
Pria itu trus saja berjalan ke arah Siska tanpa menghiraukan suara bergetar yang berasal dari wanita berambut pendek itu.
"Aku sudah lama menunggu waktu yang tepat untuk menikmati dirimu Siska. Aku sudah tahu desas desus tentangmu yang mampu melayani tujuh orang pria sekaligus dalam semalam. maka dari itu akan ku buktikan rumor itu untuk menghilangkan rasa penasaran di hatiku" ucap Rafa, pria yang menjadi tangan kanan pak Abram selama ini.
Pria dengan stelan kemeja yang di gulung sampai sikut, kacamata yang bulat besar menjadi aksesoris wajahnya, serta hidungnya yang mancung dan juga kulitnya yang putih bahkan membuat ketampanan yang ia miliki terhalang oleh niat buruk yang ia tunjukan pada Siska.
"Apa kau tak ingin bermain bersamaku Sis? Aku tampan dan aku yakin kau puas dengan service yang akan kuberikan untukmu pagi ini"
Siska menggelengkan kepala dengan cepat. wanita itu tak menyangka bahwa pria yang selama ini selalu saat menjadi bahan ejekan di kelasnya ternyata adalah pria jahat dan juga memiliki niatan buruk padanya.
Padahal tiap kali ia menjadi bulan bulanan anak anak di kelasnya, Siska lah yang selalu menjadi tameng untuknya. Siska bahkan dengan berani membentak semua pria yang mencoba menyakiti Rafa setiap hari.
"Aku selama ini selalu berbuat baik padamu. Aku tak pernah memiliki niatan buruk apapun padamu Raf. tapi kenapa kau.malah ingin melakukan hal beja* seperti ini padaku? Apa salahku?"
Rafa tersenyum menyeringai. Giginya yang gingsul bahkan menambah ketampanan yang ia miliki dengan kebringasan yang mulai terlihat jelas dari Wajahnya.
"Apa salahku katamu? Salahmu? Emmhhhhh. Salahmu adalah karena kamu terlalu cantik Sis. Kamu bahkan bisa membuat aku tak fokus dalam belajar sehingga pandanganku selalu saja tertuju padamu dan aku bahkan selalu saja memikirkannya setiap malamnya. Kau benar benar tipeku. Kau adalah tujuanku untuk hidup"
Rafa mendekat yang sontak saja membuat Siska reflek melempar satu buah kursi besi tepat ke arahnya
Brukk.....
Rafa menghindar. Pria itu semakin tersenyum dengan keberanian yang Siska lakukan.
"aku dengar kau juga ahli dalam bela diri Sis. Maka itu menjadi salah satu tantangan juga untukku kali ini"
__ADS_1
Rafa mengejar Siska yang sontak saja membuat Siska berlari menghindari pria menyeramkan itu.
Siska beberapa kali bahkan melempar kertas serta buku buku pada Rafa yang tak mundur ataupun mengurungkan niatan buruknya pada Siska.
"Sebentar lagi anak anak pasti akan sampai Raf. Kumohon berhentilah mengejarku".
"aku tak perduli dengan semuanya Sis. Aku akan terus mengejarmu sampai dapat dan akan terus berusaha mendapatkanmu walaupun nyawaku jadi taruhannya. Sudah sekian lama aku selalu membayangkan bisa ti**r dengan mu setiap malam. Bahkan aku selalu saja membayangkan lekuk tubuhmu yang indah serta wajah cantikmu untuk bisa ku dekap dengan erat".
Sungguh menjijikan pikiran Rafa Dimata Siska.
Siska tak mengira jika Rafa yang lugu dan juga pendiam, ternyata memiliki pikiran kotor dan juga menjijikan tentangnya.
Siska terdiam dan itu membuat Rafa dengan cepat mengulurkan tangannya untuk mendekap Siska dari arah belakang.
"awhhh!!!" pekiknya dengan keras.
"Aku sejak tadi menahan amarah di dalam diriku agar tak menyakitimu Raf. Aku sejak tadi senagjaa tak ingin mengotori tanganku dengan menyentuh tubuhmh yang menjijikan itu! Ku tahu perkataanku pasti akan menyakitimu tapi apa kau tahu perkataanmu benar benar membuatku muak dan juga menjijikan!"
Siska memukul keras bagian pundak Rafa hingga pria itu terduduk di atas lantai dan bersimpuh di hadapannya.
Namun tak lama kemudian Rafa kembali tertawa terbahak bahak, bahkan menggema di seluruh penjuru ruangan yang tentu saja membuat Siska kembali terkejut.
"Hahahahahhaha Siska! Siska! Kau pikir dengan kau memukulku dan mengancamku, niatku untuk mendapatkanmu akan hilang ? Iya ? Begitu? Mulai detik ini aku bahkan tak berniat untuk mendapatkan apresiasi terbesar di kampus ini sebab semua ini hanya permainan tentang uang dan juga kekuasaan. Kau bahkan memiliki masa lalu kelam dan juga rumor yang menjijikan tapi dengan uang kakakmu, kau bahkan bisa bersekolah dengan aman dan tenang tanpa mendapatkan siksaan serta Bullyan sepertiku"
Siska tersenyum miring mendengarkan perkataan Rafa padanya.
__ADS_1
"Kau bahkan tak tahu dan tak ingin tahu apa saja yang aku alami Raf. Kau salah mengiraku dan juga menilai kakakku. Kau pikir dengan uang hidupku aman jika bersekolah disini Raf? Iya!? hahahaha kau salah Raf. Kau salah! Aku bahkan setiap hari digunjing! Di caci maki! Direndahkan! Dan juga dihina di hadapan banyak orang tentang kasus pelecehanku oleh anak anak manja yang sama kayanya denganku! Apa kau tahu Raf! Tidak! Kau pasti tidak tahu! Kau bahkan tak tahu jika nanti anakku tumbuh dewasa, dia akan tahu dan mungkin akan malu sebab ia lahir karena hasil sebuah pelecehan yang tentu saja tak pernah ku inginkan sebelumnya! Oh dan bahkan aku pernah berusaha meleny*pkannya dan juga mele**pkan nyawaku sendiri!"
Rafa bergeming. Dia terdiam dengan tatapan mata yang terus saja memperhatikan gerakan bibir Siska yang terus saja berucap.
"Baiklah aku mengaku salah Sis. Aku tak tahu apa yang telah terjadi padaku dan apa yang terjadi denganu sebelumnya. Maafkan aku" Rafa menunduk dan terlihat sangat bersalah pada Siska.
Hingga tiba tiba saja saat Siska mulai ikut meneteskan air mata, Tanpa sadar Rafa bangkit dengan cepat dan mendorong tubuh Siska sampai tembok. Seraya mencengkram kuat rahang wanita itu hingga Siska bahkan tak bisa menggerakan tubuhnya akibat terkunci oleh tubuh Rafa dan lengan kekekar pria itu.
"Hahahah kau sangat lugu Siska! Kau bahkan sangat lemah!"
Rafa mencengkram kuat wajah Siska hingga Siska tak bisa berbuat apapun padanya.
Rafa bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah Siska sampai sampai Siska menangis dan berusaha berontak untuk menjauhkan tubuh pria itu darinya.
"le...paskan aku! Lepaskan!" Siska terus saja menggelengkan kepala berusaha menjauh dari wajah Rafa yang terlihat sangat menyeramkan untuknya.
Rasa trauma yang dulu sempat sembuh kini kembali lagi pada diri Siska hingga ia bahkan merasa sesak nafas dan juga kepalanya terasa begitu pening.
Rafa menyeringai dengan penuh kemenangan. Pria itu tak mengira bahwa akan bisa menatap wajah Siska sedekat ini padahal selama ini, ia hanya bisa membayangkan bisa berc**mbu dengan Siska lewat khayalannya saja.
Siska menutup matanya dengan cepat, bahkan menangis tersedu-sedu saat Rafa mulai mendekatkan bibirnya, pada *b**bir Siska.
Bugh!!!!!
Tes!!!.
__ADS_1