Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴍᴀᴀɢ ᴋᴀᴍʙᴜʜ


__ADS_3

Dengan cepat Rika membuka mukena yang dia pakai, dia berlari ke kamar mandi, perutnya begitu mual sekarang.


Ardit datang, cowok itu membantu memijat pelan tengkuk Rika, setelah dirasa sudah lebih baik. Rika membasuh muka dan berbalik menghadap Ardit.


"Kamu gapapa?" Dapat terlihat dari wajahnya, Ardit terlihat khawatir padanya.


"Iya gapapa, kayaknya maag gue yang kumat," mungkin saja karena dirinya yang belum mengisi perutnya dari pagi.


Ardit menuntun Rika ke kasur, menyuruhnya untuk berbaring. "Kamu tidur aja dulu, aku mau ambil makan siang buat kamu," cowok itu membalikkan badannya.


"Terus yang lainnya gimana? Gak enak tau kalau mereka nungguin,"


"Gak masalah, biar aku yang jelasin nanti, kamu istirahat aja. Pasti mereka paham," ucap Ardit.


Rika mengangguk, kepalanya mulai terasa pusing sekarang. Gadis itu perlahan menutup matanya, menetralisir pening nya.


Ardit melangkah pergi, menutup pintu perlahan agar Rika tak terganggu, cowok itu turun ke bawah. Dimana di meja makan sudah berkumpul untuk makan siang.


"Loh Dit, Rika mana? Kok gak kelihatan," Veni menatap Ardit dengan tanya.


"Di kamar Bun, maag nya kambuh." balas Ardit.


Tak lama Santi datang sambil membawa piring berisi lauk, wanita itu menatap Ardit dan bertanya. "Rika mana nak? Kok kamu sendirian aja."

__ADS_1


"Rika lagi istirahat ma, maag dia kambuh jadi gak bisa ikut makan siang bareng." jawab Ardit dengan sopan.


"Astaga, dia kan belum makan dari pagi, bentar-bentar kamu tunggu sini." Santi kembali lagi ke dapur, dan tak lama kembali dengan nampan serta piring.


"Ini, kamu kasih ke Rika, kamu juga jangan lupa makan lho. Nanti kalau udah selesai, langsung suruh minun obatnya ya?" ujar Santi memberikan nampan berisi makan siang.


"I-iya ma, pasti. Ardit pamit ya ke atas, takut Rika nunggu soalnya." pamit Ardit.


"Iya, ati-ati bawanya."


"Bun, Yah semua. Ardit pamit naik, maaf gak bisa ikut gabung." ucap cowok itu tak enak.


"Gapapa, sana gih kamu antar."


Ardit mengangguk, cowok itu naik ke atas. Membuka pintu perlahan, dapat terlihat Rika yang masih memejamkan matanya.


"Em.." Rika menggeliat kecil, perlahan mata itu terbuka.


"Udah?"


"Udah, kamu makan. Biar maag nya gak makin parah," memberikan nampan itu pada Rika.


"Makasih," perlahan Rika memakan makan siangnya, sedari tadi perutnya sudah meminta jatah makan.

__ADS_1


Ardit pun sama, memakan makan siangnya, kedua pengantin itu makan dengan tenang, hanya suara dentuman sendok sebagai pengisi kesunyian mereka.


"Obat maag kamu ada dimana?" tanya Ardit setelah selesai makan.


"Di kotak obat, samping meja rias."


Ardit mengangguk mengerti, mengambil kotak obat dan memberikan obat maag itu pada Rika. Sambil Rika minum obat, cowok itu turun ke bawah untuk mengembalikan piring.


"Gimana Dit, udah selesai?" tanya Santi yang sama-sama mencuci piring.


"Udah ma, udah minum obatnya juga." balas Ardit.


"Alhamdullilah kalau gitu, sini. Biar mama yang cuci, kamu istirahat aja, pasti kamu capek kan." Mengambil alih nampan itu.


"Gak usah ma, Ardit aja yang cuci. Cuma dua aja," tolak Ardit, bagaimana mungkin dia menambah pekerjaan mertuanya.


Santi tersenyum, wanita itu tak berhenti bersyukur dalam hati. Gimana gak? wanita itu merasa lega ketika gadis kecilnya mendapatkan sosok lelaki yang tepat seperti Ardit.


Lelaki baik, sopan dan penyabar tentunya.


Karena tak mau ambil. pusing Santi mengangguk saja, keduanya sama-sama mengobrol layaknya anak dan ibu, Santi yang menceritakan sifat Rika, dan Ardit yang bertanya sedikit lebih tepatnya mencari informasi lebih dari mertua.


"Kamu nanti sabar-sabar aja sama Rika, dia anaknya keras kepala. Gak bisa dibilangin, kalau maunya A ya A. Gak bisa di ganggu gugat," jelas Santi.

__ADS_1


"Pasti ma, Ardit cuma minta doa aja dari mama sama yang lain. Insya Allah Ardit akan rubah sifat Rika perlahan,"


Santi tersenyum mendengarkan jawaban Ardit. "Itu gak perlu kamu bilang, pasti mama do'ain hubungan kalian berdua. Mama jadi lega bisa lepas Rika sekarang," walaupun ada sedikit keberatan dalam hati kecil wanita itu.


__ADS_2