Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Jebakan


__ADS_3

Sepanjang jalan tak ada percakapan antara Hamdi, asisten pribadinya serta pria yang kini menjadi tahanannya. Hamdi memilih fokus mendengarkan petunjuk jalan ke tempat Clara berada dari pria asing di sampingnya.


"Di ujung jalan ada pertigaan, anda belok ke arah kiri" titah pria yang saat ini duduk disebelah Hamdi.


Dengan mobilnya yang melaju cukup kencang, Hamdi kini telah berada di persimpangan selanjutnya dan memilih bertanya pada pria tersebut.


"setelah ini belok kemana lagi?"


Pria itu tampak ragu mengatakan jalan yang akan menuju rumah Clara. Namun, ketika mengingat kembali putri putrinya dirumah yang pasti sedang mencari carinya, ia pun dengan terpaksa mengatakan arah selanjutnya dengan perasaan takut.


"Saya akan katakan tuan, tapi saya mohon tolong bebaskan saya dan jangan libatkan saya di pengadilan. Kasihani anak anak saya yang masih kecil. Mereka sangat membutuhkan saya"


Hamdi tersenyum getir. Dia tak tahu harus berbuat apa ketika Siska mempertanyakan kesetiaannya kemarin. Namun ia juga memang tak tega harus membuat anak anak kecil sampai kehilangan sang ayah dan terlantar begitu saja.

__ADS_1


"Aku akan memaafkanmu tapi berjanjilah untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku kasihan pada ke empat putrimu bukan padamu. Dan untuk biaya perawatan anakmu di rumah sakit saya akan tanggung semua. selain itu aku juga akan mempekerjakan mu sebagai tukang kebun di kantor" ucap Hamdi dengan datar.


"sekarang katakan! harus kemana lagi?" lanjut Hamdi dengan ketus.


Pria itu tampak senang dan terharu akan kebaikan yang Hamdi miliki setelah tindakannya tempo lalu. Hingga akhirnya kini pria itu mulai kembali mengatakan jalan yang harus di lewati Hamdi untuk sampai di rumah Clara.


Tiga puluh menit telah berlalu, kini mobil itu telah sampai di salah satu rumah yang cukup sederhana dengan pagar yang hanya terbuat dari bambu Saja. Dari jauh terlihat satu orang pria yang cukup muda tengah menghisap sebatang roko seraya menyapu halaman rumah. Hamdi terdiam sejenak, seraya mulai melihat keadaan sekitar yang tampak sepi dan juga aman.


"Kita tunggu disini dan kau keluar untuk berpura pura mengajaknya cek in di hotel dengan tarif tinggi" titah Hamdi pada asistennya.


Asisten Hamdi perlahan lahan mulai mendekati pria yang sedang menyapu itu dan mulai mengajaknya untuk berbincang seputar Clara. Alat penyadap yang dipasang Hamdi bahkan sangat berguna sehingga membuatnya tahu apa saja yang dikatakan pria itu.


Tanpa banyak basa basi, asisten Hamdi mulai terlihat mengetuk pintu rumah bercat hijau cerah dengan pelan. Hingga tak lama kemudian sosok wanita yang sedang di cari Hamdi pun tampak begitu cetar dengan kaus ketat serta celana yang panjangnya hanya tiga jengkal dari pinggangnya.

__ADS_1


Lama keduanya saling berbincang, sampai beberapa kali terlihat Clara tertawa dengan lepas menanggapi celotehan dari pria di depannya. Wanita itu tak terlihat curiga dengan asisten Hamdi hingga saat dirasa waktunya sudah tepat. Asisten Hamdi pun mengajak Clara berjalan sekitar 200meter dari rumahnya untuk melancarkan aksinya.


Jalanan yang sepi mampu membuat aksi yang akan Hamdi lakukan pasti berjalan mulus hingga tak ada satupun yang tahu atas tindakannya. Dan benar saja, ketika Clara dan asistennya itu perlahan lahan membuka pintu samping mobil bagian belakang, Hamdi dan pria asing yang sudah ia tahan terlebih dahulu, bersembunyi di jok depan pengemudi sehingga Clara tak sadar bahwa ada orang selain dirinya dan pria yang bersamanya.


"Pakai sabuk pengamannya" ucap asisten Hamdi dengan lembut.


Clara tersenyum dan menganggukan kepala seraya mulai menggunakan seat belt dengan benar.


"Kita akan pergi ke hotel mana? dan kenapa kamu duduk disampingi saya? apa kamu tak tahan hingga menginginkannya di tempat seperti ini?" tanya wanita itu ketika asisten pribadi Hamdi mulai duduk di sebelahnya.


Pintu di kunci dengan cepat. Hamdi dan pria suruhan Clara muncul hingga membuat Clara mencoba berontak dan berteriak sekencang mungkin. Namun dengan cepat Hamdi melajukan mobilnya serta asistennya menyumpal mulut Clara dengan kain hingga ia pun tak bisa berteriak ataupun bergerak.


Seringai di wajah Hamdi terlihat begitu mengerikan. Clara yang notabene tak tahu tentang sikap dan sifat Hamdi sebelumya, mulai ketakutan.

__ADS_1


"Kita berjumpa lagi" ucap Hamdi penuh dengan kemenangan.


__ADS_2