Pernikahan Suamiku

Pernikahan Suamiku
Berpisah


__ADS_3

Trauma masa kecil yang Hamdi derita cukup membuatnya menjadi orang yang begitu introvert terhadap dunia luar. Ia hanya memiliki teman dekat sampai sekarang yaitu Zidan sehingga ketika dengannya ia pun tak merasa segan sebab telah menjadikannya sebagai sandaran hidup.


Namun hubungannya dengan Siska selalu saja diterpa masalah yang rumit hingga ia pun mulai muak dengannya yang selalu saja tak mau kalah dan egois.


Kini mobil yang ditumpangi Zidan serta Siska teah sampai di depan villa mewah milik Hamdi. lampu lampu yang menyala tak membuat warga sekitar curiga akan situasi yang terjadi di dalamnya , hingga saat kedua orang itu masuk, mereka terpana melihat kondisi Hamdi yang tampak pucat dengan senyumannya yang begitu lemah.


"Kurasa kita harus akhiri hubungan kita Sis. ini yang terbaik dan pasti jalan yang terbaik" lirih Hamdi dengan pelan.


Siska hanya bisa diam mematung di ambang pintu dan mulai berjalan mengecek kondisi pria yang selama ini selalu ia ragukan.


"Apa yang kau lakukan Ham?! apa?!"


Siska dan Zidan mulai khawatir dengan kondisi Hamdi yang semakin melemah.


keduanya langsung membopong tubuh pria itu dan memasukannya kedalam mobil yang sudah terparkir. Tanpa adanya percakapan diantara Zidan ataupun Siska, Hamdi justru terus saja mengerang dan mengeluarkan banyak sekali keringat dingin.


Hampir satu jam Zidan membawa Hamdi menuju rumah sakit hingga kini mereka pun telah tiba dan segera membawa memanggil para perawat untuk segera menangani Hamdi yang semakin melemah.


"sus! suster tolong!" pekik Siska dengan kencang.


Para perawat yang sedang berada di depan lobi rumah sakit segera membawa tubuh Hamdi menggunakan blankar dan memasukannya menuju ruang gawat darurat.


Siska dan Zidan hanya bisa terdiam menatap ke arah pintu yang perlahan mulai tertutup dengan perasaan yang kacau dan kepanikan. Bahkan Siska tak hentinya menangis dan juga merasa bersalah pada pria yang selama ini berjuang untuknya sebab telah meragukan kesetiaan yang selama ini Hamdi miliki untuknya.


"aku egois! aku memang bukan wanita yang tepat untuknya mas" Siska terisak didalam pelukan Zidan.

__ADS_1


Diambilnya ponsel di dalam saku celana dan mulai menelpon Nayla di dalam ruangan tempat ibunya dirawat saat ini. untuk memberitahukan keadaan Hamdi yang semakin memburuk.


"Hallo Nay" ucap Zidan tanpa mengucapkan salam seperti biasanya.


"Apa ada hal yang buruk terjadi mas?" tanya Nayla dengan khawatir.


"Hamdi mencoba mengakhiri hidupnya Nay. Depresi yang sempat ia idap kembali kambuh dan membuatnya berbuat nekat seperti ini"


Nayla menutup mulut meras tak percaya dengan apa yang ia dengar. Wanita itu lantas menatap tubuh Ibu Widya yang sudah pulih dan perlahan mulai bangkit dari tempat tidur.


"Ada apa Nay?" tanya Ibu Widya dengan lirih.


Kesehatan dari wanita paruh baya itu baru saja kembali pulih sehingga tak mungkin jika Nayla katakan yang sebenarnya terjadi pada calon menantunya tersebut.


Zidan yang mendengar suara sang ibu segera terdiam dan mulai mengalihkan pembicaraan.


"Ku tahu ibu saat ini sedang bangun, jadi kamu harap terus berhati hati agar ia tak mendengarkan kabar buruk tentang Hamdi. Oh ya Nay, kapan ibu bisa pulang?"


"Ibu bisa pulang malam ini juga mas"


Zidan kembali memutar otak dan memiliki ide untuk membuat sang ibu tak mengetahui kabar tersebut.


"Sekarang kamu telepon saja supir dan pulang bersama ibu. Kamu jaga saja ibu dan juga Cleo, nanti aku pulang jika semuanya telah membaik"


Nayla menganggukan kepala merasa setuju dengan rencana yang Zidan buat untuknya.

__ADS_1


"Ya sudah aku tutup telponnya ya. jaga diri baik baik sayang"


************


Dua hari berlalu begitu dengan cepat. Kini kondisi Hamdi sudah membaik namun rasa di hatinya telah berubah drastis pada Siska yang selama ini selalu jadi prioritasnya.


Selama dua hari ini Siska selalu datang dan masuk kedalam ruangan tempat Hamdi dirawat, namun tak sekalipun pria itu tersenyum ataupun berbicara dengannya. Sehingga membuat Siska dan Zidan canggung.


"Siska" panggil Hamdi pelan ketika melihat Siska akan berjalan menuju luar ruangan.


Wanita dengan rambut terurai itu pun lantas berbalik dan menatap Hamdi penuh dengan harapan.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Siska menganggukan kepala dan mulai duduk di kursi dekat tubuh Hamdi terbaring.


"Terimakasih karena sudah Melawati banyak hal bersamaku dan menerimaku menjadi sosok ayah bayangan untuk Cleo. Aku tahu ini terlalu rumit dan terlalu sulit untuk kita jalani. Semua trauma dan depresi yang pernah aku alami sejak kecil, sekarang membuatku menjadi seorang pria yang lemah dan juga pengecut. Kamu wanita baik dan aku tahu pasti banyak pria yang mau denganmu selain aku. Kau pasti tahu arah pembicaraanku saat ini kan?"


Siska tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut orang yang selama ini mau melakukan untuknya.


"Aku ingin kita berpisah"


Tessa


Setetes bulir bening meluncur begitu saja dari kelopak mata indah Siska ketika mendengar kata perpisahan yang Hamdi lontarkan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2