
...Don't forget to like, comment, vote 😉...
...Happy reading guys!!!...
...Alvaro Aldebaran...
...Alexa Louis...
...…...
Ghea baru saja melangkahkan kakinya pada halaman rumah, hatinya sedikit bimbang. Tapi dia menepis pikiran tersebut. Hari ini dirinya baru pulang jam 8 malam sebenarnya sebelum maghrib mereka semua sudah pulang.
Tapi karena Ghea malas di rumah akhirnya memutuskan untuk masih kumpul dengan yang lainnya.
Memegang pegangan pintu.
Ceklek
Dirinya dibuat kaget melihat seisi rumah seperti kapal pecah, vas bunga yang pecah dan bertebaran ke mana-mana. Foto, Buku-buku majalah dan masih banyak lagi.
prang
"Akhh" Untung dengan cepat Ghea menghindar benda yang melayang kearahnya.
Menatap kedepannya terdapat sang Mama yang menatapnya tajam dirinya, di sana juga ada sang Papa yang tersenyum kearahnya.
"Masih ingat kamu buat pulang!" Ucap sang Mama dengan suara yang kencang.
"Ghea masuk ke kamar ya! Sini biar papa bantu" Ucap sang Papa mengulurkan tangan membantu Ghea agar tak terkena pecahan beling.
"Gak usah Pa! Ghea naik aja ya sekarang Papa jangan lupa istirahat, selamat malam Pa!" Ucap Ghea yang tak menghiraukan ucapan sang Mama.
Dirinya capek bahkan sangat capek sudah beberapa hari Ghea nurut dengan ucapan sang Mama. Bukannya senang malah dirinya merasa tertekan dengan ucapan sang Mama.
Harus ini dan itu.
"Jauhi temen kamu atau Mama akan hukum kamu!"
"Jauhi anak miskin itu Mama gak mah kamu dekat-dekat dengan dia! Dia itu gak bisa bahagian kamu! Mau kasih makan apa kamu nya nanti? Pakai cinta gak akan kenyang!"
"Jangan lawan ucapan Mama atau kamu gak akan pernah ketemu lagi sama Mama, ngerti?"
Dan masih banyak lagi, Mama selalu saja mengancamnya Ghea hanya bisa menurutinya tapi makin lama, ancaman sang Mama ia tak pedulikan.
"Ghea Mama bilang sama kamu! Darimana kamu sampai pulang jam segini hah!" Tanya sang Mama dengan emosi.
"Ghea masuk kedalam kamar sekarang, gak usah dengerin omongan Mama ya? Masuk ke kamar ya" Ucap sang Papa menyuruh Ghea agar langsung ke kamar.
"Ghea Mama lagi ngomong sama kamu! Jangan kurang ajar kamu ya!"
"Ghea masuk ke kamar nak" Ucap Agus.
Ghea hanya menggelengkan kepala, melangkahkan kakinya menuju ke atas tapi terhenti ketika Tina menerikai dirinya dari bawah.
"Mama itu tanya sama kamu! Kamu bisu hah, jawab omongan Mama!"
"Mama mau Ghea jawab omongan Mama tapi Mama gak bisa jawab omongan Ghea? Ya. Ma! Sekarang Ghea tanya ke Mama kenapa Mama larang Ghea untuk melakukan apa yang Ghea mau? Dan kenapa ketika Mama berantem sama papa kenapa Ghea yang kena imbasnya kenapa!" Tanya Ghea dengan nada tingginya.
__ADS_1
Dirinya tak peduli dengan reaksi kedua orang tuanya, dirinya capek dikekang ini itu. Mereka pikir Ghea apa?.
"Karena dia gak pantas buat kamu!"
"Terus yang pantas sama Ghea seperti apa? Kaya? Banyak harta? Tampan? Berwibawa?" Tanya Ghea.
"Iya itu pantas buat kamu daripada cowok itu yang gak bisa bikin kamu bahagia"
Ghea tertawa, dirinya merasa bahagia dengan Jojo, kenapa sang Mama harus membedakan sih? Bukannya kita ya yang harus memilih kebahagian kita sendiri?.
"Hahaha, percuma kaya, wibawa, banyak harta yang gak bisa habis tujuh turunan tapi gak punya attitude"
"Tutup mulut kamu!"
"Apa kenapa? Mama marah mau tampar? Tampar" Menunjukkan pipinya "Tampar! Kenapa gak bisa tampar? Mau hukum Ghea buat gak keluar rumah dan sita semuanya silahkan. Asal Mama tau Ghea gak perlu itu semua!"
"Oh oke mulai hari ini jangan harap kamu bisa membawa mobil dan memakai kartu kamu mengerti!" Ucap Tina yang langsung meninggalkan Ghea dan sang suami.
...…...
"Al baju olahraganya ada di sini ya" Ucap Lea memasukkan pakaian olahraga milik Al dalam tasnya.
Hari ini adalah lomba basket antar kelas, dan Lea berdoa agar kelasnya tak bertanding dengan kelas Al. Bisa berabe kalau emang beneran tanding, walaupun Lea tau itu tak akan dan pastinya akan tanding.
Al yang jago dengan bermain bola basket apalagi dia adalah ketua dari tim nya waktu kelas 11 dan untuk kelas 12 Al langsung keluar, tapi bukan berarti dia tak tanggung jawab dia akan tanggung jawab bahkan akan membantu adik kelasnya yang kesulitan.
"Mau sarapan dulu gak?" Tanya Lea pada Al yang sedang mengikat sepatu.
"Boleh, buatin roti bakar"
Lea mengangguk, setelah menyiapkan pakaian untuk Al dirinya pergi ke dapur, mengambil dua lembar roti dan mengolesnya keju. Setelah itu memasukannya kedalam panggangan roti.
ting.
"Ini sarapan nya" Menaruh piring serta susu vanila milik suaminya tersebut.
Memastikan handphone dan menaruhnya di dalam saku. Menatap kearah Lea dengan tajam "Mana sarapan lo?" Tanya Al.
"Enggak gue gak laper"
Manik mata Al menatap Lea tajam "Makan!" Menyodorkan piring yang berisi roti bakar kepada Lea.
"Lo aja Al, hari ini kan lo tanding. Gue gak laper, beneran deh" Ucap Lea sambil mengangkat kedua jarinya.
"Makan"
"Gak mau!"
"Makan Lea!" Ucap Al dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
"Perut gue gak enak" Ucap Lea dengan pelan.
"Kenapa lagi?" Tanya Al dengan lembut.
"Gak tau perut gue gak enak aja, lo aja ya yang makan ya?" Ucap Lea sambil mengedipkan beberapa kali bulu matanya yang membuat Al merasa gemas.
"Hm, lo minum susu nya"
"Terus lo?" Tanya Lea dengan polos.
"Gue minun air putih aja, minum susu nya"
__ADS_1
Lea mengangguk meminum susu buatannya, meneguknya hingga ludes, mengambil piring Al dan membawanya ke wastafel.
"Gue bantu" Ucap Al membantu Lea mencuci piring dan gelas.
...…...
Memarkirkan mobil di tempat yang sudah tersedia. Hari ini Al membawa mobil, dirinya sedang malas membawa motor. Membuka seatbelt Lea mengambil tasnya yang berada di bangku tengah.
"Gue turun duluan ya. Oh iya gue lupa" Ucap Lea menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Al dengan bingung.
"Nanti gue izin boleh gak? Mau ke supermarket sebentar ada bahan yang belum ke beli kemarin. Jadi nyari sekarang, sama anak-anak kok. Boleh gak?" Tanya Lea sambil mengembang kempiskan pipinya.
Al mengangguk dua kali, mengizinkan Lea untuk keluar "Gue izinin lo keluar tapi sebelum maghrib lo harus pulang! Gak ada alasan apapun yang mau gue denger. Bisa?!" Tanya Al dengan tegas.
Lea mengangguk dengan cepat "Iya sebelum magrib gue pulang, lagian gak lama kok. Makasih Al" Ucap Lea memeluk Al.
Al tersenyum membalas pelukan dari wanita yang dia cinta. Mengecup sesekali puncak Rika.
"Ya udah gue ke kelas dulu ya! Bye suami" Ucap Lea mengecup pipi Al sebentar dan meninggalkan Al yang tersenyum manis ke arahnya.
"Good morning guys!" Ucap Lea dengan ceria.
"Morning Lea! Lo kenapa kok senang banget sih. Hayo! Kenapa nih" Ucap Lidya sambil menyipitkan matanya.
"Gak ada! Emang salah gue ceria?" Tanya Lea balik.
"Ghea mana? Belum datang?" Tanya Lea menanyakan keberadaan Ghea.
"Belum, gak tau tuh bocah gue WA sama telpon dari tadi gak dia jawab-jawab" Ucap Lidya.
"Kenapa sama Ghea ya kok dia sering telat gini, untung sekarang lomba kalau gak tuh anak habis sama Pak Wahyu apalagi hari ini jam awal matematika. Dan akhir-akhir ini dia sering ngelamun. Eh apaan sih lo Le! Gak-gak lo gak boleh berburuk sangka! Ghea kan pernah cerita ke lo kalau dia ngalamin insomnia setiap malem. Tapi kenapa ya dia bisa ngalamin itu sampai tiap hari lho" Batin Lea dengan bertanya-tanya.
"Nanti jadi gak buat belanja?" Acha.
"Gue sih ayo aja, Lid gimana?"
"Gas keun"
Hening, semuanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Acha dan Lea memikirkan perubahan Ghea. Danish yang halu dengan oppa-oppa Korea dan Lidya dari tadi menatap lurus ke depan, seperti memikirkan suatu hal.
Hingga suara panggilan dari arah lapangan, membuat mereka berempat tersadar dari pikiran mereka masing-masing.
"Yuk ke lapangan"
Mereka pun menuju ke lapangan melihat pertandingan basket antar kelas akan di mulai. Semuanya berjalan dengan aman hingga Kelas Al dan kelas Lea berlawan.
Al datang dengan muka datarnya, menatap orang yang ada di depannya dengan senyum meremehkan. Bertemu kembali setelah sekian lama tak bertemu.
Kevin hanya tersenyum melihat kedatangan inti Alvarebos. Perlombaan di mulai Al mendrabbling basket dengan cepat dan memasukkannya kedalam ring dengan lihai.
Semua murid bertepuk tangan. Kevin dengan cepat mengambil bola tersebut dan tersenyum penuh arti kepada Al.
Perlombaan kian memanas ketika Kevin tak sengaja menabrak bahu Al yang membuat dirinya hampir terjatuh. Terjadi abu bacot diantara meraka, antara kedua Alvarebos dengan Vellix.
Al menahan mati-matian kekesalannya. Tapi menatap Lea yang sedang menatapnya khawatir membuatnya mengurungkan niatnya.
Al memasukan basket tersebut dengan pas, poin kali ini 13 : 11 beda tipis dengan cepat kevin menyalip poin tersebut begitupun dengan Al.
...…...
__ADS_1
Jangan lupa buat Komen sebanyak-banyaknya dan juga vote nya. Sayang kalian banyak-banyak ❤