
Selesai membeli bahan-bahan yang diperlukan, mereka semua janjian untuk lusa besok mengerjakan tugas tersebut di rumah Danish. Maunya sih di rumah Lea tapi kan takutnya ketahuan.
Sebenernya Lea mau aja, tapi tau sendiri Lea gak mau nambah beban dan gak suka untuk ditanya-tanya jadi males aja di buka. Toh pernikahan mereka udah sah secara agama dan hukum.
Dan banyak juga yang mengetahui pernikahan tersebut kecuali teman sekolah saja yang tak mengetahuinya.
…
Lea duduk di halte bus, menunggu Al yang tak datang-datang katanya lima menit. Tapi ini? Sudah hampir setengah jam Lea menunggu Al tapi sang suami belum menampakkan batang hidungnya.
"Kemana sih Al, katanya lima menit ini apaan coba? Kalau gini mending tadi gue bareng si Acha" Batin Lea.
Mencoba sabar menunggui sang suami Lea mendudukkan bokongnya pada bangku halte, menatap ke jalanan yang sudah sepi bahkan sangat sepi.
Takut iya memang takut, apalagi Lea hanya sendiri di sini tak banyak orang yang lewat hanya beberapa motor dan mobil saja yang melintas.
"Sabar Lea, sabar punya suami kayak Al" Batin Lea.
Hingga akhirnya seseorang menghampiri Lea, Lea mendongakkan kepalanya menghadap kempat orang tersebut dengan badan yang besar, kepala botak serta tato yang bergambar menyeramkan.
"Hai cantik sendirian aja" Ucap salah satu preman tersebut sambil menoel pipi Lea.
Dengan cepat Lea menghempaskan tangan orang tersebut, mereka bertiga tertawa. Salah satu dari mereka mendekat.
"Mending sama kita aja neng, kita puasin mau gak?" Ucap preman lainnya.
Lea menggeleng dirinya harus pergi dari tempat ini, dirinya tak mau dilecehkan. Dengan cepat Lea berlari tapi apalah daya kekuatan Lea tak sebanding dengan mereka.
"Lepasin!" Ucap Lea yang memberontak.
"Udah lah neng sama kita dulu aja, kita bakal pelan kok mainnya" Ucap Preman tersebut mengelus pipi Lea.
Tangan tersebut beralih membuka kancing seragam Lea. Air mata Lea tak bisa lagi dia tahan, dirinya tak bisa apa-apa. Percuma-percuma Lea teriak di sini jalanan sangat sepi.
Lea merutuki kebodohan dirinya, kenapa Lea baru ingat bahwa tempat ini sangat rawan. Akh! ingin sekali Lea teriak sekencang-kencangnya.
"Lepasin!" Ucap Lea.
"Lebih baik kamu diem aja daripada kita buat lebih parah lagi dari ini" Ucap Preman tersebut memegang kuat lengan Lea.
"Aw.." Ringis Lea merasakan perih pada lengannya.
Lea tak bisa apa-apa, dirinya bisa menangis, Lea butuh Al sekarang. Lea butuh Al untuk membantunya. Lea tak mau harta yang paling dia jaga direbut oleh mereka.
"Al gue mohon lo dateng sekarang, gue mohon" Batin Lea berdoa agar Al segera datang.
Di tempat Al, Al menatap jam yang bertengger pada tangan kanannya. Al baru sadar bahwa Lea pasti sudah menunggu dirinya sekarang.
__ADS_1
Menuju ke mobil di ikuti oleh yang lain, Al langsung saja tancap gas menuju ke tempat Lea berada. Dari kejauhan Al melihat seseorang yang sedang di tarik paksa, Al yang tau siapa orang tersebut menghentikan mobilnya dengan cepat.
Membuka pintu mobil dan lari menghampiri orang tersebut, di ikuti dengan Revan, Jojo dan juga Thony.
Bugh
Tendangan Al membuat mereka terjatuh, Lea yang melihat hal tersebut merasa senang tapi dirinya takut melihat Al yang sangat marah.
"Brengsek," umpat Al menarik kerah preman tersebut.
"Berani-beraninya lo nyentuh cewek gue!"
Rahang Al mengeras Al langsung saja menendang, memukul membabi buta, dirinya tak terima melihat Lea yang hampir saja dilecehkan.
Al saja belum sempat memegang Lea, enak saja main-main dengan Al mati kau sekarang.
Bugh
Bugh
Bugh
Dug
Lea hanya bisa menangis, dirinya masih takut bahkan sangat takut. Tapi Tuhan masih menyelamatkannya. Melihat preman tersebut terjatuh tersungkar dan mengeluarkan darah dari mulutnya akibat pukulan keras dari Al.
Lea yang tak tega melihat itu dengan keberaniannya yang masih ada Lea menghampiri Al dan memeluknya dari belakang.
Al yang tak tega melihat Lea menangis mendorong orang tersebut, membalikkan badannya dan memeluk Lea dengan erat.
Mata Al menginstruksikan yang lain untuk berhenti, membiarkan mereka untuk pergi.
Andai saja Lea tak menyuruhnya berhenti mungkin saja mereka berempat hanya tinggal nama.
Melihat badan Lea yang bergetar, Al semakin memperat pelukan membiarkan Lea menangis terlebih dahulu. Al tau seberapa takutnya Lea.
Mengecup sesekali pucuk Lea memberikan ketenangan untuk Lea.
"Shut udah ya, ada gue lo tenang aja," bisik Al pada Lea.
Untung saja Al tak telat mungkin saja kalau Al telat satu menit saja, tak tau apa yang bakal terjadi sama Lea. Dirinya pasti akan sangat bodoh bahkan bodoh, membiarkan Lea yang dilecehkan seperti itu.
Dari kejauhan terdapat seseorang yang melihat kejadian tersebut, dia Kevin. Kevin melihat kejadian tersebut, Kevin ingin membantu Lea tapi sudah terdahului oleh Al.
Melihat Al yang memeluk Lea membuat Kevin berfikir. Ada hubungan apa diantara mereka?.
Setelah dirasa udah tenang, Al mengajak Lea ke dalam mobil. Thony datang membawa lima botol air minum. Memberikan pada Lea dan juga yang lain.
__ADS_1
"Thanks" Ucap Al menerima sodoran minuman dari Thony.
Membuka tutup botol dan memberikannya kepada Lea "Nih minum dulu" Ucap Al memberikan botol tersebut pada Lea.
"Makasih" Ucap Lea menerima botol tersebut.
Jojo, Thony dan Revan pamit pulang karena memang jam sudah pukul empat sore.
"Kita balik ya, Le lain kali hati-hati" Ucap Jojo.
"Iya Jo, makasih udah dibantuin" Ucap Lea.
"Sama-sama, bos balik duluan" Pamit Jojo.
"Balik duluan Al" Ucap Revan.
"Iya makasih udah bantuin" Ucap Al.
"Kayak sama sapa aja lo, gue balik Assalamu'alaikum" Pamit mereka.
"Waalaikumsalam"
Al menarik tangan Lea, menggenggam tangannya yang membuat Lea meringis kesakitan, Al yang melihat hal tersebut mengecek tangan Lea mendapatkan tangan Lea yang merah.
"Aw.." Ringis Lea.
Al melihat tangan Lea, merah bahkan sagat merah. Bisa dipastikan bahwa cengkraman tersebut cukup kuat, bisa dilihat dari kulit Lea yang putih.
"Kita ke toko sebentar ya? Buat beli obat" Ucap Al.
Al mengangguk, menyandarkan dirinya pada kursi. Menatap keluar jendela, pikiran Lea masih saja terbayang ke kejadian tadi. Bisa di bayangkan masih sayangnya Tuhan kepada Lea, kalau tidak mungkin saja mahkota Lea akan hilang di ambil paksa oleh mereka.
…
Mengobati luka pada lengan Lea. Walaupun tak parah, tapi itu sangat merah bisa di bayangkan pasti sangat perih. Al meniup sesekali mengurangi rasa perih pada tangan mungil istrinya tersebut.
Lea menatap kearah Al, melihat Al yang sangat serius dan khawatir pastinya membuat Lea merasa bersalah. Kenapa Lea tak menunggu saja di depan toko tersebut.
Mengapa Lea malah menunggu di halte? Bodoh memang. Tapi Lea sangat berterima kasih kepada Allah, dirinya tak bisa berhenti mengucapkan rasa syukur itu.
Al yang merasa di tatap, mengangkat kepalanya mendapatkan Lea yang sedang menatap intens ke arahnya.
"Apa?"
Lea sadar dirinya menggeleng "Maaf" Satu kata yang keluar dari mulut Lea. Membuat Al bingung, kenapa Lea minta maaf? Apa Lea punya salah? Perasaan tidak.
"Untuk apa?" Tanya Al.
__ADS_1
"Maaf ya Al andai aja gue gak jalan ke tempat itu, mungkin kejadian ini gak bakal terjadi. Andai aja gue nunggu lo di toko yang banyak orang mungkin kejadian ini gak terjadi" Ucap Lea.
Menarik Lea kedalam pelukannya "Gak lo gak salah, gue yang salah. Andai gue gak lama jemput lo kejadian ini gak bakal terjadi. Maaf ya udah buat nunggu lo lama" Ucap Al mengecup puncuk Lea.