
...Vote, Like and comment nya kakak 🥰...
...…...
Hari ini Al terpaksa masuk sekolah, tiga hari ini Al tak mengikuti pembelajaran. Sudah satu minggu juga gadisnya belum sadar dari kritisnya.
"Udah sana berangkat, ada bunda sama mama yang bakal jagain Lea" Rika menyuruh Al untuk berangkat, jam sudah menunjukan pukul 06.40 menit yang artinya dua puluh menit lagi gerbang akan ditutup.
"Tapi bun nanti kalau ada-"
Rika mendegus kesal, banyak sekali alasan Al agar tak ke sekolah. "Gak usah banyak alasan! Kamu itu gak sekolah udah tiga hari. Kamu lupa bunda sama mertua kamu bisa bela diri, sana berangkat" Potong Rika, cepat.
Al mengangguk malas, mencium tangan sang bunda dan mertua. Dan tak lupa dengan gadisnya.
"Aku berangkat sekolah dulu, kamu buruan bangun biar kita kayak dulu lagi. Love you babe" Bisik Al, mengecup kedua mata Lea bergantian.
"Al berangkat Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam jangan ngebut-ngebut!"
...…...
Dengan kecepatan di atas rata-rata Al menjalankan motornya. Menulikan telinganya ketika orang-orang menatapnya kesal.
Memarkiran motor ditempat biasa, menatap jam yang bertengger pada pergelangan tangan. Kurang lima menit lagi.
Dirinya berjalan menuju ke kelas tak lupa memasukan kedua tangannya pada saku celana, melangkahkan kaki menuju ke kelas. Memasuki kelas yang tiba-tiba menjadi hening. Kedatangan Al membuat kelas yang awalnya riuh menjadi diam.
krik.. krik...
Mengangkat bahu acuh, tak peduli dengan tatapan teman-temannya. Duduk di samping Revan dimana bocah tersebut sibuk dengan gamenya.
Tak berapa lama Jojo dan Thony datang. "SELAMAT PAGI SEMUA, THONY YANG GANTENG DATANG"
"Berisik setan" Jojo langsung menoyor kepala Thony yang membuat Thony mendengus kesal.
"Eh kok pada diem semua? kenapa nih? Oh kalian terpukau dengan suara babang Thony ini?" Ucap Thony dengan percaya diri.
Udah woi bawa balik aja Thony nya. Astagfirullah makin kesini, makin gak bener.
"Heh PD bener lo jadi orang! Muka kayak pantat babi aja bangga!" Jojo berucap membuat satu kelas tertawa melihat Thony mencabik bibirnya kesal.
"Eh abang Al, udah dateng bang?" Tanya Jojo, basa-basi.
"Lo liat?" Al dengan tangan yang ining memasang earphone.
"Yaelah Al! Basa-basi dikit napa, biar seru" gerutu Jojo.
"Yaelah Jo, Al mana mau jawab kalau gak penting" Tumben bener kalau ngomong.
...…...
Jam istirahat telah berbunyi membuat semua siswa berlari menuju ke kantin. Al, Revan, Jojo dan Thony berjalan diakhir. Malas untuk rebutan.
Di kelas XII 3 kelas Lea berada. Acha, Ghea dan Danish baru keluar dari kelas. Melihat Al keluar, membuat Acha menghampirinya.
"Lea gimana? Udah sadar?" Al hanya menggeleng sebagai jawabannya.
...…...
Hari ini dokter memberitahu bahwa Lea sudah melewati masa kritisnya. semuanya masih menunggu untuk Lea membuka mata. Al sudah dari tadi menggenggam tangan Lea, dirinya berdoa agar Lea segera sadar.
Andai boleh berganti posisi, lebih baik Al yang terbaring lemah disini.
Bicara tentang Lidya. Dia udah mati guys, dirinya mati karena bunuh diri.
Kemarin setelah kepergian Rika dan Amel, Al mendapatkan pesan dari Rika. Rika menyuruh Al untuk melepaskannya.
__ADS_1
Bunda
Lepaskan Lidya, jangan sampai tangan mu kotor karena pegang dia!
^^^Me^^^
^^^Iya bun, setelah ini apa yang bunda lakukan?^^^
Bunda
Kamu bakal tau nantinya
Al membaca pesan tersebut, dirinya melepaskan Lidya dan membiarkannya keluar. Sebenernya Al ingin memberikan kesan untuk Lidya agar kejadian itu teringat.
Tapi karena Alvarebos memiliki prinsip 'tidak boleh menyakiti wanita' kecuali adul mulut.
Lidya yang terlepaskan langsung lari. Bodo amat dengan keadaannya. Sekarang yang terpenting dia pulang terlebih dahulu, menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya.
Ucapan Amel begitu terngiang-ngiang di pikirannya.
Memakai taksi, dirinya langsung pulang ke rumah. Sampai di depan rumah Lidya langsung masuk. Mendapatkan kedua orang tuanya yang duduk di ruang keluarga.
Lionando -Papa Lidya melihat sangat putri datang, kemarahannya memuncak.
Plak
Satu tamparan mengenai pipi Lidya, panas bahkan berdenyut. Lidya memegang pipinya yang begitu kebas karena tamparan dari sang Papa.
"Papa gak pernah ajarin kamu buat bunuh orang!" Teriak Lionando yang menggema di setiap sudut.
Apa? Jadi benar ucapan Amel?
"P-pa Lidya bisa jelasin" Lidya berusaha untuk menjelaskannya, tapi tangannya di tepis Liando dengan kasar.
"Pa-"
Tapi, bukannya kalau kita cinta harus kita perjuangan. Memang cinta harus diperjuangkan tapi gak dengan cara membunuh orang bahlul.
"Tapi pa bukannya cinta harus di perjuangkan, Lidya gak salah dong. Lidya perjuangin cinta Lidya pa! Kenapa kalian semua gak pada ngerti sih? LIDYA CUMA MEMPERJUANGKAN CINTA LIDYA, APA LIDYA SALAH!" Teriak Lidya.
Fiks Lidya gila.
"Kamu-" Liando belum melanjutkan omongannya, tangannya terulur memegang dadanya. Tiba-tiba dadanya begitu sakit.
"Agh"
"Papa, Papa kenapa pa, papa" Ratna -Mama Lidya panik setengah mati.
Lidya dan Ratna sedang menunggu kabar dari dokter, tak berapa lama dokter datang dengan muka yang sulit diartikan.
"Dokter gimana keadaan suami saya dok?" Tanya Ratna buru-buru.
"Kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain. Saya turut berduka cita atas kembalinya suami anda" Ucap doker itu.
Dokter tersebut pamit, Ratna tak bisa manahan air matanya, dia harus kehilangan suami tercintanya.
"Ma, mama yang sabar, mungkin-" Lidya mencoba menenangkan Ratna, dengan cepat Ratna menepis tangan Lidya.
"Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu suami mana meninggal. Andai saja kamu gak lawan Papa, dia gak akan kayak gini. Kamu udah bunuh suami Mama!"
"Mulai sekarang, kamu bukan anak saya, keluarga saya hancur karena kamu! Pergi kamu"
Jdar!
Seperti terkena petir di siang bolong, tubuh Lidya kaku. Tadi Papa nya sekarang Mama nya?
Bahkan sang Papa meninggal karenanya. Ratna pergi meninggalkan Lidya yang terdiam diri.
__ADS_1
Semuanya hancur, Lidya langsung lari keluar. Handphone nya berdering. Membuat Lidya mengangkat.
"Hm"
"Halo, Lid. Perusahaan hancur total, ada beberapa perusahaan menarik kerjasamanya-" Belum orang di sebrang menjawab. Lidya langsung membanting handphone nya.
Baru ditinggal sang papa, keluarganya hancur dan sekarang perusahaan sang Papa hancur? Oh god.
Entah kemana sekarang. Dirinya berjalan tanpa arah, tatapannya begitu kosong. Hingga dirinya tak sadar bahwa hari sudah malam.
Lidya tak peduli, dirinya melangkah lebih jauh. Hingga dirinya dihadang dengan empat orang preman.
"Mau apa kalian?" Tanya Lidya, was-was.
"Udah neng sama kita aja, kita puasin mau gak?" Ucap salah satu preman.
Lidya pun langsung lari, tapi sebelum dirinya melangkah keempat preman tersebut memegang erat tangan Lidya agar tak kabur.
"Lepasin!" Lidya berusaha melepaskan cengkraman tersebut, bukannya lepas malah makin erat.
...…...
Lidya tersadar dari bangunnya, kepalanya begitu pusing. Ingatannya kembali ke semalam. Dimana harta yang dia jaga direbut paksa oleh para preman. Air matanya deras.
Disini, ditempat kotor ini. Lidya kehilangan kesuciannya.
Kenapa semuanya jadi begini? Apa ini balasan baginya? Menggambil pakaian yang bertebaran ke mana-mana. Menahan sakit di sekujur tubuhnya. Jam menunjukan pukul dua dini hari. Dengan kekuatan yang ada, Lidya meninggalkan tempat itu.
"Kenapa jadi gini? tubuh gue udah kotor hiks" tangis Lidya.
Dirinya terus berjalan hingga sampai di suatu tempat, menatap ke bawah. Dirinya sekarang berada di gedung dengan ketinggian 15 meter. Percuma dia hidup, semua orang tak peduli dengannya.
Semua orang membenci nya.
Tak ada yang peduli dengannya.
"Lidya mau ketemu Papa!" Lidya menatap kosong padangan ke bawah. Melangkahkan kakinya, hingga dirinya terjatuh.
...…...
Berita kematian Lidya sudah terdengar, bahkan di seluruh antero sekolah. Entah siapa yang memberitahu, yang pasti kematian Lidya menjadi tanda tanya bagi mereka.
Ngapain Lidya bunuh diri?
Itulah kalimat yang menjadi tanda tanya mereka.
Di rumah sakit, Rika dan Amel saling pandang. salah sendiri berurusan dengan mereka. Tapi guys untuk pemerkosaan Lidya, bukan dari rencana mereka. Mereka hanya mengancam saja, tapi ternyata takdir berkata lain.
Acha, Danish, Ghea, Revan, Jojo dan Thony datang untuk menjenguk Lea. Mereka juga membahas tentang kemarin Lidya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, masuk"
"Al, Mama sama Bunda pamit ya, nanti malam kita balik lagi kesini" Pamit Amel.
"Gak usah Ma, Mama sama Bunda istirahat aja, Besok aja kesini nya"
Mereka berdua pamit untuk pulang, tak lupa menghampiri Lea dan memberikannya semangat.
...…...
Seru gak? Atau kurang nih? Episode yang ditunggu-tunggu datang juga. Seneng gak? Tuh orangnya mati wkwkwk
Setimpal gak sih? Apa terlalu jahat yaa...
Lanjut gak? Lanjut gak? Lanjut lah masa gak! Spam lanjutnya yuk kakak 🤍
__ADS_1