
Pukul 21.00 malam. Akhirnya Nayla sampai dikediamannya yaitu panti asuhan Bunda Aisyah. Wanita dengan gamis biru yang lusuh dan kotor turun dari mobil dengan perasaan syukur karena dapat kembali berkumpul dengan sang ibu tanpa luka serta kehormatan yang masih terjaga.
Ibu Aisyah yang sedari tadi sore khawatir hanya bisa berdoa bersama anak anak panti lainnya agar Nayla bisa selamat tanpa terjadi sesuatu hal buruk apapun padanya.
"Assalamualaikum ibu" ucap Nayla seraya mengetuk pintu rumahnya.
Langkah kaki yang terdengar keras dari dalam membuat Nayla tersenyum.
"Waalaikumsalam nak. Kamu baik baik saja sayang"
Ibu Aisyah langsung memeluk serta mencium seluruh wajah putri yang sangat ia sayangi tersebut. Rasa sayang tanpa batas pada Nayla membuat Ibu Aisyah menganggap Nayla serta seluruh anak dipanti asuhannya sebagai anak kandung.
"Alhamdulillah bu, Nayla baik baik saja. Maa Zidan, Pak Amar dan Hamdi sudah menolong Nayla tepat waktu. Ini juga berkat doa ibu yang tiada henti dipanjatkan kepada Allah untuk keselamatan Nayla"
Ibu Aisyah menangis terharu karena bisa melihat putrinya pulang dalam keadaan baik baik saja.
"Nak Zidan terimakasih banyak karena telah menolong Nayla"
"Sama sama bu. Ini sudah tanggung jawab saya untuk menolong Nayla. Ibu memberikan amanat untuk saya mencari Nayla dan saya melaksanakan kewajiban saya untuk menepati amanat ibu. Apapun yang terjadi pada Nayla sudah menjadi tanggung jawab saya bu, saya bahkan rela melakukan apapun untuk Nayla walaupun nyawa saya taruhannya"
"Mas, jangan bicara seperti itu" potong Nayla cepat.
Zidan hanya bisa tersenyum seraya melihat kearah Nayla.
"Sekarang kalian masuk dan bersihkan dulu tubuh kalian. Nak Zidan juga bisa menginap dulu disini dan tidur bersama anak anak lelaki"
"Baik bu"
Zidan dan Nayla kini masuk kedalam panti dan menuju kamar masing masing. Nayla membasuh tubuhnya yang terasa lengket karena keringat dengan air yang mengalir ditubuhnya. Tak terasa ia meneteskan air mata haru, karena sudah mendapatkan kasih sayang berlimpah dari orang orang disekitarnya.
Dipikirannya saat ini hanya berisi tentang Zidan serta Asti. Disatu sisi ia sangat senang dengan perhatian serta perlakuan Zidan padanya. Namun disisi lain ia juga merasa sedih serta kecewa kepada Asti karena tega berniat jahat padanya. Yang jelas Nayla sangat kasihan pada kondisi Asti saat ini.
*****
Mentari pagi menyinari panti asuhan Bunda Aisyah. Zidan yang sudah rapih menggunakan kemeja putih milik mendiang suami Ibu Aisyah kini mematut dirinya dicermin.
"Tampan" gumam Zidan dengan pelan.
Anak anak panti yang sudah siap sejak subuh bersamanya tadi, kini menunggu dirinya dimeja makan. Terlihat hidangan sederhana yang dimasak Ibu Aisyah dan Nayla tampak menggugah selera.
Sama seperti Nayla yang sudah menggunakan gamis hijau nampak mempesona dimata Zidan saat ini.
"Sekarang kita berdoa dulu sebelum makan. Ayo nak Zidan mulai" ucap Ibu Aisyah membuat Zidan seketika gugup.
^^^"بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ ,"^^^
__ADS_1
...اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ...
“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.”
Artinya: "Ya Allah berikanlah keberkahan apa yang telah engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka."
Semua anak tampak senang dan bersyukir dengan makanan yang mereka santap pagi ini. Zidan yang mengunyah makanan tak henti hentinya menatap kearah Nayla yang kini tengah menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Hingga saat Ibu Aisyah tak sengaja melihat kearah Zidan, ia batuk untuk menyadarkan Zidan agar tak memandang kearah Nayla.
Senyuman Zidan terpancar dari wajahnya pada Ibu Aisyah yang membalas senyumnya.
"Jadi kapan kalian menikah?" ucap Ibu Aisyah tiba tiba.
"Uhuk..uhukk" suara batuk keluar dari mulit Zidan dan Nayla bersamaan.
"Cie" seru anak anak dengan keras membuat Nayla salang tingkah.
"Kalian kenapa? cepat minun dulu"
Diambilnya air didalam gelas oleh Zidan dan segera meneguknya sampai tandas. Tangan yang gemetar dari Zidan Dan Nayla membuat Ibu Aisyah tersenyum melihat kelakuan dua insang didepannya.
"In Sya Allah minggu depan bu saya menikahi Nayla. Kalo gak minggu mungkin senin"
Nayla menatap tajam kearah pria didepannya. Entah itu nyata atau hanya gurauan saja. Yang pasti saat ini Nayla begitu malu menjadi bahan candaan Ibu Aisyah serta Zidan.
"Hahaha, iya bu aku serius. Tapi mungkin aku akan membicarakannya dulu dengan ibu serta Siska. Karena mereka juga harus tau mengenai kabar baik ini. Ayah mungkin takan datang dan takan pernah sudi datang keacara nanti sebab kebusukannya yang dulu sudah membuatnya malu"
"Jangan seperti itu nak. Kita ajak dia bicara baik baik. Walaupun ia menolak untuk menghadiri acara kalian nanti, tapi setidaknya kamu sebagai anak harus tetap memberitahu kabar baik ini. Ngomong ngomong bagaimana kabar ayahmu sehat?"
"Alhamdulillah bu sehat. Ayah sekarang sedang sibuk mengurus pabrik yang baru saja dirintis, sebab dulu kami membuat perjanjian mengenai perushaannya yang hampir bangrut sehingga ku tukar dengan pabrik tersebut"
"Oh iya, tapi sekarang ayah dimana mas?"
"Ayah saat ini berada di kota tempat pabrik itu berada, dan aku pun enggan bertemu dengannya sebab ia tak pernah mau diajak bicara"
Nayla mengangguk nganggukan kepala tanda mengerti.
*****
Hari ini Nayla sudah siap untuk mengajar kembali. Kejadian kemarin tak membuatnya lelah apalagi trauma sebab saat ini semangatnya adalah anak anak didiknya.
"Bu, Nayla pamit dulu ya. Nanti Nayla pulangnya akan sedikit terlambat karena mau pergi menjenguk Asti dulu"
"Sebaiknya jangan nak. Ibu khawatir dia akan melakukan hal buruk lagi padamu"
__ADS_1
"Aku akan menjaga Nayla bu, jangan khwatir. Hari ini kebetulan aku tak masuk kerja sebab akan membicarakan kabar bahagia lamaranku pada keluargaku"
"Ya sudah kalau begitu. Kalian hati hati. Ibu harap nak Zidan mampu menjaga Nayla dengan baik. Ibu titipkan dia padamu"
"Iya bu. Sekarang kami berangkat dulu ya, Wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Zidan dan Nayla kini pergi kesekolah dasar tempat Nayla mengajar menaiki mobil merah miliknya. Sepanjang perjalanan Zidan tak henti hentinya mentatap Nayla yang kian hari kian cantik.
" Kenapa lihatnya seperti itu?" ucap Nayla dengan pipi yang bersemu merah.
"Aku hanya ingin menatap masa depanku saja"
"Sekarang kita ada dijalanan mas. Fokus saja menyetir jangan bahayakan keselamatan orang banyak"
"Iya, iya, calon bidadari syurgaku"
Mobil menembus jalanan yang ramai dengan kendaraan berlalu lalang. Hingga akhirnya mereka sampai di halaman sekolah.
Nayla berjalan dengan diikuti Zidan disampingnya.
"Nay aku tunggu kamu di taman sekolah. Jika sudah selesai mengajar temui aku disana"
"Iya mas. Aku pamit dulu. Wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Nayla berjalanan menyusuri koridor sekolah dengan perasaan hati yang mulai sedikit tenang. Para guru menyambut hangat Nayla dikantor karena mendengar kejadian kemarin sore yang dilakukan Asti dari Amar.
"Alhamdulillah Bu Nay baik baik saja" ucap Nadia seraya memeluk Nayla.
"Alhamdulillah"
Semua guru kini memeluk Nayla kecuali para guru pria termasuk Amar yang hanya tersenyum kearahnya.
"Untung saja wanita gila itu gak bikin calon istri Pak Amar kenapa kenapa" sambung Nadia.
"Maaf bu, Bu Nayla adalah calon istri orang lain"
Nadia langsung terdiam begitu pula semua guru guru diruangan tersebut.
Bel masuk mulai berbunyi keras membuat seluaruh guru bubar untuk bersiap siap mengajar dikelasnya masing masing.
"Maafkan saya pak" ucap Nadia pelan.
__ADS_1
"Tak apa bu"
Nadia berjalan beriringan bersama Amar menuju kelas. Perasaan bersalah menyelimuti hati Nadia kala tak sengaja menyebut bahwa Nayla adalah calon istrinya Amar. Saat ini pasti Amar sedang merasa malu karena ulahnya.