Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴛᴀᴋ sᴀᴅᴀʀᴋᴀɴ ᴅɪʀɪ


__ADS_3

Nafas Lea sudah tak stabil, nafasnya naik turun, kamar mandi sama sekali tak ada fentilasi. Lea masih berusaha meminta tolong dari luar.


Badannya sudah tak kuat untuk berdiri, kepalanya pusing. Masih dengan kesadaran yang ada, Lea masih berusaha menggedor pintu.


Menatap jam pada pergelangan tangan, 15 menit lagi istirahat akan tiba. Tapi dari tadi tak ada siapa pun yang masuk.


Di lain tempat, seseorang sedang tersenyum bangga. Dirinya berdoa agar Lea mati di dalam sana.


Al dan yang lain sudah mencari kemana-mana tapi tetap sama tak ada yang ketemu. Hingga suara Danish membuat mereka semua menoleh kearahnya.


"Sial, Le kamu kemana?" Batin Al frustasi.


"Sebentar! Gue inget Lea tadi izin" Danish berucap membuat semua menoleh kearahnya.


"Dimana?"


"Di..." Ucap Danish yang menggantung membuat Al geram.


"Dimana!" Bentak Al.


"Kamar mandi, iya kamar mandi"


****!


Kenapa gak bilang dari tadi? Eh lupa kalau Danish pelupa. Kenapa Lea tak meminta izin ke Acha aja.


Al langsung saja berlari ke kamar mandi meninggalkan merek semua. Yang lain pun dengan cepat menyusul Al.


Masuk kedalam kamar mandi cewek, ada beberapa anak tapi kenapa mereka asik sendiri? Kedatangan Al membuat para siswi menjerit kaget.


Al tak peduli dengan teriakan mereka, sekarang yang lebih penting adalah keberadaan Lea ada dimana?.


Membuka beberapa pintu yang ada, tapi semuanya tak ada Lea nya. Al mengacak rambut frustasi.


Kamar mandi satunya!


Kamar mandi di sini ada dua cewek dan dua cowok. Al langsung saja melangkah ke kamar mandi sebelah, hanya ada dua anak saja.


Keberadaannya membuat dua perempuan tersebut kaget. Al masuk kamar mandi cewek?


Kembali membuka kamar mandi, sampai di depan kamar mandi yang belum Al buka. Tangannya terulur untuk memutar kenop pintu.


Ternyata terkunci, Mengancang-ancang untuk mendobrak. Dengan sekali dobrakan pintu kamar mandi tersebut terbuka.


Mata Al membulat, melihat gadis kesayangannya terkapar di lantai dengan keringat yang membasahi wajahnya.


"Lea" Al menepuk lembut pipi Lea.


Lea sama sekali tak bergerak, bibir Lea pucat pasi. Dengan cepat Al mengendong Lea keluar menggendongnya ala bridal style.


Revan, Acha serta yang lain dibuat kaget dengan keadaan Lea yang sudah tak sadarkan diri. Dengan langkah cepat Al membawa Lea ke UKS.


Al menatap khawatir Lea, dirinya berdoa Lea tak akan apa-apa.


Perlakuan Al tersebut, membuat perhatian kaum wanita menatap Al heran, se khawatir nya kah Al sampai muka Al sangat berbeda.


Gila itu Lea kenapa?


Eh mereka kok mesra banget


Anjir, kenapa harus Lea, harusnya kan gue yang digendong sama Al


Gila gue gak salah liat kan?


Dan masih banyak lagi, Al tak menghiraukan ucapan mereka. Menuliskan telinga adalah hal yang bagus.


Bruk


Mendobrak pintu UKS dengan keras, membuat semua murid yang ada di dalam menjerit kaget.


Al langsung saja menaruh Lea di atas kasur UKS dengan pelan.


"Mana PMR nya!"


"Entar gue cek dulu" Ucap salah satu PMR yang bertugas di sana.


Menatap Lea khawatir, tak berhentinya Al mengecup tangan Lea. Kejadian itu membuat yang lain bertanya-tanya.


"Lea kekurangan oksigen, tunggu aja dia sadar, nanti lo kasih minyak kayu putih aja buat hilangin pusingnya" Ucap PMR tersebut lalu meninggalkan mereka semua.


Acha, Revan, Jojo, Ghea, Thony dan Danish baru datang. Acha dengan cepat mengusir mereka semua.


Mereka menatap Al kasihan, ya Al yang kebal, Al yang tegas, Al yang kejam ketika ketenangannya di ganggu.


Sekarang berbeda.


"Kita keluar aja, biarin mereka berdua dulu. Al kita balik" Ucap Revan menarik mereka semua keluar.


Al tak menjawab, matanya menatap Lea yang masih menutup matanya.


"Cepet bangun Le! Aku gak kuat liat kamu kayak gini" Ucap Al masih dengan menatap Lea, mengecup telapak tangan Lea.


Di luar, mereka sangat bingung. Kenapa Lea bisa tak sadarkan diri seperti ini?.

__ADS_1


"Siapa ya, pelaku dari ini semua" Guman Ghea bertanya-tanya.


"Orang yang membenci keberadaan Lea" Ucap Acha yang membuat semua menatapnya.


"Apa tatap-tatap gue?"


"Maksud lo apa?" Tanya Revan.


"Gak ada, udahlah gue mau bilang ke Pak Sugeng kalau Lea pingsan bye" Acha pergi meninggalkan yang lainnya.


Acha pergi untuk meminta izin ke Pak sugeng.


Di ujung lorong, seseorang tak sengaja mendengarkan ucapan mereka. Bukan tak sengaja tapi di sengaja.


"Sialan, gue kira tuh cewek bakal mati. Oke gapapa! Liat aja nanti" Guman orang itu lalu pergi.


Satu jam kemudian, Lea terbangun dari sadarnya. Kepalanya masih pusing. Menatap kearah samping. Dimana Al tertidur di sana.


"Dia ketiduran gara-gara gue?" Batin Lea.


Mengelus rambut Al dengan lembut, Al yang merasa terusik membuka matanya perlahan.


"Lea" Ucap Al dengan suara seraknya.


"Maaf" Lea menarik kembali tangannya dari kepala Al.


Lea ingin bangkit namun di tahan oleh Al, dia ingin Lea beristirahat terlebih dahulu.


"Tidur dulu Le, kamu belum pulih sepenuhnya" Al menyuruh Lea kembali tidur.


"Laper gak?"


Lea mengangguk, dirinya memang lapar dari tadi. "Mau, Lea laper dari tadi" Ucap Lea dengan polos.


Al mengangguk, pamit keluar sebentar. Tak berapa lama Al kembali dengan membawa mangkok berisi bubur.


"Makan dulu ya" Al mendudukkan Lea dengan pelan-pelan.


"Kok bubur?"


"Biar bisa dicerna"


"Yah" Guman Lea dengan pelan.


"Kenapa?"


"Gak pedes dong"


"Gak ada! Sekarang makan" Al mengambil mangkok berisi bubur dan menyendok nya.


Al yang menyebalkan.


Al yang ngeselin.


Al yang bikin emosi.


...…...


Keadaan Lea sudah lebih baik, Al menggandeng Lea menuju ke parkiran. Di sana sudah ada yang lainnya.


"Nih tas lo" Acha memberikan tas hitam milik Lea.


"Makasih Ca"


Acha mengangguk sebagai jawabannya. Al menyuruh Lea masuk terlebih dahulu.


"Cari siapapun orang yang berani kunci Lea dari dalem. Gue tunggu kabar secepatnya" Bisikan Al pada Revan.


Revan mengangguk sebagai jawabannya.


"Gue balik"


"Ati-ati"


Menjalankan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan lapangan sekolah. Revan mengajak yang lain untuk pencarian lebih lanjut tentang kecelakaan yang Lea alami.


Revan mengetik sesuatu pada HP nya. HP Thony dan Jojo bergetar, dengan cepat mereka membukanya.


Revan


Kita ke basecamp cari tau sapa pelaku dari kecelakaan Lea


"Kita pamit duluan" Revan berjalan terlebih dahulu ke motornya disusul yang lain.


"Gue balik deh bye"


"Acha bareng dong" Ghea dan Danish berucap bersama dengan mimik wajah mengemaskan.


Bukanya mengemaskan malah menjijikan di muka Acha.


"Jijik bangsat!"


"Ih jahat bener lo! Kali-kali kek kalem dikit gitu"

__ADS_1


"Bodo amat! Buru masuk, gue tinggal lo pada"


Karena Acha bawa mobil jadi Danish dan juga Ghea numpang sampai rumah. Lumayan uangnya gak usah dipakai buat naik kendaraan lain.


Di mobil Al dan Lea saling diam, tak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya mereka berdua sampai di apartemen.


Al menarik dan menggandeng tangan Lea dengan lembut Memencet sandi dan masuk kedalam.


"Al"


"Hm"


"K...Gak jadi"


"Yakin?" Tanya Al sambil menatap Lea.


Lea mengangguk sebagai jawabannya, ada hal yang ingin Lea bicarakan ke Al. Mungkin bukan hari ini nanti saat makan malam Lea akan tanya ke Al.


Selesai membersihkan badan, Lea turun ke bawah, dia ingin memasak makan siang untuk Al.


"Lea! Kenapa masak?" Tanya Al dengan nada dinginnya.


"Kamu belum makan kan? Ya udah aku masakin"


"Bisa pesan diluar, sini" Al menarik tangan Lea "Kamu perlu istirahat Le, kamu belum pulih. Nanti aku yang akan pesan makanannya"


Lea mengangguk menuruti omongan Al, kepalanya juga masih sedikit pusing walaupun tak se-pusing tadi.


...…...


Sekarang Al mendudukkan kepalanya pada paha Lea, Lea sedang fokus dengan drakor yang dia lihat. Setelah melaksanakan shalat Lea meminta untuk menonton drakor.


Al yang mendengarkan itu melarang Lea. Keadaan Lea belum pulih, tapi Lea bilang 'Aku udah gapapa Al, Please boleh ya?' Mau tak mau Al mengangguk menuruti ucapan Al.


Dengan batas waktu jam 9 harus tidur, tak kurang dan tak lebih.


Tak ada bantahan


Al menatap lurus kearah wajah Lea yang begitu cantik, ya walaupun ini bukan pertama kalinya Al melihat muka Lea.


Tapi baginya, Lea adalah wanita tercantik menurutnya. Wanita yang cukup sabar menghadapi dirinya setelah bunda, wanita yang selalu ia kerjai ketika tak ada kerjaan.


Lea yang merasa di pandang terus sama Al, menunduk mendapatkan Al yang menatapnya.


Mata mereka menatap satu sama lain, tangan Al terulur mengelus lembut pipi Lea yang sedikit chuby.


"Ada apa Al?"


"Gak ada, cuma lihat bidadari cantik"


Lea hanya menggelengkan kepala, pipinya merasa panas mendengarkan ucapan Al barusan.


"Kamu sakit?"


Lea menggeleng "gak aku sehat"


"Kok merah?" Tanya Al menggoda Lea sambil menunjuk pipi Lea yang bersemu merah.


Dengan cepat Lea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Al langsung saja bangkit dan duduk berhadapan dengan Lea.


"Gak usah ditutup" Al menarik tangan Lea dengan pelan.


"Cie yang blushing" Al menggoda kembali Lea.


Tuh kan ngeselin.


"Udah ah ngeselin" Ucap Lea dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Iya-iya maaf, jangan ngambek ya?" Ucap Al menarik tangan Lea dan menggenggamnya.


Lea menatap Al bingung, bingung dengan sifat Al yang berubah macam bunglon, kadang galak, kadang ngeselin, kadang perhatian, kadang sadis kalau di usik.


"Kenapa? hm" Ucap Al yang membuat Lea tersadar dari lamunannya.


"G-gak gapapa kok"


"Udah yuk Al ngantuk"


Al mengangguk, mematikan TV dan menggandeng Lea ke kasur. Menarik Lea kedalam peluk kan nya.


"Good night babe"


"Good night Al"


Mengecup singkat kening Lea dan mereka berdua tertidur dengan berpelukan satu sama lain.


...…...


Hai-hai


pencet like, komen dan vote yuk!!


Hiks nana yang bikin baper sendiri, becanda guys 😆

__ADS_1


see you next episode guys bye 🥰


__ADS_2