
Santi Dwi Putri seorang perempuan desa yang lahir dari keluarga yang kurang mampu, dulu untuk sekolah saja tidak mampu dan hanya menginjak sampai kelas lima SD. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja sangatlah susah.
Dengan minimnya pendidikan dan pengalaman membuat Santi susah untuk mencari pekerjaan di kota sampai akhirnya Santi tetap di desa tinggal bersama ibunya yang sudah semakin tua, bapaknya juga sudah lama pergi merantau kerja di kota tapi sampai sekarang tepatnya sudah 20 tahun bapak pergi tak ada kabar menghilang bagaikan ditelan bumi.
Santi hanya hidup berdua bersama ibunya, dengan keadaan ekonomi yang sulit membuat saudaranya pun enggan bertegur sapa, saat-saat acara pentingpun keluarga Santi tak pernah dilibatkan. Susah senang pahit manis telah di laluinya, sampai akhirnya Santi hanya bisa berjualan online dan memanfaatkan ponsel yang ia punya agar bisa tetap bersama ibu dan menjaganya.
Tok.. tok.. tok..
Bunyi ketukan pintu itu membangunkan Santi dari mimpi panjangnya.
"Nak," terdengar ibu memanggil dengan suara lembutnya.
"Ya, Bu. Ada apa?" jawab Santi dengan mata yang masih ingin tidur.
"Mandi terus sarapan, nanti siang kamu harus ke pasar beli ikan" ucap ibu mengingatkan Santi bahwa nanti sore akan ada tamu dari kota.
Tamu itu adalah keluarga Agus, di desa ini Agus bekerja sebagai mandor di perkebunan milik papanya. Pria tampan dan mapan itu menjatuhkan hatinya pada Santi sang gadis desa yang cantik, awalnya Santi ragu untuk mengiyakan lamaran ini tapi kata-kata dan bujukan Agus membuat Santi luluh dan percaya diri.
Pagi itu Santi langsung mandi, sarapan dan pamit pada ibunya untuk pergi ke pasar. Sangat banyak keperluan yang harus dibeli.
Mempersiapkan makanan dari mulai lauk sayur dan berbagai macam kue di buat berdua dengan hati yang senang.
"Hmm, Bu. Apakah keluarga mas Agus akan menerimaku dengan keadaan kita yang seperti ini?" tanya Santi pada ibunya dengan penuh keraguan karena kondisi rumah yang bisa dibilang hampir ambruk dengan lantai tanah dan atap yang setiap hujan pasti bocor sana sini membuat ia tak percaya diri lagi.
"Kita lihat saja, kalau keluarganya setuju ya disyukuri dan kalaupun tidak setuju kamu jangan patah hati terlalu dalam, lebih baik kamu pertimbangkan lagi niat baik nya si Ahmad atau yang lainnya." jawab ibu santai tapi semakin membuatnya tak tenang.
Memang banyak lelaki yang menaruh harapan pada Santi tapi hatinya sudah jatuh ke mas Mandor yang tampan dan baik itu.
Tak terasa semua persiapan sudah beres dari mulai masakan hingga kue dan buah sudah berjejer di meja.
Tepatnya jam 8 malam suara mobil menghampiri halaman rumah santi dengan perasaan yang kacau ga karuan Santi memberanikan diri menyambut keluarga Agus, turunlah Papa, Mama dan Agus dengan pakaian mewah, Adiknya yang memakai gaun yang sangat cantik berbeda dengan Santi yang hanya memakai gaun murah dan sudah sering ia pakai.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sambil tersenyum Agus mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Jawab ibu.
"Silahkan masuk!" tambah santi sambil melebarkan pintu masuk.
Pembicaraan itu pun dimulai dari perkenalan sampai akhirnya berbicara ke topik tujuan, Santi yang gugup langsung mengiyakan permintaan lamaran dari keluarga Agus.
Semua nampak bahagia begitupun Santi dan Agus. Dua sejoli yang saling menyukai akan diikatkan pada jalinan yang halal, sungguh ini membuat Santi merasa bermimpi bisa dilamar dari keluarga yang terpandang di kota.
Menjadi orang kaya yang mempunyai perkebunan tak menjadikan pak Surya sombong. Anaknya yaitu Agus juga dibekali dengan pendidikan yang tinggi dan nasehat-nasehat yang baik dari papanya.
Tanggal pernikahan yang sudah di tentukan dan terlalu mepet menurut Santi sebenarnya membuat Santi kebingungan harus memulainya dari mana.
**
Jalan arah pulang sungguh sepi. Mama langsung saja mengeluarkan uneg-unegnya yang sedari tadi di tahan-tahan.
"Maksud mama apa?" tanya agus heran, dan papa pun ikut mengerutkan dahinya kebingungan.
Dela adiknya Agus hanya fokus pada ponsel nya saja.
"Cari istri udah orang kampung ga berpendidikan lagi! Gimana sih gus?" ucap mama masih dengan nada kesal tak terima dengan semua ini.
"Bukannya mama tadi setuju-setuju saja kok sekarang ngomongnya seperti itu sih ma!" ucap papa kebingungan.
"Maunya mama apa sebenarnya mama setuju apa tidak dengan pernikahan ku?" jawab Agus mulai emosi pada mamanya.
Di mobil tiba tiba hening.
Setelah perjalanan jauh akhirnya tiba juga di rumah, dengan perasaan yang masih kesal mama langsung keluar dari mobil dan ngomel ngomel, Agus hanya bisa diam dan tidak terlalu memikirkan perkataan yang membuatnya akan terpancing emosi.
__ADS_1
Brrug!!
Agus melemparkan badannya yang pegal kesebuah kasur empuk miliknya yang jarang ia tiduri, karena Agus harus mengontrak di desa yang jaraknya dekat dengan perkebunan tempat ia bekerja. Agus pun langsung tertidur pulas tanpa mengganti pakaian.
Di kamar Santi juga sedang sibuk menyiapkan pesanan dan posting-posting tentang dagangannya. Mulai sibuk dan lumayan jumlah pembeli dari hari ke hari semakin banyak.
Tanggal pernikahan tinggal menghitung hari Agus sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang, acara pernikahan yang akan berlangsung mewah di sebuah gedung yang besar dan mewah.
Di desa Santi nampak gelisah, kegelisahan Santi terlihat oleh sang ibu.
"Sayang, kalau kamu merasa tidak betah di rumah mertuamu nanti, rumah ibu yang sudah reot ini selalu terbuka untukmu nak," ucap ibu sambil menangis dan memeluk Santi. Sepertinya masih belum rela harus berpisah dengan anak kesayangannya itu
"Iya, Bu. Doakan saja betah dan keluarga mas Agus juga menerimaku di sana." jawab Santi sambil menangis dan mengencangkan pelukan ibu.
Tiba saatnya hari pernikahan datang, Santi dan ibu yang sudah dijemput dari semalam kini telah duduk di pelaminan. Pernikahan itu berlangsung di sebuah gedung di kota karena kerabat dan teman dekat keluarga dari Agus tidak akan hadir jika acaranya di kampung, jadi harus keluarga Santi yang pergi ke kota.
Balutan kain putih dan wajah yang terpancar Santi membuat semua orang terkesima melihat kecantikannya, Santi memang jarang memoles wajahnya dengan make-up tebal.
Acara berjalan dengan lancar membuat badan sepertinya kaku dan pegal-pegal, tapi sungguh ini membuat Santi sangat bahagia karena apa yang di impikan telah terwujud kini Santi benar benar bahagia mempunyai suami yang begitu perhatian dan tak henti membuatnya merasa senang.
Wajah ibunya Santi terlihat begitu bahagia melihat anak semata wayangnya telah bersanding dengan orang yang tepat, karena hampir setiap hari kala itu waktu masih pacaran Agus ini juga perhatian padanya.
Di sisi lain Santi melihat wajah mama mertua seperti bosan dan seperti kesal dengannya tapi berharap semoga ini hanya pikirannya saja. tapi di sisi lainnya lagi terlihat papa mertua begitu asyik dan happy dengan acara ini sungguh terlihat perbedaan antara mama dan papa mertua disini.
Acara pun selesai.
Tibanya di kamar Santi senyum senyum sendiri dan berkata dalam hati.
"Alhamdulillah sekarang aku telah menjadi seorang istri."
Di sudut dekat pintu kamar mandi terlihat Agus sudah rapi dengan setelan tidurnya.
__ADS_1
"Selamat tidur sayang." ucap Agus sebelum tidur dan mengecup kening sang istri.