
Naura memanglah cantik. ia juga tampak sangat perhatian dan juga baik. Siska merasa kagum dengan apa yang dimilki hadis itu terlebih lagi saat ini orang yang masih sangat ia cintai, telah dekat dengan wanita di hadapannya.
"Kalau boleh tahu namanya siapa ?" tanya Naura pada Siska.
"Namanya Cleo mbak" jawab Siska dengan datar.
"wah lucunya, bagus ya namanya. mudah mudahan nanti aku juga punya bayi seperti putramu yang tampan ini"
Ibu Widya lantas bergurau tentang calon yang Naura miliki untuk menambah kesan kekerabatan diantara mereka. Sebab Ibu Widya tahu bahwa Naura adalah klien bisnis putranya yang sangat berpengaruh.
"Amiin, semoga saja kamu bisa cepat memberikan undangan pada kami ya. Anggap saja kami ini keluarga kamu Naura. oh ya, siapa calonmu itu jika ibu boleh tahu"
Naura tampak tersipu malu mendengar ucapan dari wanita paruh baya di sampingnya. Wanita itu lantas melirik Hamdi yang tengah tertawa bersama Zidan di ruang tamu dan memintaku jarinya merasa gugup
"Calonnya udah ada disini Bu. mudah mudahan dia juga suka sama saya. Dia teman saya pas masih kuliah"
Ibu Widya mengerutkan kening kerasa tak tahu siapa yang sebenarnya wanita itu bicarakan.
"Memangnya kamu pernah bersekolah dengan salah satu tamu disini? perasaan tamunya kebanyakan bapak bapak" celetuk Ibu Widya dengan pelan.
"ah ibu bisa saja. Tentu orang yang saat ini dekat dengan saya masih muda Bu. Dia tampan dan juga baik. saya sangat suka sama dia semasa sekolah dulu. Hamdi sudah sejak dulu berteman dengan saya. Namun dia sangatlah dingin Bu, baru kali ini saja dia akrab dan bertemu lagi sama saya"
Deg
seketika Ibu Widya terdiam. Entah kenapa kali ini ia merasa sangat menyesal sudah terlalu dekat orang asing yang dibawa oleh sang putra ke rumahnya. Andai saja ia tahu bahwa Naura sedang dekat dengan Hamdi, maka ia Takan pernah menanyakan hal itu tepat di depan sang putri yang saat ini masih belum bisa melupakan mantan tunangannya itu.
"Siska permisi dulu mau ke kamar. Cleo sepertinya sudah mengantuk " Siska lantas berjalan pergi meninggalkan semua orang dengan perasaan yang sangat hancur.
wanita itu bahkan tak bisa menahan tangisnya, hingga saat ia berpapasan dengan Hamdi, ia menatap manik indah Hamdi yang selama ini selalu meneduhkan untuknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Sis?" tanya Hamdi dengan khawatir.
Wanita itu hanya menggelengkan kepala dan mulai menghapus air matanya yang jatuh begitu saja.
"aku baik baik saja, mataku hanya kelilipan debu"
Siska bergegas pergi menaiki anak tangga, meninggalkan Hamdi yang masih diam mematung dengan perasaan yang tak karuan.
setelah berakhirnya hubungan diantaranya dan juga Siska, Hamdi merasa dirinya sangat jauh dengan Siska bahkan hanya untuk sekedar bertegur sapa. Pria itu sadar semua ini perhari akibat ketidak berdayaannya sendiri yang tak bisa menghilangkan rasa trauma dan juga stres yang ia idap selama ini. Namun, ia selalu berharap bahwa dirinya dan buah Siska masih bisa berteman seperti sebelumnya.
Ibu Widya menatap Nayla dengan perasaan gusar. ia benar benar tak tahu bahwa Naura mencinta Hamdi, yang tak lain adalah pria yang putrinya sangat cintai.
Hamdi berjalan mendekati Naura, Nayla dan juga Ibu Widya yang saling diam satu sama lain.
"Ra, apa berkasnya sudah kamu tanda tangani?" tanya Hamdi pada Naura.
"tentu saja sudah Hamdi. Aku kan sejak kemarin menunggu kamu mengambil berkasnya di rumahku"
Hamdi yang mendapatkan tatapan dari Nayla dan Ibu Widya sontak saja merasa risih dengan tindakan yang Naura lakukan. Dan mencoba melepaskan genggaman tangannya.
"Yu kita kesana lagi Ham. Pengajiannya mau dimulai, iya kan Bu, mbak?"
Tanpa basa basi, Naura menarik tangan Hamdi dengan kencang menuju ruang tamu sehingga Zidan yang saat ini sedang berbincang dengan tetangganya langsung terdiam melihat aksi romantis yang Naura dan Hamdi lakukan.
"Baiklah mari kita mulai pengajian ini dengan membacakan bismillah bersama sama. Bismillahirrahmanirrahim"
******"*****
Siska terdiam. Ia menatap nanar pada sekeliling ruangan kamarnya seraya mengingat semua momen indah bersama dengan Hamdi. Ia tahu semua kejadian ini adalah karena ulahnya sendiri yang tak pernah percaya dengan kesetiaan yang Hamdi miliki.
__ADS_1
Siska benar benar tak bisa meluapkan amarah yang ia simpan selama ini. Hidupnya telah hancur dan semua ini karena takdir yang tak pernah berpihak padanya.
Siska tak bisa terus terpuruk dalam situasi ini dan akan berusaha merelakan Hamdi untuk wanita lain, wanita yang pantas untuk pria itu miliki tak seperti dirinya.
Dihapusnya dengan kasar, air mata yang sejak tadi mengalir deras. Dan mulai melangkahkan kaki menuju ruang tamu untuk ikut serta dalam pengajian yang sudah dimulai.
****************
Malam ini, Siska menatap bulan yang bersinar cukup terang dari balkon kamarnya seraya mulai mencoba melupakan semua kejadian buruk yang telah menghancurkan masa depannya.
Hatinya harus kuat, dan pikirannya juga harus bisa lebih terbuka dengan kedaan yang tak mungkin berubah hanya karena dirinya hancur secara terus menerus.
Kini tujuan hidupnya hanya satu, yaitu membahagiakan sang buah hati agar tak seperti dirinya yang mengalami banyak sekali kegagalan, baik dalam hidup maupun cinta.
Dipandanginya sang rembulan yang berbentuk bulat sempurna, hingga tanpa sadar sekelebat bayang bayang indah masa lalu di sekolahnya mulai muncul kembali di dalam benaknya.
"Apa aku bisa kembali bersekolah dan melanjutkan hidupku agar menjadi lebih baik?"
.Siska bergumam dengan pelan seraya duduk diatas bangku putih yang ada di dekat pagar balkon.
"Apa aku bisa kembali bersekolah dan melanjutkan studiku yang sebelumnya tertinggal?"
Siska segera berlari menuju meja belajar yang masih ada di dalam kamarnya dan segera membuka laci untuk mengambil benda pipih yang selama ini tak pernah ia gunakan setelah kejadian mengerikan tempo lalu.
"kurasa aku bisa menata hidupku kembali dan bersekolah di tempat baru, yang tentunya tak ada satupun yang tahu tentang kejadian pelecehan yang aku alami sebelumya" Siska tersenyum ketika membayangkan indahnya masa masa bersekolah dulu bersama teman temannya.
Kini tekad wanita itu sudah bulat. Ia ingin kembali bersekolah untuk menata hidupnya lebih baik demi buah hati yang tak pernah ia harapkan sebelumya.
"Aku akan belajar lebih giat lagi dan menjadi ibu muda sukses agar Cleo Takan malu jika terlahir dari rahim seorang ibu sepertiku. Aku berjanji akan memberikan kehidupan yang layak dan membagi waktu belajarku dengan waktu untuknya tanpa membebani siapapun nantinya. Doakan ibu anakku sayang" Siska membelai wajah sang putra dengan perlahan dan menghujani wajah mungil itu dengan banyak kecupan.
__ADS_1