
Siang berganti sore. Zidan yang baru sampai dikediamannya dikagetkan dengan keributan dari ibu, Siska dan Clara yang ada diruang tamu. Siska terlihat menjambak rambut kakak iparnya yang tengah mencoba meraih Algi dari tangan Ibu Widya.
"Sejak kapan kamu berada dirumah ini hah!? sejak kapan?!"
"Lepaskan rambutku gadis gak tahu diri!" teriak Clara meringis kesakitan.
"Kau enak enaknya ya tinggal dirumah kami! Jal**ng gak tahu diri!" Ucap Siska dengan amarah yang meluap luap.
Zidan berlari menuju Ibu Widya yang sedang menggendong Algi dipangkuannya. Bayi mungil tak bersalah, kini menangis kencang akibat tarikan Clara pada tangan Ibu Widya.
"Mas Zidan juga tahu kok aku tinggal disini!"
Siska menatap Zidan dengan terkejut.
"Mas Zidan?"
"Ya! Mas Zidan tahu aku tinggal disini sejak qku pulang dari rumah sakit gara gara anakmu yang bre*ngsek itu"
Zidan menatap Clara dengan tajam. Tatapan Zidan seakan meghentikan nafas Clara hingga membuatnya langsung menundukan kepala.
"Kenapa mas gak bilang bahwa jal*ng ini tinggal dirumah ?"
"Ku kira kalian juga tahu dan membiarkan wanita pembawa sial ini tinggal dirumahku. Lagi pula apa salahnya jika dia tinggal disini? Kalian yang dulu membawanya kerumah dan sekarang kalian ini wanita yang kalian agungkan ini pergi? "
Siska dan ibu terdiam mendengar perkataan Zidan. Siska dan ibu ingat jelas bagaimana dia ingin sekali Clara serta Algi tinggal dirumahnya agar bisa lebih dekat dengan Algi.
"Aku sangat bodoh! bisa sampai merestui anakku menikahi wanita mura**han seperti dia. Aku menyesal karena telah menganggapmu sebagai anakku dan memberikan tempat yang layak bagi pe****r sepertimu. Sekarang kau pergi dari rumah ini dan biarkan Algi bersama kami!" teriak ibu membuat Clara berjalan kearah nya.
Plak!
Satu tamparan tepat mengenai wajah ibu mertua Clara yang langsung terdiam membeku. Dengan sangat keras, Clara berani menampar ibu mertuanya yang dulu selalu mencurahkan kasih sayang serta kemewahan yang selalu ia dapatkan.
Siska yang melihat perlakuan kasar kakak iparnya pada Ibu Widya, langsung berjalan dan menjambak kembali rambut Clara dengan sangat kencang.
"Set*n kau! Jal**ng! berani beraninya kau menampar ibuku! belum puas kau hancurkan kehidupan keluarga kami? sekarang kau tanpa hati nurani dengan jahatnya memukul ibu mertuamu yang jelas jelas sangat menyayangimu! kau itu sama seperti racun! perlahan lahan menyakiti kami dan perlahan lahan mungkin ingin melenyapkan kami!"
Clara meringis kesakitan akibat rambutnya yang ditarik dengan kencang oleh Siska. Zidan sebenarnya ingin melihat hukuman pada mereka bertiga karena telah berbuat salah pada Nayla selama ini. Namun hatinya begitu sakit ketika melihat Ibu Widya yang sedari kecil merawat serta membesarkannya disakiti oleh orang lain.
Zidan melangkah menuju Siska yang tengah menjambak Clara dan mulai menyeret tubuh Clara dengan sangat kasar.
"Ikut aku !"
Tubuh Clara diseret paksa oleh Zidan dengan cengkaram tangannya yang mulai terasa sangat sakit.
"lepaskan aku mas! sakit!" pekik Clara.
Zidan menarik tubuh Clara menuju kamar belakang dan menghempaskan tubuh Clara diatas ranjang dengan kasar.
Zidan muak melihat wajah Clara berada didalam rumahnya. Diambilnya koper serta memasukan semua pakaian Algi dan Clara masuk kedalamnya.
__ADS_1
"Sekarang kau pergi dari rumah ini dan janganlah pernah datang lagi kerumahku!"
Perkataan Zidan langsung membuat Clara mati kutu dan mulai menatap punggung lelaki dihadapannya seolah tak percaya dengan kata kata yang ia dengar.
"Kamu pasti bercanda kan mas?"
"Untuk apa aku bercanda sama wanita ulat sepertimu! aku sudah muak melihat kelakuannmu yang tak tahu diri dan tak bisa berubah. Sekarang kau pergi dan bawa anakmu! kau tenang saja, aku akan menyewa sebuah kontrakan di pusat kota, hingga kau bisa berkerja untuk menghidupi biaya hidupmu. Untuk urusan pembayaran kontarakan, kau tak perlu khawatir, aku akan selalu membayarnya langsung pada yang punya rumah. Kau bisa bekerja menjadi OB atau apapun terserah kau! yang pasti aku tak ingin melihat wajahmu yang menjijikan!"
Sebagai pria, sebenarnya Zidan tak tega berkata kasar kepada Clara. Namun sakit hatinya melihat Clara menampar Ibu Widya, membuat Zidan murka dan tak dapat menahan emosi. Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan Clara dipinggir jalan ataupun menyiksanya terlebih dahulu. Namun apa bedanya jika dia melakukan hal keji seperti adiknya. Yang jelas , Zidan hanya ingin membuat Clara jera dan memperbaiki hidupnya demi Algi. Setidaknya dengan menyediakan kontrakan untuk Clara dan Algi, Zidan bisa sesekali menatap dari jauh keponakannya dan memberikan keperluan bayi malang tak berdosa itu.
Clara menangis sesegukan memeluk kaki Zidan.
"Mas kumohon biarkan aku tinggal disini. Aku berjanji tak akan ikut campur ataupun menganggu kalian disini. Aku ingin tinggal disni mas. Kumohon" isak Clara tak membuat Zidan merasa iba.
Didalam pikiran Zidan, ia tahu bahwa Clara hanya ingin merasakan kemewahan didalam rumahnya serta menikmati setiap fasilitas yang ada tanpa harus bekerja keras.
Zidan menghempaskan tubuh Clara dari kakainya dan berjalan menyeret koper berisi pakaian Clara dan Algi serta memasukannya kedalam bagasi mobil.
Siska dan Ibu Widya menatap Zidan yang terlihat sangat marah kepada Clara. Hingga detik kemudian, Zidan mengambil Algi yang berada didalam pelukan Ibu Widya dengan perlahan.
"Mau dibawa kemana Algi nak?" tanya ibu.
"Kalian sudah muak kan melihat Clara berada dirumah ini. Jadi akan kubawa dia pergi bersama Algi dari sini agar kalian bisa hidup damai tanpa kehadiran Clara"
"Tapi Algi boleh tinggal disini ko mas" Siska mencoba mengambil Algi dari pangkuan kakaknya.
"Kau ingin memisahkan anak dari ibunya? Algi anaknya Clara sis, dan dia harus menarasakan kasih sayang dari ibunya. Sekarang kau sedang hamil, bagaimana mungkin kau bisa tega memisahkan anak dari ibunya?"
"Kau benar mas. Aku juga tak mau jika nanti anakku diambil dariku. Tapi mas, bagaimana ja**lang itu bisa merawat Algi? sedangkan disini saja, Clara selalu menyuruh baby sitter untuk menjaga anaknya? aku yakin, pasti nanti Algi tak terurus"
"Kau tenang saja. Akan aku adukan nanti ke komnas perlindungan anak jika sampai Clara menyiksa atau menelantarkan Algi"
Clara yang mendengar ancaman Zidan hanya bisa menelan ludah yang terasa begitu sulit.
Zidan berlalu meninggalkan Siska dan ibu menuju mobilnya dengan Algi didalam gendongannya.
Tangis Algi mulai mereda kala berada didalam dekapan Zidan yang membuatnya terasa nyaman. Clara berjalan menuju mobil Zidan dan mengambil Algi dari pangkuan pria bertubuh tinggi dihadapannya kemudian duduk tepat disamping Zidan.
"Ngapain kamu duduk disini? duduk dibelakang!" ucap Zidan ketus.
Clara dengan kesal mulai bangkit keluar dari mobil dan duduk jok belakang.
Sepanjang perjalanan Zidan tak berbicara apapun pada Clara yang jelas jelas tak berhenti menatap Zidan dari kaca depan.
Niat Clara untuk menadapatkan Zidan akan begitu sulit, karena ia kini tak serumah dengan pria kaya didepannya.
Mobil berhenti disalah satu kontarakan sederhana namun terlihat begitu bersih. Zidan berbincang dengan ibu pemilik kontrakan dan Clara hanya menunggu Zidan didalam mobil.
Hingga saat Zidan terlihat memberikan sejumlah uang pada ibu pemilik kontarakan tersebut, Zidan menyuruh Clara keluar dan segera berkenalan dengan pemilik rumah sewaannya.
__ADS_1
"Cepat kau turun dan bersikaplah baik pada ibu itu! dia pemilik rumah yang akan kamu sewa. Aku harap kau bisa berperilaku baik pada semua masyarakat yang ada disini"
"Ya, ya" jawab Clara malas.
Pandangan Clara tertuju pada ibu ibu berdaster yang tengah berkumpul disamping rumah yang akan ia sewa. Tatapannya yang seolah merasa risih pada penghuni sekitar membuat ibu ibu didekatnya mulai berbisik bisik.
" Oh ini ade ipar Mas Zidan? cantik ya" puji ibu pemilik rumah.
Dengan sombongnya Clara mulai mengibaskan rambut yang masih terlihat sedikit kusut akibat jambakan dari Siska.
"Ya iyalah cantik. Aku kan perawatan disalon mahal"
Ibu pemilik rumah hanya bisa tersenyum manis menanggapi ucapan dari Clara. Lain halnya dengan Zidan yang merasa malu karena sikap Clara yang begitu sombong dan terlihat angkuh. Ibu ibu yang sedang berkumpulpun langsung memandang ke arah Clara dan mulai berbisik bisik membicarakan Clara yang terkesan tak punya sopan santun.
Hingga tak lama kemudian Zidan pun pamit dan pergi meninggalkan Clara didepan kontrakan yang ia sewa.
"Kau jangan lupa untuk merwat Algi dengan baik! jika sampai aku melihat Algi tak terurus atau mendengar bahwa kau berperilaku buruk, maka aku tak segan segan untuk membuangmu ketempat sampah dan membawa Algi dengan tuntutan bahwa kau telah menelantarkan anak"
"Iya, iya mas. Aku tahu. Kau tak perlu khawatir pada ku dan Algi. Aku akan merawatnya dengan baik. Dan jika kau rindu padaku kau bisa kesini, pintunya selalu terbuka untukmu mas" ucap Clara manja.
Tanpa pikir panjang Zidan pergi meinggalkan Clara dan Algi menuju mobilnya. Tak lupa, Zidan mencium kening keponakannya yang mulai terlelap.
Dipacunya mobil dengan kecepatan tinggi. Hatinya berkecamuk memikirkan nasib anak malang darah daging adiknya yang kini tak bisa ia awasi. Rasa sayang yang ia miliki untuk Algi datang tanpa sebab dan tanpa alasan. Wajah malaikat kecil yang dulu ia jaga bersama Nayla dirumah sakit, berhasil membuatnya terikat erat dslam suatu hubungan.
*****
Malam pun datang, Zidan yang baru sampai dirumah, berpapasan dengan Anyelir dan Rio yang juga baru sampai dirumahnya.
"Darimana Dan?" tanya Rio ketika melihat Zidan yang akan masuk.
"Aku baru saja mengantar Clara dan Algi pindahan"
"Wah benar? apa ini bukan mimpi Dan? akhirnya ulat bulu itu bisa oergi dari kehidupanmu" Sorak Anyelir dengan girang.
"Nanti aku akan ceritakan alasannya Nye, Rio. Sekarang kalian masuk dulu untuk makan malam. Nanti aku akan buat masakan spesial untuk kalian malam ini"
Zidan melangkah masuk diikuti Anyelir dan Rio dibelakangnya. Ketiganya nampak kaget ketika menuju dapur sebab Siska dan Ibu Widya tengah menyajikan masakan yang banyak untuk mereka.
"Eh kalian sudah sampai? mari makan bersama sama. Ibu sama Siska sudah masak makanan yang spesial untuk kalian" Senyum terukir dibibir Ibu Widya dan Siska. Keduanya terlihat menyambut baik kehadiran Zidan, Anyelir dan Rio.
" Maaf karena sejak kemarin kalian datang kerumah ini, kami tak menemui serta menyambut baik kehadiran kalian. Kuharap kalian megerti kondisi yang saya dan ibu saya alami"
Anyelir menatap Rio dan Zidan bergiliran. Hingga kemudian, dia melangkah mendekati Siska dan Ibu Widya untuk bersalaman dan meminta maaf.
"Maafkan kami saat dipersidangan kemarin" ucap Anyelir menunduk.
"Kalian tak salah apapun. Kami sadar bahwa Bian lah yang salah dan memang di pantas mendapatkan hukuman. Kami waktu itu menangis karena kecewa serta tak pernah menyangka bahwa Bian adalah pembunuh yang sangat ke*ji"
Zidan mulai paham dengan keadaan dimana Ibu serta Siska yang masih berperilaku baik kepadanya dan tak pernah menanyakan mengenai masalah Zidan yang berada dikubu Nayla serta mengungkap kejahatan dari saudaranya sendiri.
__ADS_1
Ternyata benar, jika orang jahat tak selamanya akan berbuat jahat dan orang baik tak selamanya akan baik. Zidan menatap bangga atas kedewasaan serta perubahan yang dialami Siska serta ibunya.