Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Syok


__ADS_3

Awan menghitam dan hujan yang semakin deras membuat suasana begitu mencekam dan tak ada satupun orang yang berada diam diluar ruangan.


Hamdi berjalan dengan perlahan menuju kamar mayat. Terbayang masa masa indah dan menyenangkan sejak kecil bersama Nikita. Tawanya yang renyah serta wajah cantiknya yang begitu indah, membuat hati Hamdi begitu terisi dan sakit. Hancur sudah pertahanannya selama ini. Ia begitu percaya akan keahlian Nikita bela diri. Namun justru ia lupa akan takdir yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta bahwa Nikita hanyalah manusia biasa yang tak bisa mengelak akan kematian yang sudah saatnya.


Rasa sakit dipunggungnya tak seberapa dibandingkan sesaknya dada kala mengetahui kenyataan bahwa Nikita telah meninggalkannya. Ia merutuki dirinya yang begitu ceroboh membiarkan Nikita melawan para penjahat sendirian.


Air matanya mengalir seiringan dengan langkah kakinya menyusuri lorong rumah sakit. Tubuhnya terpaku menatap tulisan terpampang jelas dihadapannya kini.


"Sekarang kau tidur disini sendirian Nik" gumamnya pelan.


Tak ada seorang pun penjaga yang bertugas disana. Hamdi berjalan melewati pintu dengan langkah gontai. Ia menarik nafas dalam dalam seraya mulai memajamkan mata berusaha kuat ketika menatap wajah sahabat sekaligus keluarganya.


Terlihat banyak sekali brangkar berjejer disana tanpa adanya tubuh kaku tidur disana. Hanya ada satu brangkar yang terlihat dipakai oleh tubuh kaku seseorang yang sudah dapat Hamdi dipastikan bahwa itu adalah jasad Nikita.


Perlahan lahan Hamdi berjalan mendekati tubuh Nikita yang saat ini diam membisu. Kakinya begitu berat untuk melangkah dan bibirnya begitu kelu ketika berhadapan dengan Nikita saat ini.


Dibukanya pelan kain putih yang menutupi jasad tersebut. Hingga saat terlihat wajah cantik seseorang yang sangat ia kenali sontak saja membuat bulir bening menetes pelan dipelupuk mata Hamdi.


"Ku kira kau akan menjadi orang pertama yang kulihat saat terbangun Nik. Namun kau justru tidur disini sendirian tanpa mau menjegukku" Hamdi tertawa pelan dengan air mata yang tak hendi henti keluar.


"Mengapa kau diam saja Nik? apakah kau marah karena aku pingsan dan membiarkanmu sendirian disana? tubuhmu begitu dingin. Apakah kau sakit? aku akan mengambilkan baju bagus untukmu nanti. Tapi kumohon bangunlah dan segera marahiku dengan kata kata kasarmu itu" Hamdi menyeka air matanya dan mulai berjalan mencoba mengajak Nikita.


"Kau begitu marah padaku sampai kau tak menanggapi setiap ocehanku. Ku mohon cepat bangun dan pukul wajahku Nik. Cepat!"


Hamdi yang merasa hancur hanya bisa mengoceh tak dapat menerima kenyataan pahit ini.

__ADS_1


"Badanmu dingin karena demam akibat sering memakai pakaian terbuka. Nanti jika kau bangun aku akan membelikanmu banyak gamis agar kau seperti Nayla yang sehat dan masih bisa menemani Zidan saat ini"


"Bangun cepat Nik! aku tak bisa melihatmu seperti ini! Cepatlah!"


"Ahhhhkkkkkkk!!!"


Hamdi yang frustasi berteriak dan mengacak rambutnya kasar. Tak sampai disitu ia kemudian mendekat kearah Nikita dan mencoba membangunkan Nikita namun usahanya sia sia. Nikita yang sudah tak bernyawa hanya terdiam mendapatkan perlakuan dari Hamdi.


Tubuh Hamdi terkulai lemas dan terduduk dilantai dingin. Air matanya begitu deras mengalir sebab hatinya begitu terasa teremas mengetahui Nikita meninggalkannya dengan cara seperti ini.


Hamdi terduduk diatas lantai meratapi kematian Nikita. Dirinya yang begitu keras kini sangat lemah ketika harus dihadapkan pada kematian sahabatnya tersebut.


"Kau begitu mencintai pria itu selama ini. Tapi kau tak mampu bertahan untuknya. Kumohon bernafaslah kembali. Aku akan membawanya kehadapanmu dan membuatnya menikahimu"


Hamdi begitu ingin melihat Nikita tersenyum bahagia seperti saat Nikita menceritakan pria beruntung yang selama ini menjadi tambatan hati sahabatnya tersebut.


Hamdi bahkan tak tahu bahwa dirinyalah yang menjadi pria yang sangat dicintai Nikita sampai ia mati. Nikita rela mengorbankan nyawanya demi membantu Hamdi melakukan misi keadilan untuk Siska. Cinta Nikita yang begitu dalam untuk Hamdi membuatnya rela melakukan apapun demi membuat sang pujaan hati tersenyum bahagia bersama cintanya meskipun bukan dirinya sendiri.


Selain rasa cintanya yang begitu besar. Nikita juga keinginan untuk membalas setiap perlakuan baik yang dilakukan Hamdi serta neneknya dulu saat ia masih kecil. Pukulan yang ia terima dari ayah serta ibu tirinya begitu membuatnya terluka, hanya Hamdi dan neneknya lah yang menjadi obat semua rasa sakitnya.


*****


Pintu terbuka pelan, Zidan dan Nayla melihat tubuh Hamdi terduduk dengan memeluk lututnya. Tak dapat dipungkiri, bahwa saat ini Hamdi terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk. Namun Zidan serta Nayla paham begitu hancurnya Hamdi saat mengetahui sepupunya meninggal dengan cara seperti ini ketika membantunya mengetahui siapa para pelaku pelecehan yang Siska alami.


"Ham" ucap pelan Zidan yang sat ini tengah dipapah oleh Nayla.

__ADS_1


Tanpa menoleh sedikitpun Hamdi bergumam dan tersenyum sendiri melihat keadaannya.


"Dan kau tahukan, sejak dulu aku sering menangis. Oleh sebab itu aku berubah jntuk menjadi lebih tegar karena mu. Tapi hari ini, aku kembali menangis Dan karena Nikita. Dia telah membuatku lemah Dan. Dia sangat jahat. Dia marah padaku karena kutinggalkan dia sendirian disana. Dia bahkan tak mau menjawab setiap pertanyaanku dan tak mau melihatku. Dia sangat marah Dan. Tolong bantu aku agar Dia mau melihat ku dan menatapku dengan matanya yang meneduhkan itu. Kumohon"


Nayla yang ikut merasakan kesedihan hanya bisa meneteskan air mata dan terdiam melihat pemandangan didepannya.


"Nay, apakah kau tahu, bahwa Nikita sedang jatuh cinta pada seorang pria bodoh. Pria itu benar benar sangat bodoh karena mengabaikan wanita baik sepertinya. Penampilan sepupuku memanglah sangat tak baik, namun hati serta pemikirannya sudah cukup mampu membuat siapapun pasti akan mencintainya jika tahu dia berhati malaikat. Nay, apakah kau tahu siapa pemuda beruntung yang Nikita cintai? apakah dia tahu bahwa orang yang selama ini mengaguminya telah pergi dan takan pernah kembali? aku harus berkata padanya bahwa ia sangat bodoh"


*****


Disisi lain, saat ini Andi, Frans beserta ayahnya sedang berada didalam ruangan introgasi. Para polisi kini tengah mencecar ketiganya diruangan masing masing agar tak ada kebohongan ataupun rencana yang akan mereka susun mengenai kejadian yang telah terjadi.


"Apa yang anda lakukan pada nyonya Nikita hah?!" tanya salah satu petugas yang sontak saja membuat nyali Frans menjadi ciut sehingga dirinya tak mau menatap mata petugas.


"Sa..saaya hanya mencoba melakukan perlawanan pak"


"Apakah korban melakukan pemukulan atauphn penyiksaan terhadap anda sehingga anda membunuhnya menggunakan senjata?"


"Ya..ya pak dia mencekik leher saya sehinga saya benar benar akan mati"


"Ck. Alasan. Jika pun benar dia mencoba melukai anda, lalu apakah mungkin jika seorang wanita mencoba melukai anda dihadapan para pengawal serta ayah anda sendiri?"


___________________


Andi yang saat ini masih syok dengan kejadian yang menimpa Nikita, hanya bisa mentap kosong kearah depan dan menjawab semua pertanyaan polisi dengan sebutuhnya saja.

__ADS_1


Entah mengapa ia begitu bersalah atas kematian Nikita yang jelas jelas menyelamatkan nyawanya dari peluru yang meluncur tepat dihadapannya. Bahkan dia tak tahu siapa sebenarnya Nikita yang sudah rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya.


__ADS_2