
Tiga bulan kemudian
Semua anggota telah berada di markas Alvarebos, Jojo yang memberi kabar ke mereka semua. Ruangan markas sudah dipenuhi oleh anggota Alvarebos, jumlahnya ada 250 lebih.
"ehem, jadi gue kumpulin kalian ke sini buat bicarain tentang Zayn, Ga gimana keadaan Zayn sekarang?" tanya Jojo kepada salah satu anggota Alvarebos bername tag Galang.
"masih sama aja kayak kemarin gak ada pemulihan sama sekali" ucap Galang.
Al menghela napas kasar, memijat pelipisnya. Al tak bisa membayangkan apa yang keluarga Zayn rasakan. Sudah hampir setengah tahun tapi keadaan Zayn tak ada tanda-tanda.
"ada yang jaga di ruang rawat Zayn?"
"ada Al 5 orang yang jaga"
"Oke, gue kumpulin kalian ke sini buat bahas gimana caranya kita bisa bikin Kevin bertekuk lutut sama keluarga Zayn"
Semuanya mengangguk, mendengarkan serius tentang penjelasan yang Jojo terangkan. Gini-gini Jojo ahli dalam strategi.
...…...
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Al masuk, mengecup kedua tangan orang tuanya. Setelah itu duduk, di samping sang bunda.
"kamu gak antar Lea pulang kan?" tanya Bunda.
"k-kok bunda tau?"
"taulah orang Lea bilang ke Bunda, dan dia bilang kalau kamu minta suruh dia buat bunda gak suruh kamu jemput Lea lagi iya kan? Ngaku kamu?" tanya Bunda menatap tajam Al sambil menjewer telinganya.
"Sialan tuh cewek, pakai cerita lagi sama bunda. Siap-siap gue harus denger ceramahan bunda" batin Al.
"aw bunda, lepasin Al bisa ceritain lepasin dulu" ucap Al berusaha melepaskan jeweran tersebut
"jadi-"
"udah, Al kamu naik bersih-bersih dan jangan lupa shalat"
Al menghela nafas lega, untung sang papa membantu nya. Kalau gak bisa-bisa tujuh hari tujuh malam Al akan kena ceramah dari sang Bunda.
Al tersenyum kepada Ardit, Ardit mengangguk dan membalas senyuman sang anak.
jdug.
Rika memukul lengan Ardit "kenapa hubby potong sih, kan Bunda belum bilang sama Al"
"Udah-udah jangan marah-marah terus gak baik buat kesehatan ya, sekarang kita lanjut lagi nontonnya ya" mendudukkan Rika kembali ke sofa.
...…...
Di kamar, Al senang karena gak di ceramahin sama bunda. Al menuju ke kamar mandi membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya.
Selesai shalat, Al menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur, sambil memainkan game onlinenya. Sesekali mengumpat karena tak tepat sasaran.
__ADS_1
Ketukan pintu membuat Al menghentikan mainnya, menatap ke pintu. Kalau gak bunda ya papa.
"Masuk pintunya ga di kunci!" teriak Al dari dalam.
"Main terus! Kamu besok lusa itu ulangan kenaikan lho game terus aja yang kamu pikirin" tegur Bunda.
"Al kan udah pinter bun, gak usah belajar juga nilainya bagus. Semuanya udah Al susun di otak Al besok lusa tinggal kerjain" ucap Al dengan santai.
"tapi gak gitu juga Al, kalau ketahuan papa kamu abis kamu ya" ucap Bunda mengingati.
Ardit paling tidak suka kalau Al menyepelekan nilai. Ardit tau Al pintar tapi Ardit tak suka jika Al lebih mementingkan main gamenya daripada belajarnya.
Ardit tak melarang apapun yang Al mau, tapi kalau soal belajar Ardit paling tegas untuk itu. Kalau aja Ardit tau, Al akan di ceramahin abis-abisan.
"iya bunda, tenang aja. Al belajar kok bentar lagi"
"awas ya, kalau bunda liat kamu main game terus. Bunda laporin ke papa kamu"
"iya bunda sayang, Al belajar sekalian tunggu waktu isya"
"ya udah, setelah itu turun makanan bentar lagi mateng"
Al mengangguk sebagai jawabannya. Melanjutkan main gamenya sambil menunggu waktu isya datang.
...…...
Bunda, Papa dan Al sudah berada di meja makan. Mereka makan dengan tenang tak ada yang membuka suara. Selesai makan Ardit membuka suara.
"udah belajar buat ulangan lusa nanti?" tanya Ardit dengan serius.
Ardit mengangguk "papa mohon ujian kali ini, papa gak mau kamu berantem. Fokus ke ujian dulu, papa gak larang kamu buat melakukan apa yang kamu mau! Papa cuma ingin kamu fokus buat belajar. Setelah itu terserah kamu" Al mengangguk sebagai jawabannya.
Sudahlah Ardit tak akan melarang apapun yang Alvaro lakukan, itu terserah dia yang penting Al tak lupa dengan kewajibannya.
"ya udah Pa Bun, Al naik ke atas lanjut mau baca materi" pamit Al.
"mau kemana? Tuh ke ruang tamu ada yang mau temuin kamu"
Al mengerutkan dahinya, berjalan menuju ke ruang tamu, melihat siapa yang bertamu dengannya malam-malam. Al memutar bola mata malas, ketika tau siapa yang datang.
"ngapain lo?" tanya Al.
"main sambil belajar"
"gue gak ada waktu, mending lo pulang sekarang" usir Al.
"lo ngusir gue?"
"ya kenapa gak terima?" tanya Al sambil mengangkat salah satu alisnya.
"papa yang suruh, biar sekalian belajar bareng"
Al menghela nafas kasar, mengajak Lea menuju ke perpustakaan untuk belajar bareng. Di rumah Al ada perpustakaan tak terlalu besar tapi muat lah untuk beberapa orang.
...…...
__ADS_1
Bukannya belajar malah debat, itulah yang Al dan Lea lakukan. Lagi-lagi ribut karena hal sepele.
"Udah-udah, males gue berantem sama lo! Gak bakal pernah selesai tau gak!"
"males apa gak bisa jawab pertanyaan gue?"
Lea memutar bola mata jengah "lo jangan bikin gue emosi ya lama-lama" menunjuk Al dengan jari telunjuknya.
"gak peduli, pergi lo! Gue gak Terima tamu kayak lo. Hush hush sana pergi lo" mendorong badan Lea untuk keluar rumah.
"gue bisa jalan sendiri! lo pikir gue kucing apa?" tanya Lea dengan kesal.
"gak kucing gak cocok kayak lo! Lo itu cocok jadi du-gong" ucap Al tanpa dosa.
Lea melotot kan matanya, apa katanya tadi? Wah ngajak ribut nih cowok, untung saja Lea punya kesabaran kalau gak nih udah Lea ladenin.
"kurang ajar lo! Enak aja gue dugong, lo tuh yang dugong" Ucap Lea.
"udah males gue, untung karena om Ardit yang suruh kalau gak ya! Gue ogah ketemu lo" Ucap Lea kembali.
"lo pikir gue mau? Gak kali, udah sono balik hush hush" usir Al sambil mengibaskan tangannya kearah Lea.
"Iya gue pulang! Liat aja lo nanti gue pasti bakal dapet nilai yang lebih dari pada lo" ucap Lea dengan serius.
Al tersenyum miring "gue gak peduli, tapi lo ingat hukuman yang akan lo dapet kalau lo kalah sama gue" bisik Al.
Lea diam sebentar lalu menggelengkan kepala kuat "gak, gak mungkin gue buktiin kalau gue bisa" batin Lea.
"udah pergi"
"Ya Allah sabar kali, Lo gak ada niatan buat nganter gue?"
"Apa nganter lo? ogah buang-buang bensin tau gak buat antar lo! Sono pulang"
Lea menghentakkan kakinya kesal. Bener-bener gak ada kalem-kalemnya. Daripada Lea disini lama-lama bisa buat dirinya mati gaya gara-gara Al mending dia balik.
"gue balik Assalamu'alaikum" pamit Lea menekuk wajahnya meninggalkan Al yang tersenyum senang.
Seru juga bikin Lea emosi.
Al menutup pintu sambil senyum-senyum tipis dirinya menang membuat Lea kesal setengah mampus. Bunda dan Papa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka berdua.
"Ehem senyum-senyum sendiri, kamu jadian ya sama Lea?" tanya Bunda.
Al langsung mengubah wajahnya menjadi datar "apa sih bun, orang Al sama Lea cuma temenan, Al pamit mau naik Assalamu'alaikum"
Rika dan Ardit hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah laku Al. Sampai kapan mereka berantem terus.
"Bunda jadi gak sabar" ucap bunda dengan antusias.
"udah, nanti kita pikirin. Sekarang temenin hubby mandi yuk" bisik Ardit.
...…...
Jangan lupa buat Komen sebanyak-banyaknya dan juga vote nya. Sayang kalian banyak-banyak ❤
__ADS_1