
Menit, jam dan hari telah berganti. Seperti sekarang, dikediaman Winata semuanya tengah bersiap-siap untuk melaksanakan acara akad nikah.
Dengan malas Rika berjalan menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan kewajibannya. Acara akad akan di malu pukul 10 pagi. Dan sekarang masih pukul 5 pagi.
Setelah selesai melaksanakan kewajibannya. Rika kembali ke kasur, dan melanjutkan tidurnya. Semalam dirinya tak bisa tidur, Rika baru bisa tidur pukul 4 pagi.
Di bawah, semuanya bersiap-siap. Akad diadakan di kediaman Winata.
"Pa, Mama keatas dulu. Mau liat Rika udah bangun atau belum." Pamit Santi dan pergi keatas.
Santi tersenyum haru, sebentar lagi anaknya akan berubah status. Gadis kecilnya akan menjadi seorang istri.
tok.. tok.. tok..
"Rika, ini Mama nak. Kamu udah bangun belum?" Tanya Santi dengan lembut.
Santi kembali memanggil dan mengetuk pintu beberapa kali. Namun tetap sama tak ada sautan dari dalam. Santi membuka pintu perlahan, dirinya melihat Rika yang terlelap tidur.
Menghampiri Rika dan duduk di ujung kasur. Tangan Santi terulur mengusap lembut kepala Rika. "Rik, bangun yuk udah pagi. Sana sarapan dulu,"
Rika mengerang pelan, "Nanti aja, Rika masih ngantuk."
"Rik.."
"Nanti Ma, Rika ngantuk. Rika gak bisa tidur semalem," Rika, dengan mata tertutup menjawab. Menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh tubuh.
Santi hanya bisa menggelengkan kepala, dirinya bangkit dan meninggalkan kamar Rika. Mungkin nanti lagi dirinya akan memanggil Rika kembali.
...… ...
Ardit telah selesai dengan ritual mandinya, dirinya keluar dengan boxer dan juga kaos putih. Sambil mengeringkan rambutnya. Ardit berjalan menuju ke kasur, mengecek handphone nya.
Selesai mengecek handphonenya, Ardit turun kebawah untuk sarapan bersama.
Rencananya hari ini dia harus ke perusahaan untuk menandatangani dokumen.
"Pagi Bunda, Ayah." Sapa Ardit, mendudukkan bokongnya pada kursi.
"Pagi Dit, kamu mau makan apa? Nasi atau roti?" Tanya Veni.
__ADS_1
"Roti aja Bun, oh iya Yah, nanti Ardit mau ke kantor bentar. Ada berkas yang harus Ardit tandatangani."
Ardi mengangguk. "Ya boleh, tadi Arko bilang ke Ayah."
Mereka bertiga pun melaksanakan sarapan pagi dengan khitmad. Selesai sarapan Ardit membantu Veni membawakan piring kotor ke wastafel setelah itu dirinya naik keatas untuk menganti pakaian.
Dengan setelan jas biru dongker Ardit berjalan turun kebawah tangannya memegang map sambil memainkan kunci.
"Ayah berangkat sekarang atau nanti?" Tanya Ardit yang melihat ayahnya sedang memasang jam tangan dipergelangan tangannya.
"Sekarang,"
"Bareng Ardit aja sekalian."
Ardi mengangguk. "Iya ayah bareng kamu, sebentar ayah mau ambil tas ayah dulu." Ardi kembali masuk ke dalam kamar, tak lama dirinya keluar dengan tas kerjanya dan dibelakang Veni berjalan mengikuti Ardi
"Ayah berangkat. Assalamu'alaikum," pamit Ardi tak lupa mengecup singkat kening Veni.
"Waalaikumsalam,"
Ardit tak lupa juga menyalimi Veni sang bunda. "Bunda, Ardit berangkat ya. Assalamu'alaikum,"
"Iya Bunda, tenaga aja. Dah Bunda,"
...… ...
Rika terbangun ketika alarm sialnya menyala, membuatnya mendengus kesal. Menatap jam pada layar handphone, sudah jam 08.25 Rika bangkit dari kasur dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Sebelum ke kamar mandi pintu kamar Rika terketuk. Membuatnya berjalan ke pintu terlebih dahulu.
"Apa?"
Terdapat Santi yang berdiri dengan membawa papper bag. "Oh udah bangun, Mama kira belum. Sana mandi, nih kebayanya jangan lupa dipakai." Ucap Santi memberikan papper bag itu.
Dengan malas Rika menerima. "Hem, Rika mau mandi." Ucapnya langsung menutup pintu.
"Dateng juga hari ini," guman Rika.
Melemparkan papper bag itu ke kasur, Rika langsung saja berjalan ke kamar mandi. Hampir lima belas menit Rika mandi, dirinya keluar. Mendapatkan dua orang yang sudah berada di kamarnya.
__ADS_1
Rika yakin jika kedua orang itu adalah tukang rias untuknya.
"Permisi mbak, kita berdua di suruh masuk terlebih dahulu." Ucap mbak berambut pendek.
"Hem, gak masalah."
"Oh iya mbak, silahkan ganti dulu ya pakaian. Nanti langsung saya make up," ucap mbak itu, dengan rambut yang diikat kuda.
Rika hanya mengangguk, dirinya berguman "Terus ngapain gue pakai nih baju kalau ujung-ujungnya ganti, ribet." Gimana Rika dan masuk ke kamar mandi kembali.
Selesai menganti pakaiannya dengan kebaya, Rika keluar. Dirinya duduk di depan meja rias. "Jangan tebal-tebal." Ucap Rika pada mbak-mbak perias.
"Tenang aja mbak gak bakal kok, muka mbaknya udah cantik soalnya, tinggal di kasih make up tipis aja." Jelas mbak berambut pendek.
...… ...
Di bawah ternyata keluarga Aldebaran telah datang, lumayan banyak tamu yang datang, sepuluh menit lagi akad akan dimulai. Amel -sahabat Rika, Veni serta Santi naik keatas untuk memanggil Rika.
"Rik, ini laptopnya nanti kamu bisa liat di sini dan nanti kamu turun setelah Akadnya selesai" ucap Santi dan hanya di balas anggukan oleh Rika.
Santi dan Veni pun keluar, di ruang tamu telah di dekor sedemikian rupa, di sini di mana di tempat ini Ardit mengucapkan janji suci untuk melepas masa single menjadi kepala rumah tangga.
Rika melihat dari laptop di sana Ardit berjabat tangan dengan sang papa.
"Ananda Arditya Aldebaran bin Ardi Aldebaran saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Arika Winata binti Rusdy Winata dengan maskawin sebesar 100gr dan uang sebesar 150 juta di bayar tuna.i" ucap Rusdy.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arika Winata binti Rusdy Winata dengan mas kawin tersebut tunai!" Ucap Ardit dengan lantang.
"Bagaimana para saksi sah," ucap sang penghulu.
"Sah,''
"Alhamdullilah,"
Tanpa terasa air mata Rika menetes, ternyata sekarang dia sudah menjadi seorang istri, istri dari Arditya Aldebaran. Amel tersenyum harus, dirinya berdoa agar dengan ini Rika merasakan kebahagian kembali.
"Selamat Rik, semoga samawa," ucap Amel dengan senyum manisnya.
Rika membalas pelukan Amel. "Makasih Mel."
__ADS_1