
Sekarang semuanya telah siap dengan pakaian mereka masing-masing. Malam ini mereka akan pergi bersama, Jalan-jalan ke mall.
"Gimana udah selesai semua?"
"Udah"
Semuanya menuju ke mobil mereka masing-masing, mobil pertama berisi Ardit, Rika, Amel dan Arko. Mobil kedua berisi Santi, Rusdy, Ardi dan Veni. Dan mobil terakhir berisi Al dan Lea.
"Gimana pinggang lo masih sakit gak?" Tanya Lea.
"Masih"
"Seriusan? Maaf ya Al beneran tadi gak sengaja, gue refleks tadi karena tiba-tiba Bunda dateng gitu aja" Ucap Lea sambil menunduk.
Al mengangkat dagu Lea dengan lembut "Gak usah nunduk gue gak suka! Gue gapapa lo tenang aja" Ucap Al mengelus lembut rambut Lea.
"Tapi kan gara-gara gue pinggang lo jadi sakit" Ucap Lea.
"Lo mau tau gak cara biar pinggang gue gak sakit?" Tanya Al.
"Apa?"
"Sini" Ucap Al menyuruh Lea untuk mendekat.
Lea pun mengikuti dan mendekat ke arah Al.
Cup
Al mengecup pipi Lea yang membuat Lea menatap Al, wait kenapa otak Lea jadi lemot gini? Sialan jangan bilang kalau....
"Ih modus bangsat!" Kesal Lea memukuli lengan Al.
"Le stop! gue lagi nyetir Lea!"
"Bodo amat! Jadi orang ngeselin banget" Masih memukuli lengan Al.
Dengan cepat Al menangkap tangan Lea dan mengecup telapak tangan Lea yang membuat Lea diam.
"Kalau kecelakaan gimana nanti hm?"
"Biarin! Ntar gue lompat biar lo yang mati"
"Nanti lo janda dong emang mau?"
"Gapapa yang penting gue masih perawan, wleee"
"Oke nanti malam gue bikin lo gak jalan, mumpung besok libur"
"Gak mau!"
"Ya udah gue cium boleh dong?"
"Gak ada cium-ciuman, gue tabok lo"
"Jahat banget lo Le jadi istri, lagian ya gue cium lo itu biar dapet pahala. Lo gak mau dapat pahala?"
"Mau"
"Ya udah, cium" Ucap Al menunjuk pipi kirinya.
"Nih cium!" Ucap Lea menampar pelan pipi Al.
"Buset jadi istri gak ada kalem-kalemnya lo"
"Biarin lo nya aja ngeselin"
Cup
Al mengecup pipi Lea singkat "ngeselin tapi sayang kan?" Ucap Al.
"Gak, kata sapa?"
"yakin?"
"iya"
"Gue punya rekamannya lo mau gak?"
__ADS_1
Rekaman maksudnya? oh jangan bilang kalau kemarin waktu mereka ungkapin cinta Al rekam lagi? OMG mau taruh mana muka Lea.
"Bodo udahlah males gue debat sama lo gak akan selesai juga, mending drakor"
"Drakor mulu yang lo pikir"
"Biarin, daripada lo berantem mulu yang lo pikir"
Lea mengambil handphonenya di dalam tasnya, baru juga mau pencet daya eh udah dirampas dulu sama Al. Emang ya gak ada capeknya buat ganggu hidup orang.
"Balikin!" Ucap Lea yang berusaha mengambil handphonenya kembali.
"Gak ada, lo tuh kalau liat drakor gak liat kondisi. Kenceng banget lagi suaranya"
"Ih ya udah gue pakai earphone nanti"
"Emang lo bawa?" Tanya Al tanpa menoleh ke arah Lea.
"Ba-" Ucap Lea yang terpotong ketika mencari earphone nya.
"Lha kok gak ada?" Ucap Lea mencari earphone nya dalam tasnya.
"Udah duduk yang manis, entar lagi nyampe"
"balikin! Al lo sumpah ya bikin emosi lama-lama"
"Hm"
Tuh kan udah deh mulai, gak bisa gitu ya bikin orang tenang sehari aja, kalau gak sejam aja bisa gak? Tiap hari ganggu mulu.
Soalnya kalau gak ganggu Lea itu gak nikmat, lucu tau kalau liat muka Lea yang kesel, kusut kayak cucian belum di seterika.
"Udah lah gue ngambek" Ucap Lea melipat kan kedua tangannya di depan dada dan membuang muka.
Lha percuma Lea percuma, Al mana peduli entah kau jungkir balik, ngambek nangis darah pun gak akan peduli orang Al gak punya hati, punyanya cuma kamu..
"Ya udah emang gue peduli" Ucap Al dengan cuek.
"Kenapa punya suami gini amat, gak ada gitu ya romantis dikit. Kayak di film-film gitu yang ceweknya ngambek terus cowoknya ngejar, bersimpuh. Gak peka lo jadi suami" Batin Lea.
Lea kau pikir film? Percuma udah percuma gak usah marah-marah, boro-boro bersimpuh, ngasih bunga. Ini aja yang ngambek gak di rayu.
"Gak usah ngebatin! Lo pikir dengan lo ngambek gue peduli? Gak lah!" Ucap Al.
Lea menghela nafas sabar, sabar hadapin suami kayak Al. Kalau nih ya bukan Al nyetir udah tuh baku hantam sekarang. Tapi karena Lea takut nanti kenapa-napa kan berabe.
"Udahlah balikin handphone gue" Ucap Lea menyodorkan tangan di depan muka Al.
"Gue lagi nyetir!" Ucap Al menempis pelan tangan Lea.
"Nanti gue balikin waktu pulang" Ucap Al kembali.
Satu-satunya cara mending tidur aja.
...…...
Memasuki mall yang cukup terkenal di Jakarta, Lea masih saja menekuk wajahnya. Dirinya masih kesal bahkan sangat kesal dengan Al. Niatnya Lea itu mau foto-foto gitu sekali-kali, eh ini malah di ambil di kasih pas pulang lagi
"Gak usah ngambek ntar lo makin tua" Bisik Al.
Lea tak menanggapi ucapan Al toh percuma juga kalau Lea tanggap malah ribut nantinya.
"Berisik"
"Mall emang berisik Le kalau sepi tuh kuburan"
"Bodo lah, deket lo emosi lama-lama"
Al tertawa ringan, merangkul pundak Lea dan mengajaknya ke tempat lain, gak mau di ganggu katanya.
"Bun!"
"Al ajak Lea ke sana ya? Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam hati-hati"
"Lo mau ajak gue kemana sih?" Tanya Lea dengan bingung.
__ADS_1
"Lo mau kemana?" Tanya Al.
Lho alah kok malah tanya-tanyakan. Bukannya jawab malah tanya balik, dasar Al.
"Makan gue laper, pizza boleh gak?"
Al mengangguk, merangkul pundak Lea. Menaiki lift dan menuju ke lantai lima di mana tempat makan yang Lea ingin.
Memesan beberapa menu, sambil menunggu pesanan mereka berdua mengobrol ringan. Capek berantem terus katanya, lagian percuma juga berantem bakal kuras tenaga juga.
...…...
Matahari sudah tenggelam, berganti menjadi bintang-bintang menghiasi langit. Semuanya berjalan menuju ke luar mall, hari ini begitu seru ya walaupun ada debat sedikit.
Semuanya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Rika dan Amel yang mengobrol.
Saat ingin menuju ke parkiran mobil Rika tak sengaja menabrak seseorang yang membuat barang dirinya dan tentu saja barang orang yang Rika tabrak pun berjatuhan ke mana-mana.
"Maaf-maaf mbak gak sengaja" Ucap Rika membantu merapikan barang-barang orang tersebut.
Rika mendongak mengembalikan barang orang itu dan betapa kagetnya Rika mendapatkan siapa orang yang dia tabrak.
deg
Sania
"San-sania?" Ucap Rika dengan kaget.
Sania yang melihat pun dibuat kaget juga, dengan cepat Sania pergi meninggalkan Rika dan Amel.
Tapi dengan cepat Rika mengejar Sania dan memegang lengan Sania yang membuat dirinya tak bisa kabur.
"Sania!"
Semuanya yang mendengarkan teriakan Rika menoleh kearahnya dan menghampiri Rika.
"Ada apa?" Tanya Ardit.
"Sania" Ucap Amel.
"Lepasin"
"Gak, lo kenapa jadi gini?" Tanya Rika yang melihat penampilan Sania yang sangat beda bahkan bisa saja tak bisa di kenali.
Dengan badan yang gemuk, muka yang tak terawat dan yang lainnya. Tapi untung saja Rika hafal. Sania hanya menunduk waktu Rika memberikan pertanyaan.
"San"
"Maafin gue Rik" Ucap Sania yang langsung memeluk Rika.
"Gue udah maafin lo kok, udah ya gak usah nangis. Dan lo kenapa jadi gini?"
"Lo bingung ya? Pasti sih gue bukan Sania yang dulu yang langsing, cantik dan bisa menarik perhatian cowok tapi sekarang boro-boro ada"
"Gimana keadaan lo? Sama nyokap dan bokap?" Tanya Rika.
"Gue baik, nyokap... Udah gak ada dia meninggal bunuh diri, nyokap gak tahan sama hukumannya" Ucap Sania dengan menunduk.
"Oh maaf gue gak bermaksud" Ucap Rika yang merasa tak enak.
"Gak, dan buat bokap. Bokap sakit sekarang dia punya kanker stadium 2"
Rika dan yang lainnya yang mendengarkan hal tersebut di buat kaget, ya mungkin aja ini balasan untuk Sania.
"Terus lo kerja apa?"
"Gue kerja jadi salesman, ini baru selesai pulang. Ya udah sorry gue ganggu, sekali lagi gue minta maaf ya sama kelakuan gue dulu. Dan maafin juga kesalahan mami" Ucap Sania.
"Iya udah gue maafin, gue boleh minta nomer lo?"
Sania mengangguk, mengetik nomernya pada HP Rika dan mengembalikannya kembali "Nih nomer gue, gue balik ya Assalamu'alaikum" Pamit Sania.
"Waalaikumsalam"
Rika menatap kepergian Sania, Rika merasa kasihan dengan Sania bisa dilihat sekarang dia harus bekerja untuk papinya yang harus berjuang melawan penyakit kankernya
...…...
__ADS_1
Jangan lupa buat Komen sebanyak-banyaknya dan juga vote nya. Sayang kalian banyak-banyak ❤