lea untuk duduk.
"Kamu duduk aja, aku yang cuci piring sama gelasnya. Sana duduk" titah Al, menyuruh Lea untuk duduk.
"Al-"
"Sana duduk, kamu kan udah masak. Nah sekarang tugas aku yang cuci, duduk ya. Kasian baby nya"
Lea mengangguk setuju, dirinya hari juga cukup lelah. Menyadarkan diri pada sofa sambil menunggu Al datang. Handphonenya kali ini berdering membuat Lea membuka matanya kembali.
Al datang sambil membawa susu bumil milik Lea "Siapa? Orang kemarin lagi?" Tanya Al menaruh susu Lea di atas meja.
"Kayaknya sih"
"Sini" Al mengambil alih handphone Lea. Membuka handphone Lea dan mengambil SIM card Lea lalu mematahkannya.
"Nanti beli nomor yang baru aja" Al mengembalikan handphone Lea.
Lea sudah menceritakan kejadian ini saat ngidam mangga muda. Dia rasa orang itu makin hari-makin mengerikan bagi Lea.
"Al"
"Hm?"
"Aku di teror"
Hal itu membuat Al menatap tajam Lea. "Kapan terjadi?"
"Satu bulan ini" ucap Lea sambil menunduk.
"Yakin? Coba liat" Lea memberikan handphonenya, memberikan beberapa bukti nomor yang tak di kenal.
"Kenapa baru bilang sekarang? Hm, ini bahaya Le!"
"Maaf, aku kira salah nomer tapi makin ke sini malah kayak gitu. Dan ini" Lea memberikan kertas yang bertuliskan 'DIE' yang artinya kematian. Kejadian waktu di taman Lea juga menceritakan semuanya.
"Ya udah, kamu tenang aja. Semuanya akan selesai, kita berdoa aja semoga semuanya berlalu"
"Aamiin"
"Kalau besok ada yang nelpon gak jelas, langsung bilang ke aku ya?" Ucap Al, semuanya makin menjadi sekarang.
Lea meminum susu yang di buat Al, dirinya menoleh sekilas kearah Al yang sibuk mengetik sesuatu pada handphonenya.
"Habisin ya"
...…...
alvaroadbr_ beautiful angel 🦋
__ADS_1