
Santi masih menunggu kedatangan Agus, tapi sampai larut malam Agus tak kunjung menghubunginya.
Assalamualaikum. Santi ini Nomor aku, Edgar.
Pesan singkat itu datang dari edgar teman lamanya.
Mereka mulai chatingan membahas masa lalu dan Santi menyadarinya bahwa ini tidak baik, ia sadar dirinya telah menikah dan sudah mempunyai anak, ia tidak bisa begitu terbuka dengan laki-laki yang bukan mahramnya, apalagi membicarakan masalah keluarganya.
Akan tetapi edgar selalu memancing Santi untuk menceritakan segala hal padanya.
Rupanya edgar masih menyimpan perasaan pada Santi. Buat edgar status Santi saat ini bukanlah masalah baginya.
Nanti malam kutunggu di cafe kemaren ya.
Pesannya lagi.
Santipun meng-iyakannya,
Di kamar Zihan, Agus memantau WhatsApp Santi yang online sampai berjam-jam menurut Agus ini tidak seperti biasanya, tapi Agus juga enggan untuk menanyakan pada Santi.
Saat Santi lagi berjemur dengan anak sulungnya juga papa mertuanya, Agus datang dan langsung menanyakan pada Santi ia chat dengan siapa sampai larut malam.
"Bukan urusan mu mas," ucap Santi yang masih kesal dengan suaminya.
"Dari kemaren kamu kemana saja, aku tungguin kamu tidak datang-datang, sampainya di rumah aku tanya baik-baik malah jawabanmu marah dan membentak aku mas. Langsung pergi lagi." Ucap Santi.
Agus menarik tangan Santi dan membawanya ke kamar.
"Tidak baik kamu marah-marah di depan anak kecil, ada papa aku lagi."
"Kan kamu yang duluan nanya mas,"
"Ya sudahlah terserah kamu. Aku memang selalu salah dimata kamu!" Ucap Agus dengan nada kesal dan melepaskan tangan santi dengan kasarnya.
Siang ini Santi sudah rapi dengan style hijab kekinian, ia memarkirkan motornya dan tiba-tiba saja ia diberhentikan mamanya.
"Santi kamu mau kemana? Rapi banget!" Ucap mama sewot.
"Mau ketemu temen ma." Jawab Santi datar.
"Temen apa temen?" Tanya mama mengintrogasi.
"Temen ma! Memangnya kenapa ada yang salah?" Tanya Santi.
"Tidak ada sih, cuma kalau itu selingkuhan kamu mama senang banget."
__ADS_1
"Maksud mama apa?"
"Ya kamu bakal cerai lah, bakal ninggalin Agus dan hidup mama jadi damai karena tidak ada kamu, dasar tidak tahu diri!" Ucap mama dan pergi berlalu meninggalkan Santi.
"Sabar. sabar." Ucap Santi sambil mengelus dadanya.
Santi merasa sedih apa yang harus di lakukkannya, dari ipar yang tidak pernah baik padanya, mama juga apalagi suami yang semakin hari semakin cuek bahkan sekarang lebih sering membentaknya.
Berniat pisah tapi sayang pada tumbuh kembangnya el nanti, Santi takut kalau el tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang utuh.
Sesampainya di cafe terlihat Agus dan Zihan sedang makan siang bersama, dengan sombongnya Santi melewati meja makan mereka dan lurus menuju edgar yang telah menunggunya, mata Agus dan juga Zihan tak berkedip maupun berpaling.
Agus terheran melihat istri pertamanya makan siang bersama laki-laki yang kemaren lagi.
Hati Agus menggebu menahan amarah yang ingin meledak. Tapi ia tidak bisa memarahi Santi di tempat umum seperti ini dan juga di depan istri keduanya.
Jarak mejanya tak terlalu jauh membuat Agus maupun Zihan bisa mendengar ketika mereka mengobrol, suara Santi yang sengaja ia kencangkan supaya suaminya bisa mendengar apa yang ia bicarakan.
Santi dan edgar mereka teman lama jadi apa saja yang mereka bicarakan selalu nyambung dan juga tidak monoton, mereka tertawa-tawa dan merasa bebas.
Tap!!
Tangan Edgar memegang tangan Santi dan sontak saja Santi menariknya kemudian melihat ke arah suaminya.
Edgar dan Santi saling menatap, tangan Edgar kembali meraih tangan Santi dan mengucapkan betapa beruntungnya ia bila di terima cintanya.
Santi tercengang mendengar kata-kata itu, ia tidak menyangka temannya akan mengambil keputusan yang begitu cepat.
"Kita cukup menjadi teman saja ya Ed," ucap Santi tersenyum ragu.
Preng!
Sebuah piring terjatuh secara sengaja oleh Agus, dan Agus segera bangkit dari kursinya melangkah menuju meja Santi dan menarik tangan istrinya itu.
"Mba. Tolong rapikan ini ya," ucap Zihan kepada pelayan dan langsung pergi menyusul Agus juga Santi.
Edgar masih duduk kaku di kursinya, setelah melihat Santi di bawa pergi.
"Jadi aku deh yang harus naik ojek." Ucap Santi ketika melihat Agus telah membonceng Santi pulang menggunakan motor miliknya.
"Mau kamu apa!" Bentak Agus ketika sudah sampai rumah.
"Mau aku kamu juga perhatian sama aku mas,"
"Perhatian bagaimana lagi! Bukankah selama ini aku selalu adil terhadap kalian berdua?" Bentak Agus lagi.
__ADS_1
"Kamu hanya perhatian sama Zihan, dan sering kali menganggap aku ini tidak ada. Sudahlah mas ga usah di bahas lagi percuma, Santi juga mengungkit masalahnya itu lagi itu lagi kok."
"Papa lihat-lihat sepertinya kalian sering sekali berantem," ucap papa tiba-tiba datang dari belakang dan menepuk punggung Agus.
Mereka berdua saling sharing dan terganggu dengan datangnya Zihan yang marah-marah juga akibat di tinggal sendirian di cafe tadi.
Papa pergi ke luar sambil menggelengkan kepalanya, sungguh malang nasibmu gus ucapnya dalam hati.
"Pa kita pergi ke depan yuk, sore-sore seperti ini enaknya makan apa ya pa?" ucap mama yang sedari tadi tidak selesai berdan-dan.
"Ya sudah yuk," jawab papa yang sebenarnya malas untuk pergi keluar tapi malas juga kalau harus debat jika menolak.
****
"Mil, kok Santi sekarang jarang main ke rumah ibu ya?" Tanya rara ibunya Santi.
"Mungkin sibuk kali buk." Jawab Mila menenangkan.
"Ibu cuma penasaran dengan misinya yang ingin mencari tahu tentang pembunuh itu, ibu takut terjadi apa-apa lagi."
"Sabar ya buk!"
Ibu kembali termenung hatinya selalu saja tidak tenang, masalah el ia sering menemuinya dan ikut momong juga di rumah baby sitternya, tapi kalau untuk bertemu Santi tidak gampang, ia harus menelpon dulu karena mama mertuanya tidak suka ada tamu sering datang ke rumahnya.
"Kita telpon sekarang aja yuk buk!" Ujar Mila yang tidak tega melihat ibu selalu bersedih hati.
Rumah yang berdekatan tidak menjamin akan gampang bertemu.
"Ya sudah kamu coba, hati ibu mengatakan bahwa anak ibu sedang ada masalah."
Akan tetapi telponnya tidak aktif. Tiba-tiba mereka mendengar suara ketukan pintu dari luar, dan ternyata itu edgar.
Ibu dan mila langsung mengenalinya walaupun sudah lama tidak pernah bertemu dan kini penampilan edgar juga jauh berubah.
"Assalamualaikum. Ibu masih ingat aku ngga?" Ucap edgar yang segera menyalami ibu dan juga mila.
"Eh ada mila juga disini, hai mil apa kabar?" Ucapnya lagi
"Waalaikumsalam. Nak Edgar sidah lama tidak pernah main kesini." Jawab ibu.
"Silahkan duduk." Pinta Mila.
"Sudah banyak yang berubah ya buk!" Ujarnya sambil melihat-lihat ke sekeliling.
"Edgar kesini mau silaturahmi saja buk, dan ini oleh-oleh buat ibu, maaf ya mil buat kamu nanti saja ya nyusul, saya tidak tahu ada kamu juga disini." Edgar menyerahkan beberapa buah tangan yang di belinya khusus untuk ibunya Santi.
__ADS_1
"Terimakasih nak Edgar ibu jadi merepotkan,"
Tak lama mereka mengobrol di temani teh hangat buatan Mila menambah betahnya Edgar berlama-lama di rumah itu.