Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Khawatir


__ADS_3

Langit terlihat begitu cerah dengan mentari yang bersinar dengar terik cahayanya. Hembusan angin menerpa wajah Nayla yang tampak begitu cantik dengan hijab yang menutupi rambutnya. Beberapa kali Zidan memandang istrinya yang begitu tampak mempesona disampingnya.


"Masya allah cantik sekali istrinya mas" puji Zidan pada Nayla.


"Alhamdulillah " jawab Nayla singkat pada suaminya.


"Nay, aku beruntung sekali bisa meminangmu dan menjadikanmu sebagai pendamping hidupku. Aku janji aku takan pernah membuatmu meneteskan air mata sedikitpun"


Nayla tersenyum mendengarkan ucapan suaminya.


"Bukan mas yang beruntung. Tapi aku yang beruntung bisa memiliki suami yang baik dan jauh lebih baik dari diriku sendiri. Alhamdulillah Allah sudah menyiapkan mu yang insyaallah adalah jodohku"


"Kau memang jodohku Nay. Kau adalah hidupku. Separuh nafasku dan separuh hidupku adalah ada didalam dirimu.Ku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu karena Allah"


Zidan menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan mencium kening Nayla sekilas.


"Terimakasih karena kau mau menjadi istriku"


"Terimakasih juga karena mas mau menjadi imamku" jawab Nayla.


Mereka tak sadar bahwa di jok belakang terdapat Hamdi yang tengah menatap keduanya dengan bengong dan membuka mulutnya lebar. Entah kenapa Zidan dan Nayla lupa bahwa ada Hamdi dibelakangnya.


"Ekhem" suara Hamdi sontak membuat Nayla dan Zidan menoleh dengan kaget.


"Astagfirullah setan!" pekik Zidan kaget.


Nayla tertawa melihat keterkejutan suaminya ketika melihat Hamdi di jok belakang.


"Mas itu Hamdi" tawa Nayla disela ucapannya.


"Sejak kapan kamu ada disini Ham? kau ini diam saja seperti cacing"


Hamdi menarik nafas dengan kesal. Entah siapa yang salah saat ini. Yang pasti dirinya sudah ada sejak 20menit yang lalu ketika Nayla dan Zidan menjemputnya di apartement miliknya.


"Kalian ini pikun atau apa? sejak tadi aku disini dan kalian malah bermesraan dihadapanku? sungguh terlalu"


Hamdi memasang wajah kesal sebab perkataan Zidan.


"Oh ya, setelah kau mengagaiku setan dan cacing. Lalu apakah aku boleh mengatakanmu adalah kakek tua? kau itu pikun sekali Dan" umpat Hamdi kesal.

__ADS_1


Nayla yang tak henti hentinya tersenyum melihat tingkah Hamdi yang jengkel dengan dirinya dan suaminya.


"Maafkan kami Ham. Kami benar benar lupa bahwa kau ada dibelakang" jawab Nayla.


"Memang benar ya. Jika cinta sudah menutupi pandangan dan hati kalian, dunia ini seperti milik berdua. Tak perduli apapun disekitar. Hingga yang lebih parahnya lagi kalian melupakan makhluk yang tampan rupawan sedang melihat kalian dari belakang. Untung saja kalian tak melakukan hal yang aneh"


Pipi Nayla langsung merah merona mendengar perkataan Hamdi.


"Sudah sudah. Maafkan aku Ham, aku benar benar lupa bahwa kau ada dibelakng tadi" ucap


Zidan seraya menatap jalanan dihadapannya.


"No problem. Untuk kedepannya kalian jangan sampai lupa situasi kondisi dan imunisasi sekitar jika ingin bermesraan. Aku khawatir kalian akan melakukan hal yang tidak tidak dihadapan orang lain. Untung saja aku tak bermulut lemes"


****


Hening diantara mereka. Hingga tak lama kemudian, mereka telah sampai di halaman panti asuhan.


"Kita sudah sampai"


Hamdi, Zidan dan Nayla kini keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu panti asuhan.


tok..tok..tok


"Assalamualaikum bu"


Tak ada jawaban dari dalam membuat Nayla kembali mengetuk pintu rumah dengan sedikit lebih keras.


tok..tok..tok


"Assalamualaikum bu, ini Nayla"


"Waalaikumslaam, sebentar"


Terdengar langkah kaki tergesa gesa berasal dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu dibuka lebar dan nampaklah wanita aruh baya dengan gamis putih menyambut kedatangan mereka.


"Eh putri ibu yang cantik datang. Gimana kabarnya sehat?"


"Alhamdulillah sehat bu. Ibu gimana sehat?"

__ADS_1


"Alhamdulillah nak ibu sehat. Nak Zidan sama nak Hamdi bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah sehat bu" ucap keduanya serempak seraya mencium punggung tangan Ibu Aisyah.


"Ayo masuk biar ibu buatkan teh untuk kalian"


Nayla, Hamdi dan Zidan masuk kedalam rumah dan duduk diatas sofa ruang tamu.


"Tunggu sebentar, ibu akan siapkan kalian teh dulu"


"Biar aku bantu bu"


Nayla dengan sigap berdiri dan berjalan mengekor dibelakang Ibu Aisyah. Hamdi dan Zidan larut dalam obrolan mereka dan mulai menyusun rencana selanjutnya.


"Ham, jika nanti kita sudah sampai di sana, rencana apa yang akan kita mulai?"


Hamdi sejenak terdiam dan memikirkan rencananya.


"Jadi, saat kita tiba disana, kita akan bertemu terlebih dahulu dengan Nikita untuk mengetahui situasi di rumahnya karena keamanan disana sangat ketat. Perlahan lahan kita akan masuk kesana dengan alasan apapun untuk menaruh cctv didalam rumah mewahnya agar bisa memantau setiap pergerakannya. Aku akan pastikan Nikita menjalankan misi ini dengan cepat agar kita bisa mengetahui siapa saja yang telah menodai Siska dan menjebloskan mereka kedalam penjara"


"Pasti ini takan mudah Ham. Meningat bahwa rumah set*an itu dikelilingi oleh banyak penjaga didalam maupun diluar rumahnya"


"Justru itu Dan. Kita haru tahu dulu dimana saja letak keamanan dirumah baji**ngan itu dan masuk dengan aman tanpa ketahuan. Kita akan menyusun strategi dengan matang agar bisa menjalankan rencana ini dengan mulus"


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan mengerahkan kemampuanku agar bisa menjalankan misi ini dengan lancar. Aku sudah tak sabar ingin melihat wajah para pelaku pelecehan Siska tersiksa dipenjara" ucap Zidan dengan geram.


Disisi lain, Ibu Aisyah dan Nayla yang tengah membuat teh manis hangat untuk mereka tak lepas dari pertanyaan Ibu Aisyah yang membuatnya terkejut.


"Nak, apakah pernikahan kamu dengan Zidan berjalan bahagia?"


"Tentu bu. Aku sangat bahagia bisa menikah dengan Mas Zidan. Mengapa ibu bertanya seperti itu?"


Ibu Aisyah menghembuskan nafas dengan pelan. Sedetik kemudian ia menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Nayla dengan sendu.


"Ibu hanya takut bahwa kau merasakan sakit hati dan terluka lagi seperti sebelumnya. Ibu takut bahwa nak Zidan akan memperlakukanmu dengan buruk, sama seperti Bian"


"Bu, Mas Zidan memang keluarganya Mas Bian. Tapi ia tak sama sepertinya. Dia baik dan sangat perhatian kepada Nayla. Dia sosok imam yang insya allah akan menuntun Nayla menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dua buah yang jatuh dari pohon yang sama tak selalu memiliki rasa yang sama pula. Bentuk dan rasanya terkadang berbeda walaupun dari bibitnya dan pupuknya kualitas yang baik. Contonya adalah buah kelapa, satu pohon akan menghasilkan beberapa buah yang nampak sama dari luar namun beda dari rasa. Ada yang rasa airnya segar dan daging kelapanya yang manis, serta ada juga yang rasa airnya hambar dan dagingnya sedikit keras. Kedua buah itu berada disatu pohon yang sama. Jadi kesimpulannya terkadang silsilah keluarga yang sama atau seseorang yang terlahir disatu keluarga yang sama, tak akan membuat semua orang didalamnya memiliki sifat yang sama. Terkadang faktor luar yang mempengaruhi keburukan yang terjadi pada dirinya ataupun memang sifatnya yang sudah mendarah daging didalam dirinya"


"Ibu hanya khwatir saja Nay, jika Zidan baik hanya diawal saja"

__ADS_1


"Ibu doakan saja supaya Mas Zidan menjadi pria yang sholeh dan bisa menyayangi Nayla sepenuh hati. Ibu percayakan semuanya pada Nay saja. Insya allah Mas Zidan adalah imam yang baik yang telah Allah ciptakan untuk Nayla"


Ibu Aisyah memeluk tubuh putrinya yang kini telah dewasa. Didalam dirinya, Ibu Aisyah selalu saja merasa khawatir bahwa putrinya akan kembali dilukai secara psikis dan fisik oleh orang yang tak bertanggung jawab.


__ADS_2