Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
sᴜɴɢᴋᴇᴍᴀɴ


__ADS_3

"Semoga dengan ini, kebahagian menyertai lo Rik,"


"Aamiin, makasih ya Mel, semoga lo nyusul juga." Canda Rika.


"Aamiin."


"Sekarang kita turun, pasti yang lain udah nungguin lo." Ajak Amel.


Mereka pun keluar, namun belum sempat mereka keluar Bunda Veni dan Mama Santi datang mereka menjemput Rika agar turun karena yang lain sedang menunggu.


Ceklek..


"Rik, ayo udah ditunggu di bawah." Santi, menghampiri Rika dan mengajaknya ke bawah.


"Kamu juga ikut ya,"


Amel mengangguk sambil tersenyum. "Iya tante,"


Keempatnya berjalan turun kebawah, di samping kanan ada Santi, samping kiri ada Veni dan di belakang ada Amel.


Semuanya menatap ke mempelai wanita, semua terlihat takjub bahkan Ardit sama sekali tak berkedip melihat Rika yang sekarang sah menjadi istrinya.

__ADS_1


Rika di dudukan si samping Ardit. Entah mengapa jantungnya berdebar lebih cepat. Rika mencium tangan Ardit dilanjut Ardit mengecup kening Rika dengan lembut. Dilanjutkan dengan menandatangani buku nih, dan sungkeman.


Rika dan Ardit berdiri duduk di depan Rusdy dan Santi. Rika mengecup tangan Rusdy, percaya atau gak, walaupun keduanya ribut dilain sisi keduanya saling merindukan.


Rusdy tak bisa membendung air matanya, Rika. Gadis kecil yang bertumbuh bar-bar telah menjadi seorang istri.


"Rika, putri papa. Tanggung jawab papa sudah sampai disini. Dan sekarang tanggung jawab kamu sudah ada ditangan Ardit, turuti dia. Jangan pernah bantah ucapan suami." bisik nya pada Rika.


"Iya pa, makasih udah rawat Rika."


"Ardit, titip Rika ya. Tanggung jawab papa usah selesai di sini. Jaga dia, papa tau kamu bisa merubah Rika jadi wanita yang lebih baik lagi. Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik." Bisik nya pada Ardit.


Setelah sungkeman begitupun dengan Veni dan Ardi. Di lanjut dengan para tamu undangan. Amel, gadis itu naik keatas memeluk Rika.


"Gak nyangka gue, adik gue bisa nikah duluan." Celetuk Amel. "Selamat ya sekali lagi, jangan nakal-nakal. Ntar suami lo nyari yang baru, nyaho lo!"


Rika menatap Amel datar, "kalau mau ajak ribut, jangan disini."


"Depan rumah gimana?" Tawar Amel.


Rika tak menghiraukan Amel, membuat Amel berdecak kesal. Sakit banget, di diemin. "Gue balik duluan ya, mau kabur dulu. Ntar bokap marahi gue karena semalem pulang telat, bye!" Amel buru-buru pergi meninggalkan Rika dan Ardit.

__ADS_1


"Jangan lupa- bikinin gue ponakan yang gemes, harus mirip gue pokoknya, kalau gak ada berarti bukan ponakan gue." ucap Amel sebelum pergi.


Rika menahan kesalnya setengah mati, kok bisa punya sahabat kayak Amel yang menyebalkan minta ampun.


"Pokoknya harus mirip, awas aja gak." peringat Amel, menahan tawanya melihat Rika yang kesal.


"Dih maksa!" Cetus Rika menatap kepergian Amel.


Andai saja tak banyak orang, dan Rika tak memakai pakaian ini. sepatu hells ini akan melayang pada Amel pasti tepat sasaran.


"Selamat Rika, Ardit." ucap Mami Mel.


"Makasih tante udah datang," dengan malas Rika membalas semuanya. Rasanya ingin sekali cepat-cepat balik ke kamar dan tidur.


"Semoga cepat dapet momongan ya," Rika membalas dengan senyuman kikuk melirik sekilas kearah Ardit.


"Ah, iya tante makasih doa nya." Ucap Rika membalas pelukan.


"Rika, Amel udah kesini?" Tanya Papi Mel.


"Udah kok om, tapi gak tau sekarang kemana, udah pulang deh kayaknya." Papi Mel mengangguk, keduanya pun pamit.

__ADS_1


__ADS_2