Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Selamat atau Tidak


__ADS_3

Semua keceriaan diwajah keluarga Zidan kini berganti dengan ketegangan. Pria dihadapannya berhasil membuat semua orang terdiam dengan wajah yang tak bisa digambarkan.


"Ayah" gumam Siska pelan.


"Aku pulang untuk memberikan ucapan selamat pada pengantin baru dirumah ini. Kalian apa kabar sehat? kenapa ekspresi penyambutanku seperti ini? apa kalin tak senang dengan kehadiranku"


Entah apa yang harus Zidan, Ibu dan Siska ucapkan kala melihat ayahnya yang selama ini hilang kontak, kembali dengan prilaku yang aneh.


"Kami baik" jawab Zidan singkat.


Anyelir dan Rio yang tak tahu dengan masalah yang dihadapi keluarga Zidan hanya bisa diam tanpa berkata apapun. Keduanya lebih memilih diam dan sesekali tersenyum ketika Ayah Bian menatap kearahnya.


"Syukurlah kalau kalian baik. Ngomong ngomong mereka siapa? tamu kok dikasih makan kaya gitu? pesen dong makanan mahal Zidan, jangan kaya orang gak mampu. Secara sebentar lagi kan warisan dari kakakku akan sepenuhnya jatuh ketanganmu, karena kau sudah menikah dengan bekas adikmu" ejek ayah dengan ketus.


Seberapa pantaskah pria yang selama ini ia anggap sebagai ayah tinggal dirumahnya berlama lama, jika terus saja mencaci wanita yang kini berstatus istrinya.


"Jangan buat saya marah dengan perkataan yang anda ucapkan. Saya sedang tak ingin mendengar hinaan pada istri saya. Saya juga tak ingin bersikap kasar pada orang tua yang sudah sakit sakitan seperti anda. Jika anda ingin tinggal disini silahkan. Tapi ingat! jangan pernah anda berbicara buruk mengenai istri saya dan menyebutnya bekas anak anda, karena istriku bukanlah barang! mengerti!"


Tangan Zidan mengepal diatas meja. Emosi yang selalu ia tahan pada ayahnya membuat dirinya sudah terbiasa dan muak mendengarkan ocehan dari ayahnya yang selalu saja menjadi perdebatan.


"Kau masih punya muka untuk datang kesini hah! mana selingkuhanmu itu?! apa wanita mura*an itu sudah meninggalkanmu pria tua bangka?" teriak Ibu Widya kepada pria yang masih berstatus suaminya tersebut.


"Jaga bicaramu wanita tua! kau itu sedang berbicara pada suamimu! aku masih sah suamimu! jadi jangan pernah berteriak ataupun membentakku!"


Zidan yang merasa malu kepada Rio dan Anyelir hanya dapat menatap keduanya dengan sendu. Keceriaan yang tadi mereka rasakan kini berubah menjadi keributan yang penuh dengan keteganggan.


Siska hanya bisa menangis melihat perdebatan ayah dan ibunya yang tiada akhir. Nayla yang melihat tangisan serta kesedihan di wajah adik iparnya, kini mulai mendekat ketubuh Siska dan mencoba menenangkannya dengan pelukan.


"Kita masuk kekamar saja ya" ajak Nayla dengan suara lembut pada Siska.


Siska mulai menghapus kasar air mata yang keluar membasahi pipinya dan segera bangkit berdiri untuk masuk kedalam kamarnya.


Anyelir yang melihat Nayla sedikit kesusahan memapah Siska segera membantunya. Diapitnya tangan Siska dan mulai berjalan pelan disampingnya.


Kandungan Siska kian hari kian membesar, hingga ketika kakinya melangkah menuju kamarnya yang ada diatas, Siska berteriak meringis menahan sakit diperutnya.


"Ahhhh sakit mbak!"

__ADS_1


Seketika ayah, ibu dan Zidan menoleh kearah Siska yang perlahan mulai terduduk diatas tangga. Zidan berlari menuju adiknya dan segera mencoba menggendong tubuh adiknya segera menuju sofa diruang tamu.


"Kau kenapa Siska? apa yang sakit bilang sama mas?" ucap Zidan panik.


"Ahhh sakit mas! perutku sakit sekali!"


"Kau bertahan, kita akan pergi kerumah sakit sekarang!"


Zidan bergegas kembali menggendong tubuh Siska menuju mobilnya. Nayla yang melihat darah mulai merembes diantara kaki Siska segera membukakan pintu dan ikut masuk kedalam mobil.


"Siska pemdarahan mas! kita harus segera mengantarnya kerumah sakit"


Kepala Zidan sedikit pusing melihat banyak darah yang menempel ditangan serta bajunya. Memorinya kembali mengingat kejadian dimana saat Nayla mengalami keguguran dulu.


"Siska bertahanlah. Kumohon tarik nafasmu dengan teratur. Mas janji akan bawa kamu ke rumah sakit dengan cepat dan bayimu akan selamat"


"Bayiku mas! bayiku harus selamat"


Bulir bening terus membasahi mata Siska, Ibu dan Nayla, tak terkecuali Anyelir yang ikut menangis melihat kondisi Siska yang begitu mengkhawatirkan.


Zidan dengan sigap menurunkan Siska diatas kursi belakang dengan Nayla yang menjadi penyangga Siska berbaring.


"Aku juga ayahnya. Memang apa salahku hingha kau menyalahkanku! Putriku mungkin kandungannya lemah hingga mengalami pendarahan"


Zidan yang muak mendengarkan ocehan ayahnya segera melerai dan melajukan mobilnya pergi dari rumah.


"Terus saja ribut sampai malam. Jangan perdulikan anak kalian yang tengah kesakitan. Nye, Rio kalian jika ingin ke rumah sakit ajak sekalian ibu, mobilku yang satu lagi ada digarasi. Ambil kuncinya yang ada di dalam laci ruang kerja, aku buru buru. Wassalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Anyelir dan Rio mengangguk tanda mengerti. Mereka berlalu meninggalkan ibu dan ayahnya Siska didepan halaman rumah dan segera mengambil kunci mobil milik Zidan.


Keduanya melupakan hidangan yang mereka santap dan segera bergegas menyusul Zidan menuju rumah sakit.


"Ibu silahkan masuk Siska saat ini pasti sangat butuh sosok ibu" ucap Anyelir seraya membukakan pintu.


Dengan wajah yang ikut tegang, kini ayah mulai berjalan mendekati mobil yang dikemudikan Rio.

__ADS_1


"Ayah juga ingin ikut!"


"Kau naik mobilmu sendiri! Dan ingat jika kau sampai disana, jangan membuat keributan denganku!" jawab Ibu Widya ketus.


Mobil ditutup dengan kasar kemudian berjalan dengan kencang meninggalkan ayah yang menahan emosi dalam dirinya.


"Dasar istri kuarang ajar! lihat saja nanti. Aku akan membuatmu menderita dan bersujud memohon agar aku kembali kepelukanmu!"


Diambilnya kunci mobil didalam saku dan segera melajukan mobil untuk melihat keadaan Siska dirumah sakit.


****


Langkahnya yang cepat dengan Siska yang ada didalam pangkuannya, membuat semua perawat terkejut dan berdatangan untuk memberikan pertolongan.


"Dokter! dokter! tolong adik saya!" teriak Zidan dengan keras.


Suster yang berjaga segera berlari seraya mendorong brankar.


"Tolong selamatkan adik saya dan anaknya sus"


Dengan air mata yang mengalir dipipinya Zidan memohon kepada suster yang terus membawa Siska menuju tempat perawatan.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Bapak tunggu saja diluar agar kami bisa segera melakukan tindakan lebih lanjut"


Nayla menghampiri suaminya dan menepuk pelan pundak Zidan. Rasa sedih didalam hatinya tak dapat dibendung oleh apapun. Hingga akhirnya ia memeluk erat Nayla sebagai obatnya.


"Aku sedih dengan keadaan Siska Nay. Walaupun dia bukan adik kamdungku, tapi sejak kecil dia adalah bagian terpenting dihidupku"


"Kau harus kuat mas. Aku yakin Siska takan kenapa napa"


"Bagaimana mungkin Nay. Diusianya yang masih muda dan harusnya mengejar mimpi serta cita cita, ia malah mengandung anak dari pria baji*ngan yang ia kenal. Aku tak pernah sedikitpun melarangnya berteman dwngan siapapun karena itu adalah haknya. Namun aku salah, justru kebebasan yang aku berikan pada hidupnya menjadi boomerang yang menghancurkan masa depannya Nay. Aku menyesal"


Nayla mengangkat wajah Zidan dan menghapus semua air mata dipipinya.


"Mas, kau tahu apa itu hidup? bagiku hidup itu adalah sebuah rahmat yang Allah berikan untuk kita sebagai cipataannya. Takdir seseorang sudah digariskan oleh Allah sebelum kita lahir. Namun terkadang kita yang salah memilih jalan hidupku dan malah menyalahkan takdir yang Allah berikan"


Zidan menatap sendu kearah istrinya.

__ADS_1


"Lalu apakah Siska dan bayinya akan selamat atau tidak Nay? aku takut kehilang mereka"


"Kita selaku manusia hanya bisa berdoa dan berikhtiar mas. Sekarang mas coba minta sama Allah supaya Siska baik baik saja. In Sya Allah jika mas berdoa dengan khusu mudah mudahan Allah mengabulkannya"


__ADS_2