Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Kesal


__ADS_3

Hamdi terdiam tak mampu berkata apapun. Jika saja dia tahu bahwa wanita yang kehilangan nyawa karena membantu Siska adalah sepupu Hamdi, maka bagaimana reaksi Siska setelah mengetahuinya.


Hamdi kembali mengepalkan tangannya dengan amarah yang mulai memuncak. Ia bahkan tak bisa bernafas dengan lega ketika mendengar nama Frans. Dendamnya belum terbalaskan saat ini. Hamdi dengan teguh akan membalaskan setiap rasa sakit yang dialami Nikita ketika menemui ajalnya.


"Aku sedang tak ingin membicarakan itu. Ku harap kau mengerti. Sekarang kau temui kakakmu di ruangan sebelah karena mereka memiliki kabar bahagia untukmu dan ibu" Hamdi tersenyum paksa kepada Siska.


Ia bahkan tak ingin jika Siska atau calon ibu mertuanya tahu bagaimana dirinya jika sedang marah.


Siska menganggukan kepala dan mulai berjalan meninggalkan kekasihnya yang duduk dipinggir ranjang.


"Kau tak ingin ikut ?" tanya Siska.


"Nanti saja aku menyusul. Aku masih ingin tidur sebentar karena kepalaku sedikit pusing"


"Ya sudah aku temui Mas Zidan sama Mbak Nayla nanti saja. Aku akan temani kamu disini sama ibu. Sekarang aku akan panggilkan dokter untuk mengecek keadaanmu"


"Tak perlu sayang. Aku baik baik saja. Aku hanya ingin beristirahat. Zidan sama Nayla pasti sangat merindukanmu"


Ibu Widya yang sadar akan keingin Hamdi untuk waktu sendiri mulai mendekat kearah Siska dan menepuk pelan pundaknya.


"Ayo Siska, kita temui dulu mas dan mbak mu. Biarkan Hamdi sendiri dulu. Ia ingin istirahat"


Dengan bayi yang masih berada dipangkuannya , Ibu Widya mulai berjalan kearah Hamdi dan mengusap pelan paucuk kepalanya.

__ADS_1


"Kalau ada apa apa segera panggil kami. Ibu mau pergi dulu. Kau istirahatlah"


Tak lama Siska juga mendekati kekasihnya dan mulai mengelus tangannya yang kekar.


"Aku akan pergi dulu untuk menemui Mas Zidan dan Mbak Nayla. Kau istirahatlah, nanti aku akan datang lagi kesini ya"


Siska dan Ibu Widya pun berlalu seiringan dengan air mata Hamdi yang mulai kembali menetes kala mengingat Nikita. Sudah sekian lama ia dan Nikita tak saling bertemu dan dikala ia bertemu, nyawa Nikita harus terenggut akibat dirinya membantu misi pencarian bukti pelecehan yang Siska alami.


Dalam lubuk hati Hamdi yang paling dalam, ia kini sedang berfikir siapakah orang yang selama ini dicintai oleh Nikita. Telah lama Hamdi berteman bahkan bersahabat dengannya, namun sampai kematiannya, Nikita tak sekalipun mengatakan siapakah pria beruntung yang bisa mendapatkan cinta dari wanita angkuh dan keras kepala tersebut.


"Aku harus membantu Nikita mengatakan cinta pada pria misterius itu. Harus" gumam Hamdi seraya menyeka air matanya.


***


"Selamat ya Mbak Nay, Siska dan ibu ikut senang dengan kabar bahagia ini."


"Anakku juga pasti sangat senang karena tak lama lagi ia akan mendapatkan teman bermain"


lanjut Siska seraya mulai menciumi pipi mungil sang bayi dipangkuannya.


"Apakah kalian sudah mendatangi Hamdi dan melihat kondisinya?" tanya Zidan dengan serius.


"Tentu sudah mas. Aku sudah mendatanginya dan melihat kondisinya. Oh ya, bagaimana semua ini bisa terjadi? dan kenapa kalian tak memberitahu rencana ini padaku sebelumnya? aku sangat marah dan kesal padamu mas! apakah kalian tahu, yang sedang kalian hadapi adalah Frans? dia adalah pria dari anak konglomerat di negera ini. Ia memiliki banyak koneksi yang akan membuatnya terbebas dari semua tuduhan" ucap Siska kesal.

__ADS_1


"Iya kami tahu Sis. Tapi kali ini mereka tak akan pernah lolos untuk kasus kematian Nikita, sebab sidik jari sudah tercatat rapih didata kepolisian. Jadi kemungkinan jika nanti dia dibebaskan, maka akan ada masalah yang lebih rumit lagi untuk pihak kepolisian jika Frans dan ayahnya dibebaskan"


"Tapi siapa wanita yang ditembak oleh Frans mas? kenapa Hamdi begitu sedih ketika aku membicarakannya? apakah dia mantan kekasihnya? atau apakah dia selingkuhannya?!" cecar Siska pada Zidan.


Zidan mengehela nafasnya dan kemudian duduk seraya memegang kepalanya.


"Saat ini kau tak perlu berfikir macam macam Sis. Kuberitahu padamu yang sebenarnya, bahwa Nikita adalah sepupu Hamdi yang sudah lama bersahabat dengannya. Ia rela mengorbankan nyawanya demi dirimu yang sangat dicintai oleh Hamdi. Dia kehilangan nyawanya untuk memberikan keadilan untukku"


"Aku tak pernah meminta keadilan pada siapapun mas! aku sudah bisa menerima semuanya dengan lapang. Jadi jangan berkata seolah olah aku yang menyuruhnya untuk melakukan semua ini" Siska yang kesal kemudian duduk di kursi yang berlawanan dengan tetap menggending anaknya dipangkuannya.


Ibu Widya yang tahu bahwa Siska masih labil, hanya bisa mengelus pundaknya dan ikut duduk disebelah Siska.


"Mas mu hanya ingin kau selalu berfikir positif pada Hamdi, Siska. Nikita adalah orang baik . Bahkan dia pun tak pernah bertemu denganmu bahkan melihatmu, namun ia membantu misi masmu itu. Kau harus menurunkan emosimu disaat seperti ini " Ibu Widya tersenyum dan mengelus pucuk kepala Siska.


"Aku tahu bahwa Nikita adalah wanita yang baru aku dan Nayla kenal. Namun Hamdi sudah tahu latar belakangnya yang begitu memprihatinkan sehingga ingin sekali menegakan keadilan untuk Siska. Mas hanya ingin kau menganggap Hamdi adalah leleaki yang tulus padamu dan mas hanya ingin kau melihat kebaikan yang Nikita lakukan untukmu"


"Aku seorang wanita mas. Aku tahu takan mungkin seorang wanita mengorbankan segalanya demi pria yang notabene adalah sepupunya sendiri jika tak ada cinta dihatinya. Aku tak marah jika memang benar wanita itu mencintai Hamdi. Tapi aku hanya kesal saja sebab kalian tak memberitahu rencana ini kepadaku terlebih dahulu. Selain itu aku pun tak mengetahui jika wanita yang kehilangan nyawanya itu adalah sepupu Hamdi, sehingga aku berfikir bahwa ia adalah kekasih gelapnya" Siska menundukan kepala.


Zidan termenung dekat perkataan Siska. Memang benar bahwa Nikita pasti mencintai Hamdi sebab terlihat jelas disetiap catatan serta gambar dikamar Nikita menunjukan bahwa sosok itu sangat mirip sekali dengan gambaran Hamdi. Mungkin nanti dia akan menemukan bukti nyata bahwa Nikita mencintai Handi.


"Ya sudah, sekarang jangan lagi bersikap seperti itu. Maafkan Mbak sama Mas mu ini ya Siska. Bukan kami bermaksud menutupi semuanya darimu, tapi kami tak ingin membuatmu ikut andil dalam misi ini sebab ada bayi yang harus kamu rawat dan besarkan saat ini. Kami tak ingin menganggu peranmu sebagai ibu. Maafkan kami" Nayla bangkit dari ranjang dan berjalan menghampiri Siska.


Siska memeluk erat tubuh kakak iparnya tersebut dan mulai bisa menurunkan egonya yang selama ini sangat sulit untuk dihilangkan.

__ADS_1


"Nanti akan ku cari lagi petunjuk pria yang sangat dicintai Nikita, agar bisa datang di hari pemakamannya" gumam Zidan dalam hati.


__ADS_2